Lima Tari Srimpi Karya Raja Surakarta Didokumentasikan dalam Buku dan Audio Visual




JATENGPOS.CO.ID, SOLO- Upaya penyelamatan tari klasik Keraton Surakarta kembali mendapat ruang penting melalui kegiatan diseminasi Inventori Tari Srimpi: Kurasi dan Dokumentasi Tari Karya Raja Surakarta. Acara yang digelar Komunitas Budaya Karangjati Nyawiji di Sasana Handrawina, Kraton Surakarta Hadiningrat, pada 10 Mei 2026 itu menjadi momentum peluncuran hasil pendokumentasian lima Tari Srimpi karya raja-raja Surakarta.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro Tahun Anggaran 2024. Diketahui, dana Indonesiana sangat mendukung upaya kurasi, inventori, dan regenerasi tari klasik Keraton Surakarta ini.

“Program ini diarahkan untuk mendokumentasikan pengetahuan budaya yang rawan hilang, khususnya tari klasik kraton yang selama ini hidup melalui transmisi lisan, praktik langsung, dan ingatan para maestro”, ujar Pimpinan produksi, Tri Wijatmono.

Lima karya tari yang didokumentasikan adalah Srimpi Ludira Madu, Srimpi Lobong, Srimpi Gondokusumo, Srimpi Wursita Rukmi, dan Srimpi Anglir Mendung. Hasil pendokumentasian diwujudkan dalam dua bentuk, yakni buku tekstual dan dokumentasi digital audio visual. Keduanya disusun sebagai arsip pengetahuan sekaligus rujukan bagi generasi mendatang.

Baca juga:  Akibat Pandemi COVID-19, Angka Kemiskinan di Boyolali Mencapai 10,18 Persen

Acara diseminasi dibuka dengan pementasan Srimpi Lobong oleh empat penari muda Kraton Surakarta. Perwakilan dari Kraton Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau yang biasa disapa dengan Gusti Moeng, menyampaikan bahwa pertunjukan tari Srimpi Lobong tersebut menjadi pembuka rangkaian acara yang kuat karena menghadirkan langsung generasi muda kraton, sekaligus memperlihatkan bahwa proses regenerasi tari klasik masih terus diupayakan. Para penari muda itu juga memiliki garis keturunan dengan keluarga raja-raja Surakarta.

Ketua Komunitas Budaya Karangjati Nyawiji, Muhtar Widiyanto, mengatakan bahwa pendokumentasian Tari Srimpi tidak hanya bertujuan menghasilkan arsip, tetapi juga menghidupkan kembali percakapan publik tentang pentingnya pelestarian tari klasik.

Selaras dengan yang disampaikan oleh Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum menyatakan bahwa karya para raja Surakarta memiliki nilai budaya, sejarah, dan pendidikan yang sangat besar sehingga melalui kegiatan ini kementerian kebudayaan ingin memastikan pelestarian warisan cagar budaya tidak terputus.

Peserta diseminasi berasal dari berbagai unsur, mulai dari abdi dalem Kraton Surakarta, akademisi, penari kraton, pegiat budaya, hingga siswa-siswi SMK Negeri 8 Surakarta. Pelibatan generasi muda menjadi bagian penting dari program ini karena keberlanjutan tari klasik sangat bergantung pada lahirnya penari, peneliti, dan apresiator baru.

Baca juga:  Sepuluh Pegawai Positif Covid-19, Kantor Kecamatan Jebres Lockdown

Selain peluncuran hasil dokumentasi, kegiatan diseminasi ini juga diisi diskusi budaya dan bedah buku. Forum tersebut membahas proses kurasi, metode pendokumentasian, konteks sejarah, serta tantangan menjaga pakem Tari Srimpi di tengah perubahan zaman. Bedah buku juga menjadi ruang bagi akademisi, praktisi, dan abdi dalem untuk saling memperkaya pandangan tentang strategi pelestarian.

Pimpinan produksi kegiatan, Tri Wijatmono, menyampaikan bahwa dokumentasi audio visual dilakukan untuk menangkap detail gerak, iringan, pola lantai, tata busana, serta ekspresi tari secara lebih utuh. Menurutnya, rekaman visual menjadi bagian penting dalam pewarisan pengetahuan tari karena dapat membantu proses belajar lintas ruang dan waktu.

Melalui diseminasi ini, Komunitas Budaya Karangjati Nyawiji berharap buku dan dokumentasi audio visual lima Tari Srimpi dapat dimanfaatkan sebagai arsip, referensi akademik, bahan edukasi, dan sumber inspirasi bagi masyarakat. Dari kraton ke ruang kelas, dari panggung ke arsip digital, Tari Srimpi diharapkan tetap hidup sebagai identitas budaya bangsa. (ril/muz)




TERKINI




Rekomendasi

...