28 C
Semarang
Sabtu, 24 Januari 2026

Kerja Sama Jateng–Jepang Naik Level, Pekerja akan Dilatih Jadi Manajer

JATENGPOS. CO. ID, JAKARTA – Kerja sama strategis antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Jepang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tidak lagi sebatas penempatan tenaga kerja, kolaborasi kedua pihak kini naik level dengan menyiapkan pekerja asal Jawa Tengah untuk menduduki posisi manajerial atau bos di perusahaan-perusahaan Jepang.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, usai menerima kunjungan kehormatan Gubernur Prefektur Kagawa, Jepang, Ikeda Toyohito, yang membahas penguatan kerja sama sektor ketenagakerjaan, pendidikan vokasi, serta promosi peningkatan investasi Jepang di Jawa Tengah. Berlangsung di Resto Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Januari 2026.

“Pemerintah Prefektur Kagawa menyampaikan ketertarikannya terhadap SDM Jawa Tengah. Bahkan, mereka berharap pekerja dari Jateng tidak hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu, tetapi juga dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi head manager di perusahaan-perusahaan Jepang,” kata Gus Yasin, panggilan akrabnya, mewakili gubernur Jateng Ahmad Luthfi.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi indikator bahwa kualitas dan etos kerja tenaga kerja asal Jawa Tengah semakin diakui di tingkat internasional. Ia menegaskan, kerja sama ini merupakan lompatan penting dari pola lama penempatan tenaga kerja menjadi pengembangan sumber daya manusia berkelanjutan.

Gus Yasin menjelaskan, Jawa Tengah memiliki modal kuat untuk mendukung kebutuhan industri Jepang. Setiap tahun, provinsi ini menghasilkan sekitar 245 ribu lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbagai bidang keahlian strategis. Mulai dari manufaktur, otomotif, konstruksi, pertanian modern, pariwisata, hingga pelayanan keperawatan lansia.

“Kami terus melakukan standarisasi kompetensi, sertifikasi, dan penyelarasan kurikulum pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri global,” ujarnya.

Data penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menunjukkan tren positif. Pada 2024, jumlah PMI asal Jawa Tengah yang bekerja di Jepang tercatat sebanyak 3.760 orang.

Angka tersebut meningkat signifikan pada 2025 menjadi 5.712 orang atau naik sekitar 52 persen. Kenaikan ini menempatkan Jepang sebagai salah satu negara tujuan utama PMI asal Jawa Tengah.

Selain penempatan tenaga kerja ke Jepang, Gus Yasin juga mendorong agar industri-industri Jepang semakin banyak berinvestasi di Jawa Tengah.

Baca juga:  Kuasa Hukum Pelapor Pertanyakan Kejelasan Penanganan Perkara Ujaran Kebencian Berbau SARA di Polda Jateng

Menurutnya, tidak semua masyarakat Jawa Tengah harus bekerja ke luar negeri, sehingga mendekatkan industri Jepang ke dalam negeri menjadi strategi penting untuk membuka lapangan kerja lokal.

“Kami berharap industri-industri Jepang bisa semakin banyak masuk ke Jawa Tengah. Kami siap memberikan dukungan penuh berupa kemudahan investasi,” tegasnya.

Ia menyebutkan, Pemprov Jateng telah menerapkan sistem perizinan Online Single Submission (OSS) berbasis risiko dengan proses yang semakin sederhana.

Selain itu, tersedia pula berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, serta pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku industri manufaktur.

Dari sisi investasi, kinerja Jawa Tengah terus menunjukkan tren positif. Realisasi investasi meningkat dari Rp52,71 triliun pada 2021 menjadi Rp88,57 triliun pada 2025, dan telah melampaui target yang ditetapkan.

Jepang secara konsisten masuk sebagai salah satu investor utama di Jawa Tengah dengan total investasi mencapai Rp24,216 triliun sepanjang 2021–2025, menempatkannya di peringkat ketiga investor terbesar.

Lokasi investasi Jepang tersebar di sejumlah daerah strategis seperti Jepara, Batang, Kota Semarang, Pemalang, dan Kendal, dengan dominasi sektor listrik, gas, dan air, tekstil, kendaraan bermotor, mesin, serta elektronik.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyiapkan sejumlah proyek strategis di bidang energi, industri manufaktur, kawasan pertanian terintegrasi, kawasan perikanan terpadu, dan pariwisata berkelanjutan.

Sementara itu, Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi tenaga kerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, yang saat ini telah mencapai sekitar 4.000 orang dan bekerja di berbagai sektor industri di wilayah Kagawa.

“Saya sangat berterima kasih atas kontribusi tenaga kerja Indonesia di Kagawa. Mereka bekerja dengan baik dan telah menjadi bagian penting dalam mendukung perekonomian daerah kami,” kata Ikeda.

Ia menegaskan, Pemerintah Prefektur Kagawa berkomitmen untuk menjamin tenaga kerja Indonesia yang datang dapat hidup dengan aman dan nyaman selama bekerja di Jepang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan dukungan pendidikan bahasa Jepang sebelum keberangkatan.

Baca juga:  Dodon Desak Bupati Agar Segera Tutup Karaoke

“Sebagai pemerintah daerah, kami ingin memastikan tenaga kerja Indonesia dapat beradaptasi dengan baik. Karena itu, kami berusaha memberikan dukungan pendidikan bahasa Jepang sejak sebelum mereka berangkat,” ujarnya.

Ikeda juga menyampaikan harapannya agar jumlah tenaga kerja asal Jawa Tengah yang bekerja di Kagawa dapat terus meningkat ke depan, seiring dengan semakin baiknya kualitas pendidikan dan pelatihan di Jawa Tengah.

“Kami tidak menetapkan target angka tertentu, tetapi harapan kami adalah akan semakin banyak tenaga kerja dari Jawa Tengah yang datang ke Kagawa,” katanya.

Ia menambahkan, pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik awal penguatan hubungan antara Prefektur Kagawa dan Provinsi Jawa Tengah, yang ke depan akan ditindaklanjuti melalui kerja sama antarpemerintah daerah guna memperluas kolaborasi di bidang ketenagakerjaan dan investasi.

Dari sisi pendidikan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menyiapkan langkah konkret untuk menangkap peluang kerja sama tersebut.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Syamsudin Isnaeni, mengatakan pihaknya menyambut baik terbukanya peluang kerja sama dengan Prefektur Kagawa, khususnya dalam mendukung penyerapan tenaga kerja melalui jalur pendidikan.

“Potensi yang terbuka sangat besar, terutama dari sisi pendidikan yang ke depan dapat mendukung penyerapan tenaga kerja,” ujar Syamsudin.

Ia menegaskan, salah satu kunci utama untuk menangkap peluang kerja di Jepang adalah penguasaan bahasa Jepang bagi lulusan SMA dan SMK yang memiliki minat bekerja di luar negeri.

“Kami akan mulai menyiapkan pelatihan bahasa Jepang, khususnya di SMK, untuk anak-anak yang memang memiliki cita-cita atau keinginan bekerja di Jepang,” katanya.

Syamsudin menjelaskan, program pelatihan bahasa Jepang tersebut akan dilaksanakan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, seiring dengan adanya program Go Global yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pelatihan bahasa di tingkat SMK.

“Program ini juga akan mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Namun sebelum pelatihan, kami lakukan proses identifikasi. Anak harus benar-benar punya keinginan ke Jepang, dan orang tua juga harus mendukung,” pungkasnya.(rit)



TERKINI

Srikandi PLN Hadirkan Ruang Cerita Ibu

Rekomendasi

...