InterAksi Chapter Semarang: Cara Pemuda Jawa Tengah Mengubah Wajah Politik Kaku Jadi Interaktif


JATENGPOS.CO.ID-Fenomena apatisme politik di kalangan generasi muda kerap menjadi tantangan tersendiri di tengah derasnya arus informasi. Berangkat dari keresahan tersebut, InterAksi Chapter Semarang hadir sebagai wadah edukasi politik bagi pemuda di Kota Semarang dan sekitarnya. Terinspirasi dari rekam jejak InterAksi di Yogyakarta, InterAksi Chapter Semarang resmi terbentuk dan mulai menggelar kegiatan serta membuka kepengurusan perdana pada November 2025, serta diketuai oleh Moch Latif, mahasiswa Antropologi Sosial Undip. Organisasi tersebut mengedukasi para pemuda melalui pendekatan dialogis-interaktif serta ruang praktik langsung.

Organisasi ini awalnya digagas oleh sekelompok mahasiswa FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Sekelompok mahasiswa tersebut melihat bahwa Generasi muda merupakan pilar utama penentu masa depan bangsa. Namun, realitas politik yang kerap dianggap eksklusif dan jauh dari kepentingan rakyat menimbulkan keraguan bagi pemuda untuk terlibat. Karena itu, mereka mendirikan InterAksi sebagai organisasi yang berfokus untuk membumikan pendidikan politik yang humanis dan progresif. Saat ini, InterAksi memiliki 3 chapter yang tersebar ke berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Cirebon, hingga Semarang.

Baca juga:  Riyan Mahendra: Wallohi, Saya Tidak ada Dendam!
Organisasi ini menerapkan budaya khas yang tertanam, yaitu InterAktif, yang artinya edukasi politik tidak disampaikan secara satu arah atau mendikte, melainkan dialogis. Foto : Fadlan.

Semarang dipilih karena letaknya sebagai ibu kota Jawa Tengah sekaligus pusat pertumbuhan pendidikan. Meskipun tingkat partisipasi pemilih pada Pilwakot Semarang 2024 terbilang tinggi (71%), Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Jawa Tengah pada dimensi partisipasi dan kepemimpinan masih perlu diperkuat. Tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar mengajak pemuda datang ke TPS untuk mencoblos, melainkan bagaimana membekali mereka dengan literasi politik yang memadai agar dapat terlibat secara kritis dan konstruktif.

Untuk mewujudkan demokrasi yang berkeadilan di masa yang akan datang, InterAksi menarget mahasiswa dan pelajar di tingkat sekolah menengah di Semarang.  InterAksi Chapter Semarang saat ini memiliki kepengurusan aktif sebanyak 50 orang. Untuk menjadi bagian dari pengurus, peserta perlu mengikuti proses rekrutmen yang dilakukan secara bertahap, dimulai dari seleksi berkas administrasi via Google Form, dilanjutkan dengan sesi wawancara, hingga Focus Group Discussion (FGD). Menurut Mochamad Latif, Ketua InterAksi Chapter Semarang, Organisasi tersebut menerapkan budaya khas yang tertanam, yaitu InterAktif, yang artinya edukasi politik tidak disampaikan secara satu arah atau mendikte, melainkan dialogis. ”Kami ingin mengedukasi rekan-rekan muda agar sadar akan pentingnya politik dan tidak abai terhadap dinamika isu nasional,” kata Latif.


Baca juga:  Bagi Kisah Inspiratif UMKM Difabel Berbasis Digital

Agar menciptakan ruang praktik langsung, InterAksi Chapter Semarang memiliki 3 program kerja rutin, yaitu Youth Parliamentary Semarang, Museum Unlocked, City Tour. Selain itu, terdapat 1 program baru yang akan hadir adalah Clash of Parties. Melalui program tersebut, diharapkan dapat menciptakan pemuda yang bisa mengasah kemampuan berpikir kritis, berdebat, dan bernegosiasi.

InterAksi Chapter Semarang memiliki 3 program kerja rutin, yaitu Youth Parliamentary Semarang, Museum Unlocked, City Tour. Foto : Fadlan.

Selama keberlangsungan InterAksi, dampak nyata yang terasa yaitu terciptanya sebuah ruang aman dan wadah kolaborasi. Di sini, pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan politik dapat berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama untuk tumbuh menjadi calon-calon pemimpin muda yang berintegritas serta siap berkontribusi nyata bagi daerah. Kedepannya, InterAksi Chapter Semarang berencana akan menargetkan masyarakat umum agar ruang edukasi dapat tersebar secara lebih luas. (Fadlan)


TERKINI


Rekomendasi

...