Temukan E-Coli di Kasus Keracunan MBG Papua dan Semarang, Kemenkes-BGN Berhenah


JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis yang seharusnya jadi solusi gizi anak, justru memakan korban keracunan di Papua dan Kota Semarang. Setelah ditelusuri terungkap ditemukan bakteri E-Coli di sejumlah menu makanan yang disajikan ke sekolah.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan timnya sudah turun ke lapangan begitu laporan keracunan masuk. Hasil laboratorium pun sudah keluar.

“Begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada, jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E-Coli-nya, bukan hanya semangka tapi ada beberapa makanan lain,” ujar Menkes saat dikonfirmasi di Jakarta, seperti dilansir kemarin.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut, persoalan utama ada di proses di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari catatan log dapur, di Papua makanan sudah mulai dimasak sejak jam 7 atau setengah 8 malam untuk dibagikan keesokan harinya pukul 11 siang.


Baca juga:  Menko Airlangga Gerak Cepat, Tindak Lanjuti Arahan Presiden

Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11. Jarak penyajian terlalu jauh,” kata Sudaryono.

Hal serupa terjadi di Semarang. Dapur di sana mulai memasak pukul 21.00 malam, lalu makanan baru dibagikan belasan jam kemudian. Jarak waktu terlalu lama antara masak dan konsumsi membuat makanan rentan terkontaminasi bakteri.

“Kasus keracunan MBG merupakan persoalan serius karena menyangkut keselamatan penerima makanan. Karena itu, pihaknya berupaya agar kasus keracunan dapat ditekan hingga tidak terjadi lagi,” tegas Sudaryono.

Menyoal sanksi pidana bagi dapur yang lalai, Sudaryono mengatakan BGN masih menggodok aturannya.Tindakan hukum bisa dilakukan jika ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase.

Baca juga:  Uu Ruzhanul Hadiri Peringatan Nuzulul Qur'an Tingkat Provinsi

Namun ia menekankan, prosesnya tetap harus menjunjung asas praduga tak bersalah.

“Kami juga sudah berikan saran kepada BGN terkait temuan di SPPG,” kata Menkes Budi.

Ia juga mengapresiasi respons cepat Kepala BGN atas masukan dari Kemenkes. Ke depan, BGN akan memperkuat tiga hal yakniedukasi keamanan pangan untuk juru masak, pengawasan kandungan gizi, dan ketentuan waktu konsumsi makanan MBG.

Tujuannya agar kejadian serupa tidak terulang dan ribuan anak penerima MBG bisa makan dengan aman. Karena program ini menyangkut perut dan kesehatan jutaan anak. (dbs/muz)


TERKINI

Rekomendasi

...