27.3 C
Semarang
Senin, 30 Maret 2026

Doa untuk Nusantara, Samuel Wattimena Ajak Jaga Perdamaian




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kondisi Indonesia agar tetap damai, menjadi poin utama yanh disampaikan Samuel Wattimena nggota Komisi VII DPR RI, usai mengikuti Doa Untuk Perdamaian Nusantara, di Banteng Fort Willem Ambarawa Kab Semarang, belum lama ini.

Di hadapan para  tokoh lintas agama, budayawan dan anggota komunitas,Samuel mengaku senang, karena dapat terlibat dalam kegiatan doa bersama para tokoh lintas agama, yang diawali dengan kirab budaya.

“Inilah bukti nyata dari para tokoh lintas agama) yang bersatu kemudian kita berprosesi untuk berkumpul dan berdoa bersama,” ujarnya.

Dijelaskan, bahwa doa bersama tersebut, untuk nusantara yang sedang tidak baik-baik saja dan bukan hanya para tokoh agama.


“Doa bersama tadi, juga dihadiri masyarakat yang dengan khusuyuk berdoa dengan caranya masing-masing, untuk keadaan Indonesia saat ini, agar kita sama-sama mewujudkan ketentraman di hati,” terangnya.

Baca juga:  Dilantik, Ketua ILDI Kabupaten Semarang Bawa Olahraga Langkah Dansa Makin Dikenal

Samuel juga mengungkapkan, beberapa kunci untuk menjaga perdamaian di Indonesia dengan cara selalu bersyukur, rasa empati dan suka cita.

“Menurut saya dengan sukacita yang terbangun, kita kemudian mendapatkan berkah dan hikmat dari semesta dan kita pasti akan mendapatkan kepekaan di dalam diri kita masing-masing,” imbuhnya.

Selain doa bersama, dalam kirab budaya yang dilaksanakan di Benteng Fort Willem tersebut, menjadi sebuah kolaborasin kegiatan sangat positif.

“Apa yang terjadi di masa lalu, bahwa budaya yang sudah ada jangan lepas dari masyarakat atau generasi muda saat ini,” tandas samuel.

Ia juga meminta kepada generasi muda, jangan menilai bahwa kirab dan kegiatan budaya adalah hanya sekedar prosesi pengingat masa lalu saja.

Baca juga:  Bantu Masyarakat, Dinlutkan Lakukan Pembibitan Ikan Lele dan Nila

Samuel juga menegaskan, justru yang masa lalu itu, menghampiri yang muda untuk mengajak melakukan kirab tersenut dengan pemahaman berbagai kultur kebudayaan.

“Jika generasi muda sudah senang dengan budaya lokal, maka mereka akan menggelar kirab atau kegiatan budaya lainnya sesuai versi mereka. Kebudayaan ini akan terus berjalan untuk dimasa sekarang dan masa yang akan datang,” pungkas Samuel Wattimena.

Pada sesi Doa Untuk Perdamaian Nusantara dilakukan secara bergantian dengan cara masing – masing yang dibacaian oleh para perwakilan tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Khonghucu serta penganut Kepercayaan.

Kemudian, usai doa bersama, sebagai simbol persatuan antar umat beragama,  juga diakhiri dengan pelepasan lampion ke ruang terbuka (langit). (ucl/rit)




TERKINI




Rekomendasi

...