Bisnis yang Lincah Jangan Kehilangan Arah


                     Oleh: Fitri Nurshita Dewi

(Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Islam Sultan Agung Semarang)

DUNIA bisnis bergerak seperti arus yang tak pernah benar-benar tenang. Teknologi berubah, perilaku konsumen bergeser, persaingan semakin terbuka, sementara ketidakpastian ekonomi datang silih berganti. Perusahaan yang terlalu lambat membaca perubahan akan tertinggal. Sebaliknya, perusahaan yang mampu bergerak cepat, membaca peluang, dan menyesuaikan diri memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan. Akan tetapi, muncul pertanyaan penting: apakah menjadi cepat dan adaptif saja sudah cukup untuk disebut berhasil?

Kecepatan memang penting, tetapi bisnis bukan sekadar perlombaan siapa yang paling cepat. Ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana sebuah organisasi menggunakan kekuatannya dan memperlakukan orang-orang yang berada di dalam maupun di sekitar bisnisnya. Keuntungan yang diperoleh melalui cara-cara yang mengabaikan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab mungkin terlihat menjanjikan dalam jangka pendek. Akan tetapi, ketika kepercayaan hilang, reputasi rusak, dan hubungan dengan mitra retak, keuntungan tersebut justru dapat menjadi awal dari persoalan baru.


Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat relevan bagi dunia manajemen modern. QS. An-Nisa ayat 58 mengingatkan manusia untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak dan menetapkan keputusan secara adil. QS. An-Nahl ayat 90 juga menegaskan pentingnya keadilan dan kebajikan. Pesan tersebut terasa semakin penting ketika bisnis saat ini dibangun melalui hubungan yang luas: perusahaan dengan karyawan, pelanggan dengan produsen, pemasok dengan distributor, serta mitra dengan mitra lainnya. Semua hubungan itu pada akhirnya bertumpu pada satu modal yang tidak tercatat dalam neraca perusahaan: kepercayaan.

Ilmu manajemen sebenarnya telah lama berbicara mengenai pentingnya sumber daya. Melalui Resource-Based View (RBV), organisasi dipandang memiliki sumber daya dan kapabilitas yang dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif. Pengetahuan, kompetensi manusia, teknologi, reputasi, hingga jaringan bisnis dapat menjadi kekuatan strategis apabila dikelola secara tepat. Artinya, perusahaan tidak cukup hanya memiliki sumber daya. Tantangannya adalah bagaimana mengubah sumber daya tersebut menjadi kemampuan yang menghasilkan nilai dan keunggulan yang berkelanjutan.

Baca juga:  Kasus Harian Covid-19 Meningkat, Wakil Ketua MPR Ajak Masyarakat Berpikir Optimistis

Persoalan menjadi lebih menarik ketika perusahaan tidak berjalan sendirian. Di tengah perubahan yang cepat, organisasi membutuhkan jaringan. Informasi dapat diperoleh dari mitra, pengetahuan dapat dibagikan, sumber daya dapat digunakan bersama, dan peluang dapat dibangun melalui kolaborasi. Kemampuan membangun hubungan yang responsif dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi semakin penting. Sayangnya, jejaring bisnis yang hanya dibangun atas kepentingan transaksi dapat berubah menjadi hubungan yang oportunistik. Ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, kepercayaan mudah dikorbankan.

Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Aktivitas bisnis tidak berhenti pada pencarian keuntungan, tetapi juga merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan tersebut mengandung makna penting bagi manajemen: setiap keputusan memiliki konsekuensi dan setiap kekuasaan atas sumber daya selalu disertai tanggung jawab. Karena itu, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk berubah tanpa kehilangan nilai yang menjadi pijakannya.

Gagasan tersebut melahirkan konsep Waqi’iyah Network Agility. Konsep ini dapat dipahami sebagai kemampuan organisasi mengelola jejaring bisnis secara cepat, responsif, fleksibel, dan adaptif terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Waqi’iyah menempatkan nilai agama bukan sebagai sesuatu yang hanya dibicarakan di ruang spiritual, melainkan sebagai pedoman yang hadir dalam keputusan bisnis, hubungan kemitraan, pengelolaan sumber daya, dan kerja sama sehari-hari. Dengan demikian, kelincahan organisasi tidak kehilangan arah moralnya.

Baca juga:  Kedokteran Presisi Dinilai Jadi Jalan Baru Penyembuhan Penyakit Kronis

Konsep Waqi’iyah Network Agility dikembangkan melalui lima dimensi. Waqi’iyah Relationship Agility menekankan kemampuan membangun hubungan kemitraan yang responsif terhadap kebutuhan dan perubahan. Waqi’iyah Collaborative Agility menekankan kolaborasi berdasarkan kompetensi dan tanggung jawab masing-masing pihak. Waqi’iyah Cooperative Agility menggambarkan kemampuan bekerja sama secara fleksibel dan adaptif dengan tetap menjaga keadilan. Waqi’iyah Interdependent Agility menekankan kecepatan bertindak dalam hubungan yang saling bergantung secara proporsional dan etis. Waqi’iyah Sharing Agility menekankan keterbukaan dalam berbagi informasi dan sumber daya demi kemaslahatan bersama.

Kelima dimensi tersebut memperlihatkan bahwa nilai agama dan kelincahan bisnis bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Justru keduanya dapat saling menguatkan. Kecepatan tanpa kejujuran dapat menjadi jalan menuju keputusan yang merugikan. Fleksibilitas tanpa prinsip dapat berubah menjadi oportunisme. Kolaborasi tanpa keadilan dapat melahirkan ketimpangan. Sebaliknya, organisasi yang mampu menggabungkan kecepatan dengan integritas akan memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun hubungan jangka panjang.

Pada akhirnya, bisnis masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang mampu berlari cepat tanpa kehilangan arah. Teknologi, modal, kompetensi, dan jaringan tetap penting sebagai sumber keunggulan organisasi. Akan tetapi, semua itu membutuhkan nilai yang mengarahkan penggunaannya. Integrasi RBV dengan Waqi’iyah Network Agility menawarkan perspektif bahwa organisasi dapat tetap kompetitif dan adaptif sekaligus menjunjung amanah, keadilan, profesionalisme, serta kemaslahatan. Sebab, bisnis yang benar-benar kuat bukan hanya bisnis yang mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi bisnis yang tetap dipercaya ketika perubahan itu datang. (*)


TERKINI

Rekomendasi

...