JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Penolakan rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) gunung Ungaran mendapat tanggapan Executive Vice President Management Geothermal PT. PLN, John Yudi Steve Rembet.
Dia mengatakan, jika proyek geothermal berkapasitas 54 Mw itu sudah berjalan, masyarakat sekitar bisa bekerja di lokasi PLTP. Dari proses awal hingga operasi, dibutuhkan lebih 100 tenaga kerja lokal.
“Dari proses awal hingga operasi, warga lokal bisa kami serap sebagai tenaga kerja. Kalau melihat geothermal yang sudah berjalan dengan kapasitas 55 mega watt, ya butuh 100 orang lebih tenaga kerja lokal,” kata John, kepada Jateng Pos. Co. Id, usai dialog stakeholder panas bumi gunung Ungaran:manfaat, resiko, dan suara masyarakat, di Fisip Undip Semarang, Kamis 17 September 2026.
Tentu dengan proses penerimaan memenuhi syarat kompetensi. Tetapi bagi anak muda yang belum pengalaman bisa dilatih terlebih dulu hingga mampu bekerja.
Selain itu, katanya, jika sudah berjalan, uap atau energi panas yang dihasilkan juga bisa digunakan untuk membantu peoses pengeringan kopi, pembuatan gula aren, pengeringan produk-produk pertanian.
“Yang pasti pembangunan infrastruktur jalan akses lokasi akan kita perlebar. Juga akan ada program pemberdayaan masyarakat lokal dan community development. Ada program penerimaan negara yang dialokiaskan untuk pembangunan daerah sekitar. Ada beasiswa sekolah, yang semuanya nanti kita koordinasi dan mohon petunjuk pemerintah daerah,”ucapnya.
Untuk kemungkinan warga lokal kelak listriknya digratiskan setelah proyek berjalan, menurut John regulasinya tidak mendukung untuk itu. Karena seluruh pelanggan PLN wajib transaksi, tetapi kalau toh ada bantuan dalam bentuk subsidi dari pemerintah.
Untuk memberi edukasi dan sosialisasi lebih luas, PLN berencana mengajak masyarakat terdampak dan pihak terkait lainya untuk meninjau geothermal yang sudah berjalan. Apakah proyel tersebut menganggu dan merusak lingkungan atau tidak.
“Prinsipnya kami siap, di lokasi (geothermal) milik PLN kami siap, tentu kami koordinasi dengan pemerintah daerah,” tambahnya.
Asal tahu, Kementerian ESDM sudah mengeluarkan surat resmi dan menunjuk PLN sebagai operator proyek geothermal Ungaran. Indoensia termasuk negara yang menyepakati Paris Agreement, bahwa tahun 2060 semua sumber energi harus beralih ke energi ramah lingkungan (energi hijau), salah satunya panas bumi. Uap panasnya digunakan untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan energi listrik.
Proyek dengan kapasitar 55 Mega Watt ini akan menggunakan lahan 29 ribuan hektar untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (AKP). Saat ini masih tahap kajian dan pengurusan ijin. Jika lancar tahun 2029 tahap explorasi dan 2031 tahap exploitasi (operasional). Namun proyek ini ditolak kalangan aliansi penyelamat gunung dan masyarakat sekitar. Mengingat wilayah candi Gedong Songo obyek wisata dan banyak candi yang harus dilindungi. Petani takut sumber air berkurang dan lingkungan terganggu. (jan)




