JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Selama ini untuk ke menyeberangi Kali Senjoyo, warga Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, harus rela memutar cukup jauh. Kini cukup 80 meter menyemberang warga setempat sudah tiba di desa seberang, yakni Desa Wiru, Kecamatan Bringin.
Itulah panjang Jembatan Gantung “Garuda” yang Kamis siang (23/7/2026) resmi dibentangkan dan menghubungkan Wonokerto dengan Desa Wiru. Acara peresmian dilakukan Danrem 073/Makutarama Kolonel Arm Ezra Nathanael. Momennya bahkan disiarkan bareng peresmian jembatan serupa di Pekalongan oleh Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achirudin lewat Video Conference.
Usai menggunting pita, Danrem berdiri di tengah jembatan. Di bawahnya Kali Senjoyo mengalir tenang.
“Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua desa. Ini penghubung harapan,” kata Kolonel Ezra.
Menurutnya, “Garuda” diharapkan memberi manfaat menyeluruh. Anak bisa lebih cepat ke sekolah, ibu-ibu lebih mudah ke pasar, dan warga sakit bisa lebih cepat ke puskesmas.
Ini bagian dari program strategis nasional Presiden Prabowo yang dijalankan TNI AD. Tidak hanya di Bancak, jembatan serupa juga dibangun serentak di berbagai wilayah jajaran Kodam IV/Diponegoro.
“Diharapkan jembatan gantung Garuda ini memberi manfaat sebesar-besarnya di semua aspek, terutama perekonomian warga,” ujarnya.
Pj Kades Wonokerto, M. El Amin, mengatakan, warga setempat paling paham rasanya hidup terpisah sungai. Dengan adanya jembatan, warga kini punya akses langsung ke Puskesmas Rawat Inap Bancak, SMKN 1 Bancak, Pasar Krasak di Desa Boto, dan Pasar Sidodadi di Desa Plumutan.
“Dulu mau ke pasar atau sekolah harus muter jauh. Sekarang jarak tempuh dan waktu kepotong banyak. Ini sangat menguntungkan warga,” katanya.

Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha yang mendampingi peresmian menyebut jembatan ini denyut nadi baru bagi warga.
“Ini sangat bermanfaat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.Ia juga mengingatkan, Pemkab Semarang bersama TNI sebelumnya sudah membangun jembatan penghubung serupa di Desa Bakalrejo Kecamatan Susukan dan Desa Watu Agung, Tuntang.
“Terima kasih kepada TNI yang sudah bersama-sama membangun Kabupaten Semarang,” ucap Ngesti.
Turut hadir dalam peresmian Dandim 0714/Salatiga Letkol Kav Fajar Hapsari Nugroho dan anggota DPRD Sjaichul Hadi.
Dinamai “Garuda” bukan tanpa alasan. Jembatan ini diharapkan jadi simbol penghubung, penguat, dan pembuka akses seperti burung Garuda yang merentangkan sayap.
Mulai hari itu, anak sekolah tak perlu lagi takut terlambat karena harus memutar. Ibu hamil tak perlu khawatir susah ke puskesmas. Petani bisa lebih cepat membawa hasil ke pasar.80 meter bentangan baja di atas Kali Senjoyo, ternyata cukup untuk mengubah ritme hidup warga di dua desa tersebut. (muz)





