JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Di tengah prioritas pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan nasional, inovasi pertanian mandiri mulai menjamur di tingkat desa. Salah satunya dikembangkan oleh Agus Sulistiyanto, warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang memanfaatkan metode hidroponik untuk budidaya sayuran.
Meski bukan sepenuhnya organik, Agus menyebut sistem hidroponik jauh lebih sehat karena sangat minim penggunaan pestisida dan fungisida. Hal ini dikarenakan tanaman yang tidak bersentuhan langsung dengan media tanah cenderung lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit.
‘’Hidroponik sebenarnya tidak benar-benar organik karena masih memakai pupuk cair pada instalasi airnya. Namun, tanaman ini dipastikan minim obat-obatan kimia karena kebersihannya terjaga,’’ ujar Agus, saat ditemui di sela kesibukannya,
Saat ini, Agus memfokuskan produksinya pada komoditas selada. Di kediamannya, ia telah membangun instalasi air dengan total 1.500 lubang tanam. Dari luasan tersebut, ia mampu menghasilkan panen yang cukup stabil untuk memenuhi pasar lokal.
‘’Dari 1.500 lubang tanam pembesaran, saat ini saya baru bisa menghasilkan sekitar 50 kilogram selada per minggu,’’ ungkapnya.
Secara ekonomi, sayuran hidroponik memiliki nilai tawar yang jauh lebih tinggi dibanding sayuran konvensional. Agus membeberkan bahwa harga selada hidroponik bisa mencapai Rp 20-25 ribu per kilogram, selisih cukup banyak dibanding selada tanah yang biasanya berkisar Rp 10-15 ribu per kilogram.
Kualitas visual yang lebih bersih dan daya tahan sayur menjadi alasan utama konsumen beralih ke hidroponik. Selada miliknya diklaim mampu bertahan tiga hingga empat hari di suhu ruang setelah panen tanpa layu.
‘’Pembeli biasanya langsung datang, tanpa melalui tengkulak. Distribusinya saat ini banyak menyasar pelaku UMKM dan SPPG di wilayah Kudus. Mereka lebih suka karena lebih segar dan bersih,” tambahnya.
Meski menjanjikan, Agus tak menampik adanya tantangan teknis, terutama ketergantungan pada energi listrik. Karena nutrisi dialirkan melalui pompa, kondisi mati lampu menjadi momok bagi petani hidroponik.
“Kalau listrik padam, air harus dialirkan manual atau pakai genset agar tanaman tidak layu. Itu tantangan utamanya,” pungkasnya. (han/rit)













