29.8 C
Semarang
Jumat, 3 April 2026

PELNI Genjot Optimalisasi 158 Aset, Kurangi Ketergantungan PSO




 

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) mulai menggenjot optimalisasi aset untuk meningkatkan pendapatan non-angkutan. Upaya ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap skema subsidi Public Service Obligation (PSO).

 

Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT PELNI, Nuraini Desy W mengatakan, sebanyak 158 aset telah didata sejak 2024 dan dipetakan potensinya. Aset tersebut mencakup fungsi operasional serta komersial yang tersebar di berbagai daerah.


 

Ia menyebut, sekitar 14 persen aset masih dalam kondisi belum optimal atau idle. PELNI kini membuka peluang kerja sama seluas-luasnya untuk mengkomersialkan aset tersebut.

 

“Kami membuka pintu lebar-lebar untuk kerja sama komersial agar aset yang belum optimal bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

 

Desy menambahkan, terdapat lima lokasi yang menjadi target optimalisasi tahun ini, yakni Belawan, Padang, Semarang, Balikpapan, dan Ternate. Di Semarang, PELNI bahkan tengah merenovasi gedung yang akan dimanfaatkan sebagai ruang usaha.

Baca juga:  JNE Sambut Sirilus Siko, Ksatria JNE Surabaya

 

“Di Semarang yang baru saja berjalan ini pemanfaatan untuk F&B, dan segera menyusul untuk coffee shop yang keduanya berada di Kawasan Kota Lama,” imbuhnya.

 

Ia menjelaskan, kerja sama dilakukan dengan berbagai sektor seperti minimarket, coffee shop, hingga pelaku usaha food and beverage. Selain itu, sejumlah aset juga disewakan sebagai perkantoran.

 

“Kontribusinya memang belum terlalu besar, tapi minimal aset yang sebelumnya tidak produktif sudah mulai menghasilkan,” katanya.

 

VP Komersial PT PELNI, Berryl A Insanul Firdaus menambahkan, komersialisasi juga dilakukan pada aset kapal. PELNI mulai memanfaatkan badan kapal sebagai media iklan dan membuka peluang branding di dalam kapal.

 

Baca juga:  PLN Siapkan Tim PDKB Go Internasional

Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari transformasi bisnis menuju peningkatan pendapatan komersial. Namun kontribusinya saat ini masih relatif kecil dibandingkan bisnis utama perkapalan.

 

“Proporsi pendapatan dari aset komersial masih di bawah 10 persen dibandingkan bisnis perkapalan,” jelasnya.

 

Berryl menuturkan, PELNI juga menggandeng UMKM untuk mengisi ruang usaha di berbagai aset yang dimiliki. Hal ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan utilisasi aset.

 

Ia menambahkan, peluang kerja sama juga terbuka bagi brand besar, meski tetap mempertimbangkan kesesuaian lokasi. Proses pemilihan mitra dilakukan secara selektif agar memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

 

“Ini seperti mencari jodoh, harus cocok antara mitra dengan lokasi aset yang kami miliki,” tandasnya.(aln)




TERKINI




Rekomendasi

...