FK Undip Dorong Transformasi Kesehatan Berbasis Inovasi dan Teknologi Melalui Konferensi Internasional


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Kulliyah of Nursing International Islamic University Malaysia (IIUM), dan School of Health Sciences Universiti Sains Malaysia sukses menyelenggarakan The 10th International Conference on Translational Medicine and Health Sciences (ICTMHS) pada 14–15 Agustus 2026 secara hybrid.

Mengusung tema “Bridging Innovation and Technology for Promoting Health & Wellbeing” dan semangat “Bridging Innovation and Technology for Advancing Impactful Health and Wellbeing Outcomes”, konferensi internasional ini menjadi platform strategis bagi pemimpin global, akademisi, praktisi, inovator, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendiskusikan arah transformasi kesehatan di masa depan.

Konferensi dibuka oleh Rektor Universitas Diponegoro yang diwakili oleh Wakil Direktur Reputasi, Kemitraan dan Konektivitas Global (RKKG) Universitas Diponegoro, Pulung Widhi Hari Hananto, S.H., M.H., LL.M., bersama Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K).

Ketua panitia The 10th ICTMHS, Ns. Sripadma Sari, S.Kep., MNS, PhD, menyampaikan konferensi ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi lintas institusi dan lintas negara dalam menghasilkan gagasan serta inovasi yang dapat memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Transformasi kesehatan membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu dan pemangku kepentingan. Melalui konferensi ini, kami ingin mempertemukan gagasan, hasil penelitian, inovasi, dan pengalaman dari berbagai negara untuk bersama-sama membangun sistem kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Baca juga:  Ribuan Orang Tunggu Gus Yasin di Pengajian Muslimat NU Karanganyar

Forum ilmiah ini mengeksplorasi berbagai isu strategis, antara lain AI-driven clinical decision support systems, digital public health surveillance, sustainable healthcare systems, serta model pelayanan interprofesional yang mampu merespons perubahan kebutuhan kesehatan masyarakat. Lebih dari sekadar membahas perkembangan teknologi, konferensi menekankan pentingnya memastikan bahwa transformasi kesehatan berlangsung secara berkeadilan, tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak. Integrasi inovasi dan teknologi diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memperluas akses dan memperkuat sistem kesehatan di tingkat nasional maupun global.

Pembukaan kegiatan The 10th International Conference on Translational Medicine and Health Sciences (ICTMHS) berlangsung tanggal 14–15 Agustus 2026 secara hybrid. FOTO: IST/JATENGPOS

Peserta-Pakar dari Berbagai Negara

The 10th ICTMHS menghadirkan para ahli dan narasumber dari sejumlah negara, antara lain Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Singapura, dan Malaysia. Konferensi diikuti oleh 160 peserta yang berasal dari berbagai institusi pendidikan dan institusi pelayanan kesehatan, baik dari dalam maupun luar negeri. Peserta internasional berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Cina, Pakistan, dan Uganda. Tingginya partisipasi juga tercermin dari jumlah peneliti yang mempresentasikan hasil kajiannya. Sebanyak 109 peserta berpartisipasi sebagai presenter oral maupun poster, dengan hasil penelitian yang mencakup berbagai bidang kesehatan.

Materi dan penelitian yang dipresentasikan meliputi inovasi dan teknologi dalam pelayanan kesehatan, kesejahteraan ibu dan anak, penyakit menular dan tidak menular, kesehatan mental, penuaan dan kualitas hidup, transformasi digital dalam pelayanan kesehatan, living lab pada tatanan pendidikan dan masyarakat, hingga pelayanan genetik di Indonesia.

Baca juga:  BPBD Kota Semarang Gerak Cepat Evakuasi Korban Longsor di Ngaliyan

Keragaman topik tersebut menunjukkan bahwa transformasi kesehatan merupakan agenda multidimensional yang membutuhkan pendekatan kolaboratif. Teknologi, penelitian, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keterlibatan masyarakat perlu berjalan secara sinergis untuk menghasilkan solusi yang relevan dan berkelanjutan.

Melalui dialog ilmiah dan jejaring internasional yang dibangun selama konferensi, The 10th ICTMHS diharapkan menjadi katalis bagi lahirnya kolaborasi penelitian, pengembangan inovasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. Konferensi ini juga menegaskan komitmen institusi penyelenggara untuk berkontribusi dalam membangun ekosistem kesehatan masa depan yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa mengesampingkan aspek kemanusiaan, pemerataan, keberlanjutan, dan kebutuhan masyarakat. Penyelenggaraan The 10th ICTMHS didukung oleh sejumlah mitra dan sponsor, yaitu Bank Tabungan Negara (BTN), Ika Medica (Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro), Wardah, Wastra Batik, dan Dexa Medica.

Dengan mempertemukan pengetahuan, inovasi, teknologi, dan jejaring global, The 10th ICTMHS diharapkan dapat memperkuat langkah bersama menuju sistem kesehatan yang lebih inovatif, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan—serta mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di tingkat nasional maupun global. (nrn/muz)


TERKINI


Rekomendasi

...