Pertukaran Pelajar Pacu Pemerataan Kualitas Sekolah


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus resmi memulai program pertukaran pelajar dan guru. Program ini sebagai langkah strategis untuk mengejar pemerataan kualitas pendidikan, antara sekolah di wilayah perkotaan dan pedesaan.

Sekretaris Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, menyatakan bahwa fokus utama pada pekan pertama pelaksanaan program ini adalah proses adaptasi. Pihaknya berharap para peserta tidak mengalami hambatan psikologis atau kejutan budaya saat mengikuti kegiatan di lingkungan baru.

‘’Saya belum memantau langsung ke lapangan, namun kami akan segera berkomunikasi dengan sekolah-sekolah penyelenggara. Kami berharap pada minggu pertama ini anak-anak dan guru bisa cepat menyesuaikan diri,’’ ujar Anggun, di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (27/7).

Menurut Anggun, proses adaptasi yang cepat akan membuka jalan bagi efektivitas program pada minggu kedua. Saat adaptasi sudah berjalan baik, para peserta diharapkan mulai aktif menyerap materi pelajaran sekaligus mengadopsi budaya positif dari sekolah tujuan untuk dibawa pulang ke sekolah asal.


Baca juga:  Manajemen RSUD Kudus Bebas Tugaskan Dua Oknum Pegawai, Buntut Video Asusila

Disdikpora Kudus juga mengimbau seluruh sekolah tujuan untuk bersikap terbuka dalam membagikan poin-poin keberhasilan mereka. Sekolah yang didatangi diminta memaparkan manajemen kelas dan metode pembelajaran terbaiknya kepada para guru dan siswa peserta pertukaran.

‘’Intinya semua mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan. Seperti yang disampaikan Pak Bupati, target utamanya adalah agar kualitas sekolah di Kudus bisa merata semuanya,’’ lanjut Anggun.

Sedang untuk guru, program pertukaran kali ini difokuskan pada dua mata pelajaran (mapel) utama, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika. Pemilihan ini didasarkan pada adanya beberapa sekolah yang tercatat memiliki capaian performa sangat tinggi pada kedua mapel tersebut.

Kendati, Anggun mengingatkan bahwa tidak semua praktik baik di sekolah kota bisa langsung diterapkan di sekolah pedesaan, seperti di Sekolah Satu Atap (SATAP). Kondisi geografis dan kultur murid yang berbeda menuntut para guru untuk jeli menyaring metode yang relevan.

Baca juga:  Polres Kudus Ajak Masyarakat Patroli Wilayah

‘’Jika di kota ada kelas tambahan sore hari, di desa terpencil tentu sulit diterapkan. Maka dari itu, peserta harus menyaring mana praktik yang logis untuk diadopsi,’’ jelasnya.

Sementara indikator keberhasilan jangka panjang dari program ini adalah maksimalnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Melalui pertukaran metode pengajaran, guru diharapkan menemukan cara baru agar siswa lebih cepat menangkap materi yang sulit.

‘’Minimal, mereka pulang membawa wawasan baru dan cara pandang segar untuk kemajuan pembelajaran di sekolah masing-masing,’’ pungkasnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...