JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG – Peran perempuan dalam pembangunan desa tidak lagi hanya identik dengan urusan rumah tangga. Di era digital yang serba cepat, perempuan juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan keluarga, mendidik anak, sekaligus menggerakkan ekonomi rumah tangga.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi PKK Desa Dukun, Kabupaten Magelang, Rabu (3/6/2026), yang mengangkat tema Penguatan Peran Perempuan dalam Pembangunan Desa yang Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan. Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, serta Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Magelang, Muhammad Taufik.
Dalam pemaparannya, Wibowo menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan keluarga akibat perkembangan teknologi digital. Jika dahulu kebutuhan dasar keluarga dikenal dengan istilah sandang, pangan, dan papan, kini kehidupan masyarakat semakin bergantung pada telepon genggam dan internet.
“Dulu kita bicara soal sandang, pangan, dan papan. Sekarang hampir semua aktivitas kehidupan dipandu oleh handphone. Informasi yang kita terima, apa yang kita lihat, bahkan keputusan yang kita ambil sering kali dipengaruhi oleh algoritma,” ujarnya.
Menurut Wibowo, algoritma media sosial memang tidak memiliki wajah, jenis kelamin, ataupun identitas. Namun algoritma mampu mengenali kebiasaan, minat, dan keinginan penggunanya. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran digital agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan telepon genggam yang semakin masif membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Salah satunya adalah meningkatnya kasus perundungan atau bullying di ruang digital yang kini banyak menimpa anak-anak dan remaja.
“Dunia digital memberi banyak kemudahan, tetapi juga membuka ruang terjadinya bullying. Karena itu peran ibu sangat penting untuk mendampingi anak, mengawasi penggunaan media sosial, sekaligus membangun komunikasi yang sehat di dalam keluarga,” katanya.
Selain isu bullying, Wibowo juga menyoroti tingginya angka pernikahan dini yang masih menjadi perhatian di Kabupaten Magelang. Menurutnya, pencegahan pernikahan usia anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, terutama para ibu sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Ia menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa. Oleh karena itu, penguatan ekonomi perempuan harus terus didorong agar keluarga memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap berbagai tantangan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Wibowo juga memperkenalkan berbagai program pemberdayaan ekonomi perempuan yang didukung pemerintah melalui pendekatan inkubasi usaha. Program ini tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga pendampingan secara menyeluruh.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar modal. Perempuan perlu didampingi mulai dari merintis usaha, mengembangkan produk, mengelola keuangan, hingga strategi pemasaran. Dengan begitu usaha yang dibangun bisa bertahan dan berkembang,” jelasnya.
Program inkubasi tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha perempuan di tingkat desa, sehingga dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Sementara itu, Muhammad Taufik menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fokus pembangunan di Kabupaten Magelang. Menurutnya, perempuan harus mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang, berpartisipasi, dan memperoleh akses terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga.
“Kami terus mendorong pemberdayaan dan perlindungan perempuan, sekaligus memperluas akses terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga. Banyak perempuan yang memiliki potensi luar biasa dan mampu menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Taufik
Sebagai bentuk dukungan nyata, pihaknya juga memberikan tambahan modal usaha kepada kelompok PKK Desa Dukun agar kegiatan ekonomi produktif yang telah berjalan dapat semakin berkembang.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menjadi ruang berbagi gagasan antara pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat. Lebih dari sekadar membahas isu perempuan, kegiatan ini menegaskan bahwa perempuan desa memiliki peran penting dalam membangun keluarga yang tangguh, menciptakan generasi yang cerdas di era digital, serta menggerakkan perekonomian desa secara berkelanjutan.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, para ibu tidak hanya menjadi penjaga rumah tangga, tetapi juga menjadi benteng utama keluarga dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan perempuan yang berdaya, desa akan semakin kuat, mandiri, dan siap menyongsong masa depan.



