JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Penjualan eceran di Kota Semarang menunjukkan tren meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Hal itu tercermin dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada awal 2026 yang mengalami kenaikan signifikan.
Deputi Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari H mengatakan, pada Januari 2026 IPR secara tahunan tumbuh sebesar 16,97 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penjualan sejumlah kelompok barang.
“Pertumbuhan IPR terutama ditopang peningkatan penjualan pada kelompok barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesoris, serta makanan, minuman dan tembakau,” ujarnya.
Selain secara tahunan, kinerja penjualan eceran juga mengalami peningkatan secara bulanan. Pada Januari 2026, IPR tercatat tumbuh 19,21 persen secara month to month (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,69 persen.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kelompok barang makanan, minuman dan tembakau yang tumbuh 28,82 persen. Selain itu, penjualan barang budaya dan rekreasi meningkat 13,48 persen serta peralatan informasi dan komunikasi tumbuh 2,74 persen.
Andi Reina menambahkan, kinerja penjualan eceran diperkirakan tetap meningkat pada Februari 2026. Secara tahunan, penjualan eceran diprakirakan tumbuh 10,14 persen.
“Peningkatan ini didorong oleh prakiraan pertumbuhan penjualan barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesoris, serta subkelompok sandang,” katanya.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 juga diprakirakan meningkat 11,25 persen. Pertumbuhan tersebut diperkirakan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, subkelompok sandang, serta kelompok barang lainnya.
Ia menjelaskan, peningkatan penjualan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga memprakirakan tekanan inflasi di Kota Semarang dalam beberapa bulan ke depan cenderung menurun. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk April dan Juni 2026.
IEH April 2026 tercatat sebesar 156,8 atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 181,58. Sementara itu, IEH Juni 2026 tercatat sebesar 167,11 atau menurun dibandingkan sebelumnya sebesar 176,3.
Penurunan ekspektasi harga tersebut sejalan dengan prakiraan meningkatnya pasokan komoditas pada periode panen yang diperkirakan berlangsung pada April hingga Juli 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Lebaran.(aln)














