29 C
Semarang
Kamis, 29 Januari 2026

Ngalab Berkah MTQ

JATENGPOS.CO.ID,  – PADA tahun ini Provinsi Jawa Tengah akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional yang direncanakan digelar di bulan September. Sebagai sebuah repetisi sejarah 1979 di mana MTQ dilaksanakan di Kota Semarang.

Dari sudut pandang sejarah, ketika pertama kali diselenggarakan pada 1968 di Makasar, harus diakui tidak lepas dari upaya menciptakan situasi sosial politik yang lebih harmonis dan kondusif, khususnya relasi antara umat Islam dan pemerintah pascaperistiwa 1966.

Meskipun kemudian relasi antara negara dan umat Islam mengalami gelombang surut di era orde baru dan baru kembali mengalami pasang di akhir 1980 an hingga awal 1990 an sebagaimana diungkap oleh William Liddle (1996) sebagai The Islamic Turn.

Gelombang kebangkitan Islam yang ditandai oleh semakin mengemukanya berbagai nilai dan ritual Islam di ruang publik termasuk di dalamnya kelahiran Bank Muamalat dan terbitnya Republika sebagai Bank dan surat kabar Islam pertama di Indonesia. Demikian hanya dengan berbagai kegiatan bernuansa Islam yang mulai marak diselenggarakan di instansi pemerintah.

Berkah MTQ sebagai penyejuk dan penguat relasi pemerintah dan umat Islam tentu memiliki drajat yang berbeda di tengah iklim politik saat ini di mana pemerintah sangat akomodatif terhadap kepentingan umat. Dalam konteks kebangsaan, sudah tentu MTQ menjadi salah satu upaya menghasilkan qori dan qoriah terbaik yang kelak bisa menjadi duta Indonesia di kancah internasional. Sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan sekaligus meneguhkan citra positif Indonesia sebagai negara Muslim.

Dalam konteks keislaman adalah bagian dari syiar Islam dengan berbagai sudut pandangnya. Sebagai tuan rumah, tentu reputasi Jawa Tengahmenjadi pertaruhan sekaligus diharapkan membawa keberkahan yang melimpah. Lazimnya sebuah kompetisi tentu menjadi juara umum adalah satu target yang lumrah. Terlebih posisi tuan rumah sebagai juara umum sudah sering terjadi bahkan menjadi tren.

Baca juga:  Disway: Makam 2 T

Dengan target tersebut sudah tentu, MTQ memiliki peran berlipat dalam meningkatkan kaderisasi dan kualitas seperti halnya qori dan qoriah sesuai dengan cabang yang dilombakan. Waktu yang tersisa mutlak dioptimalkan untuk meraih juara umum. Di sinilah kehadiran, keberpihakan, dan sinergi dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengahdan tingkat kabupaten/kota menjadi sangat urgen.

Reputasi berikutnya menyangkut kemampuan sebagai tuan rumah untuk memberikan pelayanan terhadap ribuan peserta yang hadir dari seluruh penjuru Nusantara. Sukses sebagai tuan rumah dengan salah satu indikator kepuasan para kafilah. Bukankah tuan rumah yang baik adalah mampu memberikan pelayanan terbaik bagi tamu yang hadir.

Oleh karenanya kesiapan infrastruktur dasar dan infrastruktur penunjang menjadisalah satu kunci sukses. Tidak terkecuali aspek sumber daya manusia pendukung. Mengelola event dalam rentang waktu kurang lebih 10 hari dengan ribuan peserta tentu memerlukan kesiapan sumber daya manusia.

Sukses sebagai tuan rumah diharapkan akan membawa berkah yang lebih luas. Dampak ekonomi setidaknya dari akomodasi sudah sangat nyata.

Namun demikian tentu kita mengharapkan lebih dari itu, khususnya berkah lebih bagi ekonomi kerakyatan di Jawa Tengah. MTQ dapat menjadi semacam “pavilion” atau setidaknya etalase bagi beragam produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) Jawa Tengah untuk lebih dikenal secara nasional.

MTQ juga dapat menjadi pemanasan menuju tahapan pembangunan Jawa Tengah tahun 2027 yang menitikberatkan pada pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah. Pemprov dapat menggunakan “ajimumpung” untuk sekaligus mengenalkan potensi pariwisata Jawa Tengah mulai dari wisata religi, kuliner, hingga wisata edukasi yang relevan dengan kegiatan MTQ.

Baca juga:  Balita Meninggal karena Cacing, Antara Negara Abai dan Omong Kosong Menkes

Dalam perspektif edukasi, khazanah kekayaan pesantren-pesantren di Jawa Tengah barangkali perlu untuk disyiarkan. Beragam manuskrip kitab-kitab kuning misalnya, dapat menjadi alternatif untuk dideseminasi selama MTQ digelar.

Kondisi Jawa Tengah pada khususnya dan Indonesia secara umum yang menghadapi degradasi lingkungan, semestinya mampu membawa semangat lahirnya”Green MTQ” atau MTQ yang ramah lingkungan sukur-sukur menjadi momentum untuk membumikan ekoteologi di mana Islam memiliki pondasi kuat.

Islam sebagai rahmatan lil alamin perlu dibumikan dalam program-program lingkungan di mana MTQ menjadi salah satu momentum. Mulai dari penggunaan segala bahan yang eco-friendly hingga menyisipkan rangkai kegiatan yang mengarah pada semangat kelestarian lingkungan bisa menjadi alternatif pembumiannya.

Terakhir, MTQ bukan semata hajat satu atau dua organisasi perangkat daerah atau pemerintah Provinsi Jawa Tengah atau Kota Semarang, melainkan hajat seluruh Jawa Tengah. Dengan demikian kolaborasi seluruh stakholders di semua level menjadi sangat penting.

Mulai dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, Kanwil Kemenag, LPTQ, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, media, dan sektor swasta misalnya. Pada tataran inilah kemudian MTQ bisa menjadi semakin memperkuat rasa kepemilikan terhadap Jawa Tengah, berkah MTQ yang membawa guyub rukun bagi kemajuan dan kesejahteraan Jawa Tengah. (*)

 

Oleh : Wahid Abdulrahman
Wakil Ketua TPPD Jawa Tengah, Dosen FISIP Undip, Ketua LTN PCINU Jerman 2021-2023



TERKINI

Rekomendasi

...

Kunci Sukses Desalinasi Air

Denny Caknan, Sang “Smart Flanker”

Disway: Makam 2 T