‘Setting’ di Jalan Desa Tlompakan Berujung Petaka, Kaki Kiri Remaja Kandangan Putus

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Sore itu langit Tuntang mulai meredup. Jalan desa dari arah Tlompakan menuju Ngajaran, tepat di tikungan dekat PLTA Jelog, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, biasanya sepi.

Selasa (30/6/2026) sore itu menginjak pukul 17.00 WIB, jalan itu berubah jadi arena uji nyali. Dua motor Yamaha F1ZR melaju dari arah berlawanan. Bukan untuk pulang, tapi untuk “setting” –- istilah anak motor untuk uji kecepatan—.

Dalam hitungan detik, keduanya bertabrakan. Tidak ada yang sempat menghindar. Jarak sudah terlalu dekat, dan salah satu motor diduga sudah melewati as jalan. Kecelakaan itu dilaporkan ke Satlantas Polres Semarang pada pukul 18.06 WIB.

Tidak ada korban jiwa, tapi luka yang ditinggalkan kedua korban tabrakan berbeda jauh. AG (17), warga Kandangan, Kecamatan Bawen, pengendara F1ZR bernopol H-5038-NK, hanya mengalami luka lecet di kedua kaki dan luka di bagian mulut.

Ia dirawat di RS Attin Hospital. Sedangkan, rekannya, DK (19 tahun), juga warga Kandangan, justru bernasib tragis. Motor yang dikendarainya tanpa nomor polisi, yang terlibat benturan keras membuat kaki kirinya putus.

Ia dirujuk ke RS Ken Saras untuk penanganan lebih lanjut. Dua remaja, satu desa, di satu sore yang sama, tapi jalan hidup mereka kini bercabang jauh.

Baca juga:  DPC PDIP Kabupaten Semarang Siap Hattrick di Pemilu 2024

Kasat Lantas Polres Semarang AKP Raymond Daniel Titaheluw menyebut, hasil penyelidikan awal mengarah pada balap liar berkedok “setting”.

“Dua kendaraan ini diduga sedang menguji kecepatan dari arah berlawanan. Saat jarak sudah mepet, tabrakan tidak bisa dihindari,” jelas Raymond usai upacara Hari Bhayangkara ke-80, Rabu (1/7).

Jalan desa memang lengang saat sore. Tidak ada polisi tidur, tidak ada lampu penerangan memadai. Bagi sebagian remaja, kondisi itu justru dianggap tepat untuk memacu motor. Padahal aspal yang mulus tidak pernah bisa menjamin keselamatan.

Dari dua korban itu, satu masih di bawah umur dan belum punya SIM. Itu yang paling disorot polisi. Raymond tidak menyalahkan sepenuhnya anak-anaknya. Ia melemparkan pesan yang lebih berat kepada orang tua.

“Kami imbau para orang tua jangan memberi kebebasan kepada anak yang belum cukup umur atau belum punya SIM untuk bawa motor. Kegiatan seperti balap liar atau setting sangat berbahaya. Yang rugi bukan cuma anaknya, tapi juga pengguna jalan lain,” tegasnya.

Baca juga:  Hendi Rintis Kawasan Wisata Aglomerasi Semarang Raya

Kalimat itu terasa menohok. Di Kandangan, Bawen, kabar kecelakaan ini cepat menyebar. Motor F1ZR memang jadi favorit remaja karena tarikannya. Tapi ketika hobi itu dibawa ke jalan umum tanpa pengawasan, harganya bisa setinggi nyawa, atau kaki.

Hingga saat ini, Satlantas masih melengkapi penyelidikan. Barang bukti dua motor sudah diamankan. Keterangan saksi dan warga sekitar PLTA Jelog juga dikumpulkan.

Sementara itu, di RS Ken Saras, DK masih berjuang pulih. Masa depan yang tadinya mungkin penuh rencana akademika, kerja, atau nongkrong bareng teman, kini harus menyesuaikan dengan satu kaki yang cacat.

AG mungkin bisa kembali sekolah dalam beberapa minggu. Tapi trauma dan rasa bersalah karena terlibat “setting” mungkin akan lebih lama sembuhnya. Polres Semarang mengajak warga ikut menjaga. Balap liar bukan sekadar pelanggaran lalu lintas.

Tapi, taruhan paling mahal, adalah keselamatan. Di tikungan PLTA Jelog, tidak ada garis finish. Yang ada hanya jalan pulang. Dan sore itu, jalan pulang dua remaja itu tidak lagi sama. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...