28 C
Semarang
Senin, 2 Februari 2026

Dari Keraguan Menjadi Keyakinan: Perjalanan Rofiul dan Syaifur Lewat Alfability Menyapa

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Pagi itu, aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang terasa lebih hidup dari biasanya. Di sela-sela kegiatan senam bersama guru SLB Puluhan siswa berseragam pramuka duduk rapi di dalam aula bersiap mengikuti acara dari sekolah, Namun bukan pelajaran tambahan yang menahan mereka di sekolah. Ada sesuatu yang ditunggu, sebuah cerita dan sebuah kebanggan dari dua kakak alumni.

Di antara kerumunan itu, dua sosok dewasa tampak mencolok dengan seragam merah bercorak batik kuning. Mukhamad Syaifur Rochman Fikri (22) dan Muhammad Rofiul Sultan Alghifari (22) membaur dan tersenyum kepada adik-adik mereka. Sosok Syaifur penyandang tunawicara bersama Rofiul penyandang tunagrahita yang kini bekerja di Alfamart. Mereka kembali ke sekolah yang pernah membentuk mereka, untuk berbagi perjalanan hidup yang tidak selalu mudah, namun penuh harapan.

Rofiul membuka sesi dengan cerita yang pelan tapi tegas. Dulu, Ia sekolah sambil bekerja membantu orang tua sebagai penjual makanan frozen food, mengantar pesanan ke warung dekat rumahnya. Hingga suatu hari, ada sebuah lowongan kerja untuk penyandang disabilitas dari pihak sekolah.

“Saya ragu waktu itu saat mengikuti wawancara. Apakah orang seperti saya bisa diterima di Alfamart, namun lebih dari itu saya malah mendapatkan dukungan dari orang tua saya,” ujar Rofiul melalui juru bahasa isyarat yang berada di sisinya saat kegiatan di SLB Negeri Semarang, Jumat (21/11/2025).

Di ruangan itu, sejumlah siswa tampak mengangguk pelan, bukan hanya mendengarkan, tetapi merasakan kegelisahan yang sama. Namun keraguan itu seketika berubah ketika Rofiul mengungkapkan bahwa ia sudah 1 tahun bekerja sebagai karyawan gerai Alfamart.

Kabar itu membuat beberapa siswa spontan menegakkan badan, seolah ada cahaya baru yang masuk ke ruang aula.

“Di Alfamart, saya mengenal dunia kerja, melayani konsumen dan menjalankan tugas seperti karyawan lainnya. Benefit yang saya dapatkan juga sama. Tidak ada perbedaan,” tambah Rofiul kali ini dengan senyum yang sulit disembunyikan.

Baca juga:  Rektor UMS Sampaikan 8 Tuntutan: Siap Dukung Pembangunan Rumah Sakit di Palestina

Suasana di dalam aula perlahan berubah, yang tadinya hening, kini mulai diisi rasa ingin tahu. Tangan-tangan kecil mulai terangkat, pertanyaan pun muncul satu per satu.

Lalu Syaifur melanjutkan. Gerak tangan dan ekspresinya bercerita banyak, diterjemahkan juru bahasa isyarat yang mengikuti temponya. Sudah satu bulan ia bekerja di Alfamart, sebuah pengalaman yang ia sebut sebagai perjalanan yang membuatnya merasa diterima.

“Saya nyaman bekerja di Alfamart. Teman-teman selalu mendukung. Kalau saya kesulitan, mereka membantu dengan cara yang bisa saya pahami,” ungkap Syaifur.

Ada ketenangan dalam caranya bercerita, ketenangan seseorang yang sudah menemukan tempat untuk tumbuh.

Di hadapan Rofiul dan Syaifur, para siswa melihat sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lihat begitu dekat sebelumnya. Masa depan yang mungkin juga bisa mereka genggam. Dan pada siang itu, aula SLB Negeri Semarang bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menjadi ruang kecil di mana harapan tumbuh, pelan-pelan, namun nyata.

*Alfability, Komitmen Inklusivitas dari Alfamart*

Rofiul dan Syaifur adalah dua dari ribuan teman disabilitas yang kini dapat bekerja tanpa perbedaan di Alfamart. Menyambut momentum Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap tiga Desember, Alfamart terus memperkuat komitmennya untuk membuka kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Melalui kegiatan Alfability Menyapa, Alfamart menghadirkan kisah-kisah inspiratif ke berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB). Program ini menjadi jembatan bagi para lulusan SLB yang kini berkarier di Alfamart untuk kembali ke sekolah asal dan berbagi pengalaman kepada adik-adik kelasnya.

Human Capital Director Alfamart, Tri Wasono Sunu, menyebut bahwa kegiatan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berkembang, apa pun keterbatasannya.

“Alfability Menyapa hadir di 10 Sekolah Luar Biasa di 10 kota, membawa cerita para lulusan yang kini bekerja di Alfamart. Kami berharap kisah mereka dapat memotivasi para siswa bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk bersaing dan berkontribusi dalam dunia kerja,” jelas Sunu di tempat terpisah.

Baca juga:  Bapenda Semarang Gandeng Kejaksaan Tagih Penunggak Pajak

Pelaksanaan Alfability Menyapa digelar di sepuluh kota, yakni Cilacap, Jakarta, Jambi, Jember, Luwu, Palembang, Parung, Semarang, Banjarmasin, dan Rembang. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung pada rentang 19 hingga 25 November 2025.

Ia menambahkan, rangkaian kunjungan ini menjadi perjalanan menuju puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember mendatang, sekaligus mempertegas bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata yang berlangsung di Alfamart.

Program Alfability sendiri mulai dijalankan tahun 2016. Mengambil kata Ability yang bermakna kemampuan, program ini merupakan sebuah program inklusi yang memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan potensi mereka untuk berkarya di mana Alfamart menjadi jembatan untuk mewujudkannya.

Selama hampir satu dekade berjalan, program ini telah membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas dari berbagai latar belakang. Hingga Oktober 2025, tercatat 1.129 penyandang disabilitas bekerja di Alfamart, dengan rincian 822 di gerai, 289 di pusat distribusi, hingga 18 bekerja di kantor. *Sementara untuk di Alfamart cabang semarang terdapat 38 karyawan Alfability yang berkarier.*

Mereka hadir dalam lingkungan kerja Alfamart yang inklusif, mulai dari tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, tunaruwi, hingga tunarungu wicara. Keberagaman ini memperlihatkan bagian dari budaya perusahaan yang menghargai potensi setiap karyawan tanpa terkecuali.

Dengan perjalanan panjang tersebut, Alfamart berharap Alfability dapat terus menjadi ruang bagi teman disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, membangun karier, dan berkontribusi secara lebih luas dalam dunia kerja.

Selain menghadirkan kisah-kisah inspiratif bagi para siswa, program ini juga dikemas dengan aksi sosial dari Alfamart melalui pemberian puluhan paket goodie bag berisi biskuit, susu, dan berbagai produk lainnya untuk para peserta. (has/jan)


TERKINI

Rekomendasi

...