JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Dulu, memantau apakah siswa merokok di area sekolah harus turun langsung, catat manual, lalu membuat laporan memakan waktu lama. Kini cukup buka ponsel di genggaman langsung terdata. Itulah ide di balik Portal Digital Kawasan Tanpa Rokok atau KTR, inovasi kesehatan masyarakat berbasis teknologi yang digagas Suparti, perawat sekaligus koordinator program di Puskesmas Sukamara, Kecamatan Sukamara, Kalimantan Tengah.
Lewat portal cerdas inovasi Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran ini, pemantauan 8 indikator KTR di sekolah-sekolah tidak lagi tertutup dan lambat. Semuanya jadi praktis, terbuka, dan akuntabel.
Proyek ini lahir dari keresahan sederhana, bagaimana memastikan sekolah benar-benar bebas rokok? Wilayah kerja Puskesmas Sukamara luas. Sekolah banyak. Sementara tim nakes terbatas. Data yang masuk sering telat, dan perilaku merokok di kalangan remaja susah terdeteksi sejak dini.
“Dari situlah kami berpikir, bagaimana kalau warga sendiri yang ikut memantau, datanya langsung masuk sistem,” ungkap Suparti kepada Jateng Pos, kemarin.
Disebutkan, berdasarkan laporan tahun 2025, sebanyak 5.112 anak (69,5%) dari kelompok sasaran yang terdiri atas 7.355 remaja telah menjalani skrining. Namun, hanya 54,8% dari 31 sekolah setempat yang secara rutin menerapkan indikator KTR.
Secara khusus, skrining awal terhadap 703 siswa di SMPN 1 Sukamara menunjukkan bahwa 76 siswa (38,4% dari sampel yang tercatat) pernah merokok atau terpapar asap rokok. Warga sekolah cenderung enggan melaporkan pelanggaran karena kekhawatiran terkait privasi atau rasa malu secara sosial, sementara sistem pencatatan manual sebelumnya cenderung pasif dan sering kali mengalami keterlambatan.
Platform digital Duta KTR (Duta Kawasan Tanpa Rokok), yang memanfaatkan Google Sheets dan bot Telegram, diterapkan oleh Suparti untuk mengatasi permasalahan tersebut. Inovasi ini memungkinkan adanya papan peringkat bagi siswa duta, tabulasi digital hasil skrining perilaku merokok yang terhubung dengan zona kadar CO pernapasan (Smokerlyzer), pelaporan pelanggaran yang sepenuhnya anonim, serta komunikasi langsung via WhatsApp dengan Koordinator Program Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Sukamara.
Secara praktis, sebanyak 48 siswa telah dilatih sebagai kader Duta KTR untuk membantu menerapkan pendekatan edukasi sebaya dalam mengawasi 710 siswa di lingkungan kelas.
Pelanggaran aturan di SMPN 1 Sukamara telah berkurang sebagai dampak langsung dari peluncuran portal digital yang digagas dengan melibatkan 48 kader pendidik sebaya. Warga sekolah merasa lebih aman berkat adanya fitur pelaporan anonim secara real-time melalui Telegram.
Hasilnya, tercatat penurunan pelanggaran terhadap kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dari tiga kasus pada bulan Juli (meliputi guru yang merokok, peralatan merokok, dan puntung rokok) menjadi dua kasus pada bulan Agustus dan satu kasus pada bulan September, sebelum akhirnya mencapai kondisi Nol Pelanggaran secara konsisten dari bulan Oktober hingga Desember.
Selain papan peringkat yang menjaga motivasi kader untuk melakukan pemantauan mandiri setiap hari, visualisasi hasil tes Smokerlyzer dan kemudahan akses layanan konseling melalui WhatsApp juga terbukti efektif mencegah siswa mencoba merokok.
Inovasi yang efektif dan gratis ini siap untuk direplikasi di sekolah-sekolah lain di seluruh Kabupaten Sukamara serta menunjukkan nilai penting dari intervensi kesehatan berbasis digital.
Teknik pengembangan inovasi ini yang dirancang sebagai standar pelaksanaan intervensi KTR di fasilitas kesehatan dan institusi pendidikan menggunakan strategi yang sistematis, efektif, dan ekonomis yang didukung teknologi digital serta pendidikan sebaya. Identifikasi masalah dan pemetaan data dasar merupakan langkah awal dalam proses pengembangan ini.
Tahapan selanjutnya, lanjut Suparti, meliputi perancangan arsitektur Portal Digital “Duta KTR” menggunakan bot Telegram dan Google Sheets, pelatihan kader siswa sebagai pendidik sebaya, serta fase evaluasi berkelanjutan secara real-time. Kerangka metodologis ini bersifat adaptif dan fleksibel, sehingga dapat diterapkan di sekolah lain selain SMPN 1 Sukamara maupun dalam konteks masyarakat umum yang menghadapi tantangan serupa dalam penerapan kawasan tanpa rokok. (muz)



