JATENGPOS.CO.ID, SOLO- Program Sekolah Rakyat dinilai sebagai inisiatif yang patut didukung penuh karena diyakini dapat memutus rantai kemiskinan, sebuah masalah yang kerap menjadi salah satu penyebab kemunduran bangsa.
Sekolah Rakyat sebagai program pemerintah dengan memberikan pendidikan gratis, berkualitas, dan berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin. Di dalamnya, menyediakan fasilitas modern, kurikulum terintegrasi (akademik, karakter, vokasi), untuk menciptakan generasi cerdas, mandiri, serta mengurangi kesenjangan sosial, sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan membangun SDM unggul Indonesia.
Penegasan ini disampaikan oleh Saiful Hadi, anggota Komisi E DPRD Jateng, saat menjadi narasumber dalam Dialog “Aspirasi Jateng” bertema “Sekolah Rakyat, Entaskan Kemiskinan Rakyat” di TATV, Selasa (25/11/2025). Menurutnya, pendidikan adalah kunci utama untuk mengeluarkan masyarakat dari jerat kemiskinan.
“Program ini harus didukung penuh termasuk dukungan anggaran dari daerah. Untuk menuju Indonesia Emas 2045, jangan ada lagi anak tidak sekolah. Setidaknya untuk jenjang wajib belajar yakni 12 tahun,” ucap Saiful Hadi melalui sambungan Zoom.
Saiful Hadi mengakui bahwa membangun Sekolah Rakyat bukanlah hal mudah, dan saat ini program tersebut masih sebatas rintisan. Namun, ia memastikan Komisi E akan terus memantau perkembangannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jateng, Imam Masykur, menyatakan bahwa Dinas Sosial menjadi pengampu dari program unggulan pemerintah ini. Hingga kini, tercatat sudah ada 14 lokasi rintisan Sekolah Rakyat yang tersebar di 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
“Sampai 2025 ini tercatat ada 1.275 siswa masuk untuk sekolah rakyat. Tersebar di Surakarta, Wonosobo, Banjarnegara, Kota Semarang, Sragen, Pati,” jelas Imam Masykur. Ia menambahkan, pada tahun 2026, Sekolah Rakyat akan langsung dibangun di Cilacap, Sukoharjo, dan Brebes tanpa melalui fase rintisan.
Imam Masykur juga menjelaskan bahwa rintisan ini memerlukan pengawalan program. Sebagai contoh, di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta yang berlokasi di Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso, Jebres, sistem yang diterapkan adalah boarding atau asrama.
Siswanya diambil melalui seleksi ketat berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Selama di asrama, siswa mendapatkan berbagai fasilitas, antara lain: Makan tiga kali sehari dan makanan ringan dua kali. Delapan setel seragam. Satu siswa satu laptop.
Orang tua siswa diberikan kebebasan untuk menjenguk. Dukungan terhadap program ini juga datang dari kalangan akademisi. Siti Supeni dari Unisri mengaku sangat mendukung Sekolah Rakyat, menegaskan bahwa pendidikan tidak lekang dari kehidupan dan akan memberikan kolaborasi yang positif. (nif/muz)




