JATENGPOS.CO,ID, SEMARANG – Bahasa Inggris telah menjadi bahasa internasional yang berperan penting dalam dunia pendidikan, teknologi, dan dunia kerja. Kemampuan berbahasa Inggris tidak hanya mendukung akses terhadap sumber pengetahuan global, tetapi juga meningkatkan daya saing individu dalam menghadapi tuntutan pasar kerja yang semakin terbuka dan kompetitif.
Di Indonesia, keterampilan berbahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar dan masyarakat umum. Sebagian besar pembelajar hanya menguasai bahasa Inggris pada tingkat dasar, sehingga kesulitan memanfaatkannya untuk studi lanjut maupun keperluan profesional. Padahal, kemampuan membaca teks akademik, menulis laporan, berkomunikasi dalam presentasi, maupun memahami instruksi kerja berbahasa Inggris merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan.
Hal tersebut melatarbelakangi dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat “Bahasa Inggris untuk Belajar serta Bekerja”. Keduanya, Dr. Dwi Wulandari,, S.S., M.A dan Mytha Candria, S.S., M.A., M.A menyusun program pengabdian dalam rangka menjawab kebutuhan tuntutan pasar kerja yang kian kompetitif.
Program tersebut dilaksanakan dan diikuti siswa MAN 2 Kudus. Melalui kegiatan tersebut, peserta dibekali keterampilan praktis berbahasa Inggris yang relevan dengan dua konteks utama. Yaitu, Belajar dan Bekerja. Belajar berarti, kemampuan memahami teks akademik, menulis tugas, dan mengakses sumber pengetahuan internasional. Sedangkan Bekerja, artinya, kemampuan berkomunikasi dalam lingkungan kerja, menulis email profesional, membuat laporan, dan melakukan presentasi.
“Dalam belajar Bahasa Inggris, prodi sastra Inggris juga memberikan pemintan pada pembelajaran linguistik. Belajar linguistik adalah seperti membuka pintu menuju dunia yang selama ini kita gunakan setiap hari, tetapi jarang kita sadari sepenuhnya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan pikiran, budaya, dan identitas manusia,” terang Mytha Candra.
Dijelaskan, ketika seseorang mulai mempelajari linguistik, ia akan menemukan bahwa setiap kata memiliki struktur, setiap kalimat memiliki pola, dan setiap bahasa memiliki logika tersendiri. Hal ini membuat linguistik menjadi bidang yang sangat menarik, karena kita belajar memahami sesuatu yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan kehidupan kita.
“Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya pelajar dan tenaga kerja, untuk meningkatkan kapasitas diri, memperluas peluang, serta berkontribusi lebih optimal dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Selain itu juga untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada siswa MAN 2 Kudus terkait adanya peminatan linguistik pada prodi Sastra Inggris,” ujarnya.
Sedangkan Dwi Wulandari menjelaskan, program pengabdian masyarakat ini dirancang dengan pendekatan partisipatif dan aplikatif, sehingga siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berlatih dan menerapkan keterampilan bahasa Inggris dalam konteks nyata.

Para dosen dari Sastra Inggris ini menyusun modul sosialisasi yang terbagi dalam dua fokus utama, yakni, Bahasa Inggris untuk Belajar: membaca teks akademik, menulis tugas, membuat presentasi; Bahasa Inggris untuk Bekerja: menulis email profesional, laporan singkat, percakapan kerja, presentasi bisnis; dan peminatan linguistik dalam memberi pemahaman lebih jauh terkait kajian bahasa.
Adapun pelaksanaan dilakukan dalam bentuk workshop interaktif, simulasi, dan praktik langsung. Metode yang digunakan:1) Communicative Language Teaching (CLT) untuk melatih komunikasi nyata; 2) Task-Based Learning dengan tugas-tugas spesifik sesuai kebutuhan peserta; 3) Peer Learning untuk mendorong kolaborasi dan saling koreksi; 4) Evaluasi dan Refleksi menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan kemampuan. Peserta juga diminta membuat refleksi singkat tentang pengalaman belajar: dan 5) Pengenalan peminatan linguistik.
“Kami juga melakukan metode Pendekatan melalui praktik langsung: simulasi situasi akademik dan dunia kerja. Serta diskusi kelompok: memperkuat keterampilan berbicara dan mendengar,” pungkasnya. (bis/rit)













