30.9 C
Semarang
Selasa, 14 April 2026

Grow+ (Gerakan Reflektif Dan Optimalisasi Wawasan Berbasis Pembelajaran Mendalam)




Rowi Jayanti, S.Pd,.M.Pd.
Kepala SD Negeri Kaligangsa 1 Kota Tegal

JATENGPOS.CO.ID-Penurunan capaian literasi dan numerasi menjadi sinyal penting bagi SD Negeri Kaligangsa 1 Kota Tegal untuk berbenah. Data Rapor Pendidikan 2024 menunjukkan literasi turun dari 90 menjadi 63,16 dan numerasi dari 76 menjadi 42,11. Indikator lain seperti manajemen kelas, refleksi pembelajaran, dan partisipasi guru dalam pengembangan profesional juga mengalami penurunan signifikan. Di sisi lain, praktik pembelajaran masih cenderung berpusat pada guru, asesmen diagnostik belum optimal, serta pembelajaran berdiferensiasi belum diterapkan secara konsisten. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara arah kebijakan pendidikan nasional dengan praktik nyata di kelas, padahal kebijakan Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan berbasis kebutuhan belajar.

Akar permasalahan tidak hanya terletak pada capaian siswa, tetapi juga pada sistem yang belum mendukung perubahan secara menyeluruh. Supervisi akademik masih bersifat administratif, komunitas belajar guru belum berjalan optimal, dan pemanfaatan data belum menjadi dasar pengambilan keputusan. Padahal, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menegaskan bahwa Rapor Pendidikan harus menjadi rujukan utama dalam perencanaan berbasis data di satuan pendidikan. Tanpa pemanfaatan data yang kuat, program peningkatan mutu berisiko tidak tepat sasaran.

Menjawab tantangan tersebut, lahirlah program GROW+ (Gerakan Reflektif dan Optimalisasi Wawasan Berbasis Pembelajaran Mendalam) sebagai inovasi kepemimpinan pembelajaran berbasis data. Program ini diawali dengan perencanaan berbasis data melalui kegiatan bedah Rapor Pendidikan dan asesmen diagnostik. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong pengambilan keputusan berbasis bukti agar intervensi pendidikan lebih efektif dan terarah.

Baca juga:  Guru vs. Robot: Saatnya Lompat dari 'Mengajar' ke 'Membangun Penjelajah Belajar'

Pada tahap pelaksanaan, transformasi dilakukan melalui enam strategi utama. Pertama, supervisi akademik berbasis coaching dengan model GROW (Goal, Reality, Options, Will). Pendekatan ini sejalan dengan pandangan John Whitmore yang menyatakan bahwa coaching efektif dalam mengembangkan potensi individu melalui refleksi dan kesadaran diri, bukan sekadar instruksi. Kedua, penguatan komunitas belajar guru (Professional Learning Community/PLC). Hal ini didukung oleh pemikiran Hargreaves dan Fullan yang menekankan bahwa kolaborasi guru merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.


Ketiga, implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan mendalam. Carol Ann Tomlinson menjelaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan guru menyesuaikan strategi dengan kebutuhan, minat, dan kesiapan belajar siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Sementara itu, konsep pembelajaran mendalam selaras dengan gagasan bahwa siswa perlu terlibat aktif dalam proses berpikir kritis dan pemecahan masalah, bukan sekadar menerima informasi. Keempat, penguatan budaya refleksi dan umpan balik. John Hattie dalam risetnya menegaskan bahwa umpan balik merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

Kelima, optimalisasi teknologi sebagai pendukung pembelajaran. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan transformasi digital pendidikan yang mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan akses pembelajaran. Keenam, monitoring dan evaluasi berkelanjutan berbasis data, yang sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah dan siklus perbaikan berkelanjutan.

Baca juga:  Belajar Kisah Keteladanan Walisongo dengan Model Group Investigation

Hasil implementasi GROW+ menunjukkan perubahan signifikan. Sebanyak 85% guru telah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, dan 90% aktif dalam komunitas belajar. Indikator kualitas pembelajaran meningkat dari 66,13 menjadi 74, sementara manajemen kelas naik menjadi 73,41. Kompetensi reflektif guru juga meningkat secara signifikan. Dari sisi siswa, capaian literasi meningkat menjadi 75,86 dan numerasi menjadi 72,41. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data dan refleksi mampu mendorong perbaikan nyata dalam proses dan hasil belajar.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan memerlukan kepemimpinan pembelajaran yang adaptif dan berbasis data. Sejalan dengan pemikiran Peter Senge, organisasi pembelajar akan berkembang ketika individu di dalamnya terus belajar, berkolaborasi, dan melakukan refleksi secara berkelanjutan. Selain itu, regulasi nasional juga menegaskan pentingnya peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan perubahan di satuan pendidikan.

Dengan demikian, GROW+ bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan transformasi yang didukung oleh kebijakan, teori, dan praktik terbaik pendidikan. Dari data yang dianalisis secara kritis, kolaborasi yang dibangun secara kolektif, hingga refleksi yang dilakukan secara berkelanjutan, GROW+ menjadi bukti bahwa perubahan nyata dapat diwujudkan. Pembelajaran tidak lagi sekadar berlangsung, tetapi benar-benar bermakna dan berdampak bagi masa depan peserta didik.




TERKINI




Rekomendasi

...