JATENGPOS.CO.ID, SOLO- Suasana khidmat tradisi Sekatan di Solo mendadak diwarnai ketegangan. Sebuah video yang merekam aksi adu mulut antara Pengageng Sasana Wilapa versi Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, dengan sekelompok pria penjaga di kawasan Masjid Agung Solo, mendadak viral di media sosial.
Berdasarkan video yang diunggah oleh akun Instagram @seputar_surakarta, ketegangan terlihat jelas saat GKR Panembahan Timoer Rumbay terlibat perdebatan sengit dengan sejumlah pria berbusana batik. Dalam rekaman lain, Rumbay bahkan tampak mencoba memaksa masuk ke Bangsal Pagongan namun langkahnya terhalang.
Kericuhan ini dipicu oleh perbedaan pandangan terkait pemindahan pusaka Gamelan Kyai Sekati (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) dari keraton menuju Masjid Agung Solo untuk menyambut Maulid Nabi.
GKR Rumbay menyayangkan pemindahan gamelan tersebut. Ia menyebut tindakan itu dilakukan tanpa izin dari pihak PB XIV Purbaya sebagai raja yang sah menurut kubu mereka. Bahkan, Rumbay mengaku sempat terjatuh akibat dorongan saat insiden terjadi. Kendati demikian, ia memilih enggan memperpanjang masalah.
“Nggak usah, saya nggak mau ramai,” ujarnya singkat kepada awak media.
Di sisi lain, Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, yang berada di lokasi sempat melerai keributan tersebut. Ia menegaskan bahwa rangkaian acara Sekaten telah mendapat lampu hijau dan izin dari PB XIV Mangkubumi selaku raja versi mereka, serta telah berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Kami seluruh rangkaian acara sekaten kita selenggarakan bersama-sama Sinuhun (PB XIV Mangkubumi) juga instansi terkait,” bebernya.
Sebelumnya, prosesi keluarnya gamelan dari Sasana Handrawina dipimpin langsung oleh Ketua LDA, GRAy Koes Moertiyah (Gusti Moeng). Gamelan tersebut dibawa melalui Kori Kamandungan, Sitihinggil, melintasi Alun-Alun Utara, hingga akhirnya tiba di Masjid Agung.
Gusti Moeng menjelaskan bahwa pemindahan ini terpaksa dilakukan karena kondisi bangunan di tempat sebelumnya (Pendopo Parangkarso) sudah rusak parah dan akan segera direvitalisasi.
Diketahui, gamelan Kyai Sekati dikeluarkan dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo untuk menyambut Maulid Nabi. Sejumlah abdi dalem Keraton Solo mengangkat gamelan dari Sasana Handrawina.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin keluarnya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Gamelan dikeluarkan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil melewati alun-alun utara dan masuk ke Masjid Agung.
“Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti,” katanya di Sasana Handrawina.









