JATENGPOS.CO.ID, FLORES- Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan luka mendalam. Bukan hanya merenggut puluhan nyawa dan merusak bangunan, bencana tersebut juga membuat layanan kesehatan di sejumlah wilayah di Pulau Flores nyaris lumpuh.
Hingga Senin (17/8) malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia akibat gempa. Selain korban jiwa, sedikitnya 213 orang mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan angka korban masih bersifat dinamis. Tim di lapangan masih melakukan pendataan sekaligus pencarian terhadap kemungkinan adanya korban lain yang belum ditemukan.
“68 jiwa yang meninggal. Kami tetap memantau jumlah korban ini dan terus akan kami laporkan ketika nanti ada jumlah korban yang ditemukan,” kata Berton dalam konferensi pers, Senin (17/8/2026).
Korban tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Flores, mulai Kabupaten Manggarai Timur hingga Kabupaten Ngada. Di tengah proses evakuasi dan pencarian korban, ribuan warga juga harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi karena khawatir terhadap gempa susulan.
Dampak paling terasa terjadi pada sektor kesehatan. Sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan mengalami kerusakan, bahkan sebagian harus menghentikan pelayanan di dalam gedung karena kondisi bangunan dinilai tidak lagi aman.
Di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, misalnya, kerusakan terjadi pada sejumlah bagian penting rumah sakit. Atap dan tembok bangunan roboh sehingga beberapa ruangan kehilangan fungsi, termasuk ruang operasi, ruang persalinan, farmasi hingga laboratorium.
Pegawai kehumasan RSUD Ruteng, Rista Mari, mengatakan kondisi tersebut memaksa pihak rumah sakit mengambil langkah darurat. Pasien dipindahkan ke tenda yang didirikan di luar gedung, sementara tenaga kesehatan berupaya menyiapkan ruang pengganti agar pelayanan tetap berjalan.
Hingga Minggu (16/8) sore, tercatat 32 pasien masih menjalani perawatan di tenda darurat. Empat di antaranya merupakan korban langsung akibat gempa.
Kondisi tersebut membuat tenaga medis harus bekerja dalam situasi serba terbatas. Para pasien yang menjadi korban gempa membutuhkan penanganan secepatnya, termasuk seorang pasien yang mengalami patah tulang.
Namun, persoalan tidak berhenti pada keterbatasan ruang. Sebagian pasien lain mulai merasa tidak nyaman dan memilih meminta pulang karena kondisi rumah sakit yang belum sepenuhnya pulih.
“Di luar itu, beberapa pasien juga sudah tidak nyaman dan minta untuk pulang. Situasinya sekarang sangat susah,” ujar Rista.
Pihak RSUD Ruteng kini berpacu dengan waktu. Selain mendirikan ruang medis darurat, petugas juga memilah dan mengumpulkan peralatan medis yang masih dapat digunakan setelah sebagian fasilitas terdampak reruntuhan.
“Kami dengar kabar akan ada bantuan tim medis, tapi belum ada sampai sekarang. Kami berharap bantuan itu segera tiba,” katanya.
21 RS-57 Puskesmas Terdampak
Kerusakan fasilitas kesehatan tidak hanya terjadi di Ruteng. Data yang dihimpun Kementerian Kesehatan menunjukkan gempa berdampak terhadap 21 rumah sakit. Dari jumlah tersebut, enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan, sementara tiga lainnya mengalami kerusakan berat.
Gangguan pelayanan juga terjadi di tingkat puskesmas. Dari sekitar 190 puskesmas yang terdata di wilayah terdampak, sekitar 57 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, baik kategori ringan maupun berat.
Puskesmas terdampak tersebar di sejumlah kabupaten, di antaranya Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Ngada.
Kerusakan fasilitas tersebut membuat tenaga kesehatan harus mengubah cara pelayanan. Ruang pemeriksaan yang biasanya menjadi tempat pasien mendapatkan pertolongan kini berganti menjadi halaman, tenda, atau ruang sementara yang dinilai lebih aman.
Di Puskesmas Ladja, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada, pelayanan kesehatan terpaksa dipindahkan ke luar gedung. Kerusakan bangunan membuat tenaga medis tidak dapat leluasa menggunakan ruang pelayanan seperti sebelum gempa.
Kondisi serupa terjadi di Puskesmas Maronggela, Kecamatan Riung Barat. Menurut warga setempat, Charles Abar, hampir seluruh sisi bangunan puskesmas mengalami kerusakan. Sejumlah peralatan kesehatan juga tidak dapat digunakan secara optimal setelah tertimpa reruntuhan.
Dengan kondisi tersebut, tenaga kesehatan terpaksa mengandalkan peralatan yang masih tersisa untuk melayani warga.
