28 C
Semarang
Jumat, 20 Februari 2026

Bubur Samin Jayengan, Tradisi WBTB yang Merekatkan Solo

JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, memberikan apresiasi tinggi atas pelestarian tradisi pembagian Bubur Samin khas Banjar yang kembali digelar di Masjid Darussalam Jayengan, Kamis (19/2). Momentum ini terasa spesial karena bertepatan dengan hari pertama Ramadan 1447 H.

Astrid menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar rutinitas berbagi takjil, melainkan identitas budaya Kota Solo yang kuat. Terlebih, pada tahun 2025 lalu, Bubur Samin resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.

“Ini bukti akulturasi budaya Banjar menyatu dengan masyarakat Solo. Pengakuan sebagai WBTB adalah momentum bagi Pemkot untuk memperkuat pelestarian tradisi berbasis komunitas,” ujar Astrid.

Tradisi ini memiliki akar sejarah yang dalam. Dibawa oleh para perantau suku Banjar, Kalimantan Selatan, yang bermukim di kawasan Jayengan sejak abad ke-19 untuk berdagang permata dan emas.

Baca juga:  Festival Rawa Pening 2025 Mendongkrak Potensi Aglomerasi Tiga Lokasi Wisata

Namun, tradisi memasak bubur secara massal untuk masyarakat luas baru dimulai secara konsisten sejak tahun 1985.

Secara filosofis, Bubur Samin mengandung makna kebersamaan dan kesetaraan. Dinamakan “Samin” karena penggunaan minyak samin yang memberikan aroma khas, melambangkan kemewahan rasa yang bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa memandang strata sosial.

Proses memasaknya yang dilakukan secara gotong royong melambangkan solidaritas (ukhuwah) yang erat antarwarga.

Takmir Masjid Darussalam, Noor Cholis, mengungkapkan pembagian Bubur Samin untuk masyarakat sudah dilakukan rutin sejak tahun 1965. Pada awalnya, Bubur Samin hanya dibagikan untuk warga Jayengan yang mayoritas merupakan perantau asal Kalimantan Selatan.

Seiring berjalannya waktu, jemaah Masjid Darussalam ini semakin banyak, sehingga porsinya ditambah untuk masyarakat umum. Setiap hari Bubur Samin dibuat dari
50 kilogram beras. Jumlahnya bisa untuk 1.500 porsi.

Baca juga:  Sanggar SKWL Nusantara, Beri Ruang Generasi Muda Boyolali Lestarikan Budaya

” Dibagikan untuk masyarakat umum 1.200 porsi, sisanya untuk takjil berbuka puasa bersama di masjid,” beber Noor.

Proses dapur yang dimulai pukul 11.00 WIB ini membutuhkan bahan baku yang tidak sedikit: Beras: 40–50 kilogram. Daging Sapi, ±4 kilogram. Bumbu: Santan, wortel, bawang bombay, serta racikan rempah nusantara. Biaya Operasional, mencapai ±Rp3 juta per hari.

Cita rasa gurih dan aroma rempah yang kuat menjadi daya tarik utama yang membuat warga rela mengantre panjang setiap tahunnya.

Fenomena di Jayengan ini adalah wajah asli Solo sebagai kota yang toleran dan beragam. Astrid berharap generasi muda mulai mengambil peran dalam pelestarian ini agar warisan puluhan tahun tersebut tidak terhenti.(dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...