JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Mengobati penyakit TBC butuh disiplin minum obat minimal 6 bulan nonstop. Beberapa hari terlewat saja bisa risiko gagal sembuh dan berpotensi muncul Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO). Mengetahui masalah tersebut, Yasa Monika, Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran menghadirkan solusi bagi penderita TBC agar sembuh tuntas.
Melalui tugas akhir berupa Karya Kinerja , ia berhasil mengembangkan Inovasi Reminder Kepatuhan Minum Obat TBC di UPT Puskesmas Permata Kecubung, Kabupaten Sukamara.
Tujuannya agar terapi 6 bulan berjalan lancar, bakteri TBC tuntas mati, dan pasien bisa dinyatakan sembuh optimal. Dengan kepatuhan yang terjaga, diharapkan angka kesembuhan di wilayah kerja Puskesmas Permata Kecubung meningkat. Sekaligus menekan risiko TB-RO yang pengobatannya jauh lebih mahal dan lebih berat efek sampingnya.
Inovasi ini berangkat dari masih ditemukannya pasien yang terlambat mengonsumsi obat, tidak datang sesuai jadwal kontrol, hingga berisiko mengalami putus obat selama menjalani terapi TBC.
“Padahal pengobatan Tuberkulosis ini harus patuh dan tuntas. Kalau tidak, bakteri TBC bisa jadi kebal obat dan pengobatannya jadi jauh lebih lama serta lebih berat. Hanya memerlukan kepatuhan minimal 6 bulan pasien dapat sembuh optimal dan terhindar dari risiko TB-RO,” ujarnya kepada Jateng Pos, kemarin.
Melalui pelaksanaan Karya Kinerja tersebut, Yasa mengembangkan sistem reminder sebagai media pengingat bagi pasien untuk mengonsumsi obat sesuai jadwal, menghadiri kontrol rutin, serta meningkatkan komunikasi antara petugas kesehatan, pasien, keluarga, dan Pengawas Menelan Obat (PMO).
Inovasi ini juga dilengkapi dengan konsultasi online gratis kepada pengelola program TBC,pemantauan berkala terhadap kepatuhan pasien serta pelacakan dini apabila ditemukan pasien yang berpotensi mangkir atau putus berobat.
Implementasi inovasi dilaksanakan di UPT Puskesmas Permata Kecubung selama enam bulan dengan melibatkan petugas Program Tuberkulosis, keluarga pasien, serta PMO. Selama pelaksanaan inovasi, dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kepatuhan minum obat, ketepatan jadwal kontrol, dan keberlangsungan pengobatan pasien.Hasil implementasi menunjukkan bahwa inovasi tersebut memberikan dampak yang positif.
Dari 10 pasien Tuberkulosis yang mengikuti program, sebanyak 9 pasien (90 persen) tetap patuh menjalani pengobatan hingga sesuai jadwal, sedangkan hanya 1 pasien (10 persen) yang mengalami putus obat pada bulan kedua pengobatan. Pasien yang mengalami putus obat segera dilakukan pelacakan oleh petugas kesehatan sehingga dapat memperoleh tindak lanjut sesuai prosedur program Tuberkulosis.
Inovasi ini lahir dari pengalaman selama memberikan pelayanan kepada pasien Tuberkulosis di wilayah kerja UPT Puskesmas Permata Kecubung.penulis melihat bahwa sebagian besar pasien sebenarnya memiliki keinginan untuk sembuh, namun sering terkendala lupa minum obat, kurangnya dukungan keluarga, atau keterlambatan datang kontrol. Oleh karena itu, inovasi reminder ini dikembangkan sebagai bentuk pendampingan sederhana yang mudah diterapkan namun memberikan manfaat yang nyata bagi pasien.
Selain meningkatkan kepatuhan pasien, inovasi ini juga membantu petugas kesehatan melakukan pemantauan pengobatan secara lebih efektif, mempercepat pelacakan pasien yang berisiko mangkir, serta meningkatkan koordinasi antara petugas kesehatan, keluarga, dan PMO.
Melalui inovasi Reminder Kepatuhan Minum Obat TBC penulis berharap semakin banyak pasien Tuberkulosis yang dapat menyelesaikan pengobatan secara tuntas sehingga angka keberhasilan pengobatan meningkat, risiko penularan menurun, dan target Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia dapat tercapai melalui pelayanan kesehatan yang inovatif, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (ril/muz)






