Pengembangan Keterampilan Membaca Bahasa Inggris dengan Edbot.ai




 

Yuni Astuti Dewi Wulandari, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 23 Semarang
Mahasiswi Program Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa, UNNES

JATENGPOS.CO.ID-Lanskap pendidikan global saat ini tengah mengalami transformasi digital yang masif akibat perkembangan Kecerdasan Buatan (AI). Di Indonesia, tantangan pengajaran bahasa Inggris sering kali terbentur pada metode konvensional yang berfokus pada penghafalan mekanis dan pemahaman pasif. Dalam hal ini, seiring dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang telah memberlakukan Kurikulum Merdeka, sangat menekankan pada literasi digital dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Meskipun sekolah menengah pertama negeri (SMP) kerap menghadapi hambatan struktural, seperti ukuran kelas besar yang melebihi 32 siswa. Kondisi heterogen ini terkadang menyulitkan guru untuk memantau kemajuan individu, yang pada akhirnya memicu penurunan minat baca dan lonjakan rasa bosan di kalangan remaja. Merespons isu tersebut, penulis melakukan penelitian di SMP Negeri 23 Semarang selama dua semester pada Tahun Ajaran 2025/2026 untuk mengeksplorasi integrasi platform berbasis permainan (gamifikasi) bernama Edbot.ai.

Sebagai Agen Pembelajaran Interaktif, Edbot.ai yang dikembangkan oleh Solve Education, merupakan perangkat lunak berbasis permainan yang didukung oleh AI untuk meningkatkan pemahaman membaca bahasa Inggris. Platform ini menyediakan kuis terpersonalisasi, obrolan AI yang adaptif, serta mekanisme umpan balik instan. Melalui pendekatan Content and Language Integrated Learning (CLIL), platform ini menggabungkan berpikir komputasional dengan penguasaan bahasa. Sebagai mitra belajar yang ramah seluler, Edbot.ai mengubah latihan teks yang monoton menjadi pengalaman bermain game yang imersif guna mengurangi kelelahan membaca siswa. Berkat integrasi cloud penuh, guru dapat menyelaraskan rencana pelajaran digital secara langsung dengan standar Kurikulum Merdeka.

Baca juga:  Remote Control Car Race and Fun Science

Tiga Fase Implementasi telah dilakukan di Ruang Kelas. Kemudian integrasi Edbot.ai di kelas uji coba (Kelas 9F) dilaksanakan melalui tiga fase operasional yang terstruktur, yaitu : 1) Fase Familiarisasi (Pengenalan). Siswa melakukan orientasi awal, belajar menavigasi antarmuka digital, membuat profil, dan mencoba permainan membaca tingkat dasar; 2)Fase Pemahaman Berbasis Tugas. Siswa membaca teks langsung dari layar ponsel, yang kemudian diikuti oleh perintah pemahaman otomatis dari mesin AI untuk analisis teks dan kosakata secara real-time, dan 3) Fase Asesmen (Penilaian). Edbot.ai melakukan pelacakan diagnostik otomatis untuk mengklasifikasikan tingkat membaca siswa (pemula, menengah, mahir) serta memetakan celah kebahasaan mereka.

Dampak Positif terhadap Psikologis dan Keterampilan Siswa nyata adanya. Penerapan Edbot.ai membawa perubahan psikologis yang mendalam. Sebanyak 83% siswa melaporkan peningkatan motivasi internal untuk menghadiri kelas membaca bahasa Inggris. Berdasarkan instrumen Foreign Language Classroom Boredom Scale (FLAS), terjadi penurunan rasa bosan membaca sebesar 51% pada kelas uji coba. Sebaliknya, kelas kontrol yang tetap menggunakan metode tradisional berbasis teks menunjukkan tingkat kebosanan yang stabil atau bahkan meningkat. Selain aspek psikologis, skor pemahaman membaca siswa juga meningkat signifikan yang dipicu oleh tiga fitur unggulan platform, yaitu: 1) Praktik Diagnostik dan Adaptif. Edbot.ai menyesuaikan kompleksitas teks dengan kecepatan belajar individu guna mencegah rasa frustrasi atau jenuh; 2) Integrasi Kompetensi Holistik. Tugas membaca dikaitkan langsung dengan pembangun kosakata dan tata bahasa kontekstual; serta 3) Mekanisme Insentif. Penerapan kerangka kerja GAIN memungkinkan siswa mengumpulkan poin dan membuka poin mikro agar tetap konsisten belajar.

Baca juga:  Kenali Bilangan dengan Media Ikan di Aquarium

Dapat disimpulkan bahwa terjadi pergeseran peran guru, yang semula dari pengajar menjadi dirigen inovasi. Kehadiran Edbot.ai tidak serta-merta menggantikan peran pendidik manusia. Sebaliknya, teknologi ini memicu evolusi peran guru dari sekadar “Penyampai Pengetahuan” konvensional menjadi “Dirigen Inovasi” yang strategis. Dengan mendelegasikan tugas berulang seperti pemeriksaan kosakata dan penilaian awal kepada Edbot.ai, guru mendapatkan lebih banyak waktu untuk memandu diskusi tingkat tinggi, debat kritis, dan latihan logika kolaboratif antar siswa. Secara keseluruhan, studi kasus di SMP Negeri 23 Semarang ini membuktikan bahwa penggabungan antara otomatisasi AI dan pengajaran kolaboratif yang dipimpin oleh guru menghasilkan model pendidikan bahasa Inggris yang adaptif, efektif, dan siap menghadapi masa depan.

Oleh :

Yuni Astuti Dewi Wulandari, S.Pd., M.Pd.

Guru SMP Negeri 23 Semarang

Mahasiswi Program Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa, UNNES




TERKINI




Rekomendasi

...