Situasi lebih sulit terjadi di wilayah Pota dan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur. Dokter Alhamzah, yang bertugas di Puskesmas Lalang, mengatakan koleganya di kedua wilayah tersebut menghadapi situasi berat karena harus menangani korban dengan fasilitas yang rusak dan tenaga medis yang sangat terbatas.
Kedua puskesmas dilaporkan mengalami kerusakan parah. Persoalan semakin rumit karena komunikasi ikut terputus.
“Pota dan Dampek [puskesmasnya] sama-sama hancur semua. Di Dampek kehilangan sinyal dan dokternya sendiri, dan yang di Pota juga sama, dokternya sendiri tapi kehilangan sinyal, jadi mereka dari kemarin itu tidak ada yang bantu,” ujar Dokter Al.
Tak hanya komunikasi, akses menuju kedua wilayah tersebut juga sempat terputus akibat longsor dan material batu besar yang menutup jalan.
Beruntung, proses pembersihan jalan mulai membuahkan hasil. Setelah akses dibuka, ambulans kembali dapat melintas dan tim medis mulai bergerak menuju wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Pembersihan jalan sudah selesai dilakukan semalam, tadi pagi jalanannya sudah bisa dilewati ambulans, karena itu kami sudah bisa menuju ke lokasi,” jelas Dokter Al.
Tim SAR bersama relawan kemudian mendirikan sejumlah posko bantuan, termasuk posko medis di Pota yang ditempatkan di SMK Muhammadiyah. Sementara di Dampek, bantuan dari rumah sakit umum daerah mulai dikirimkan untuk memperkuat penanganan korban.
Untuk korban dengan kondisi berat, tenaga medis menyiapkan mekanisme rujukan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih memadai. Perjalanan menuju fasilitas kesehatan rujukan, bagaimanapun, bukan perkara mudah karena jarak dan kondisi medan.
“Jika kondisinya darurat, maka akan kami rujuk ke Rumah Sakit di Ruteng, yang jaraknya 4 jam perjalanan,” ujar Dokter Al.
Mengungsi ke Gunung, Tim Medis Jemput Bola
Pendataan korban juga menghadapi tantangan tersendiri. Banyak warga memilih menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi, termasuk kawasan perbukitan dan pegunungan, karena masih dihantui ketakutan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Kondisi tersebut membuat jumlah korban dan kebutuhan medis di sejumlah desa belum sepenuhnya terpetakan.
“Makanya kami yang tim medisnya ini, kami harus jemput bola. Kami ke desa yang membutuhkan, lalu kita data yang mana yang perlu penanganan lebih lanjut,” kata Dokter Al.
Jika ditemukan korban yang membutuhkan perawatan lebih serius, tenaga kesehatan akan melakukan pendataan dan menyiapkan ambulans untuk menjemput pasien dari lokasi pengungsian.
Langkah tersebut menjadi penting karena dalam situasi bencana, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko terhadap korban yang mengalami luka berat.
Di tengah duka yang menyelimuti NTT, pemerintah pusat juga menyesuaikan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Kementerian Ekonomi Kreatif tetap menggelar Malam Merdeka di Jakarta. Namun, suasana perayaan dibuat lebih berempati dengan meniadakan salah satu agenda hiburan, yakni pertunjukan kembang api.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
“Beberapa upaya memang ada beberapa agenda, ada satu agenda yang kita tunda dulu, kembang api, fireworks. Karena itu kan terlalu bagaimana begitu ya,” kata Riefky dalam konferensi pers di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Senin (17/8).
Sebagai gantinya, pesan solidaritas untuk masyarakat NTT akan menjadi bagian dari rangkaian acara. Pesan “Pray for NTT” akan ditampilkan melalui video mapping di kawasan Monas maupun pertunjukan drone.
“Nanti juga di video mapping di Monas maupun drone juga ada tampilan ‘Pray for NTT’. Itu juga bagian untuk menyampaikan situasi batin kita,” ujarnya.
Perayaan kemerdekaan pun berlangsung dengan wajah berbeda. Di satu sisi, Merah Putih berkibar di berbagai penjuru negeri. Namun di sisi lain, di Flores, ribuan warga masih bertahan di pengungsian, pasien dirawat di bawah tenda, tenaga medis bekerja dengan peralatan terbatas, dan tim penyelamat terus bergerak mencari korban.
Bagi masyarakat NTT, terutama mereka yang berada di wilayah terdampak paling parah, peringatan kemerdekaan tahun ini bukan sekadar seremoni.
Di tengah reruntuhan dan keterbatasan, harapan untuk pulih justru menjadi bentuk lain dari perjuangan—perjuangan untuk menyelamatkan nyawa, memulihkan layanan kesehatan, membuka kembali akses yang terputus, dan mengembalikan kehidupan masyarakat secara perlahan. (bbc/dbs/muz)








