30.3 C
Semarang
Jumat, 8 Mei 2026

Warga Sekitar TPS3R Tegalrejo Keluhkan Merebaknya Lalat dan Bau Tak Sedap




JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Perwakilan warga sekitar Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle ( TPS3R) Tegalrejo mengeluhkan meningkatnya populasi lalat dan aroma tidak sedap di TPS3R Tegalrejo. Padahal di sekitar tempat tersebut merupakan pemukiman warga dan juga tempat kuliner.

Keluhan ini disampaikan warga saat acara“Curhat Bareng Mas Wali” yang digelar Diskominfo di Pendopo Pakuwon, Jumat (08/05/2026). Forum ini menjadi wadah dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat guna mencari solusi atas berbagai persoalan di Kota Salatiga secara terbuka, transparan, dan penuh suasana kekeluargaan.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Salatiga dr Robby Hernawan Sp.O.G menegaskan bahwa lalat merupakan vektor pembawa penyakit yang harus segera dikendalikan melalui langkah antisipatif yang serius.Ia menginstruksikan agar ke depan tidak ada lagi sampah organik yang masuk ke TPS3R, karena pengolahan sampah organik seharusnya sudah diselesaikan di tingkat sumber atau rumah tangga.

Baca juga:  Sinoeng Ajak Pasukan Orange Rayakan Adipura

Sebagai langkah inovatif, Robby mendorong penggunaan teknologi tepat guna berupa jebakan lalat (flytrap) sederhana berbahan botol plastik bekas. Ia meminta dinas terkait berkolaborasi dengan SMK di Kota Salatiga untuk memproduksi alat tersebut tanpa harus menunggu perubahan anggaran.
“Kalau langkah pengendalian sampah dan pemasangan flytrap sudah dilakukan tetapi kondisi masih darurat, baru Dinas Kesehatan turun untuk pengendalian faktor secara menyeluruh,” tegasnya.

Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan dampak pembangunan Exit Tol Patimura terhadap akses usaha masyarakat. Salah satunya Warung Bu Qori yang akses jalannya ” tertutup” karena pembangunan exit tol.

Menanggapi hal itu, Robby secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas dampak ekonomi yang dirasakan warga akibat pembangunan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pembangunan dilakukan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat luas, pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap dampak yang dirasakan masyarakat secara individu.

Baca juga:  Hari Pers Nasional bersama Polres, Wartawan Siap Kawal Pemilu Damai

Robby menegaskan bahwa solusi yang diberikan pemerintah harus lebih mengedepankan fasilitasi dibandingkan kompensasi finansial. Sebagai alternatif, ia menawarkan pemanfaatan kios kosong di Taman Wisata Sejarah Salatiga (TWSS) bagi pelaku usaha terdampak.

Ia juga telah menginstruksikan dinas terkait untuk segera memfasilitasi proses tersebut agar masyarakat tetap dapat menjalankan usahanya dengan layak.

Melalui kegiatan “Curhat Bareng Pak Wali”, Pemerintah Kota Salatiga berharap komunikasi antara pemerintah dan masyarakat terus terjalin dengan baik, sehingga setiap persoalan pembangunan dapat diselesaikan melalui solusi yang tepat dan saling menguntungkan bagi semua pihak.( deb)




TERKINI




Rekomendasi

...