JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Sebuah momentum bersejarah tercipta dengan diresmikannya Markaz Aisyah, kompleks terpadu yang dibangun sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak yatim binaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan ‘Aisyiyah Putri Tuntang.
Pembangunan kompleks ini merupakan hasil kerja sama dan bantuan dari World Assembly of Muslim Youth (WAMY), organisasi kepemudaan Muslim internasional yang dikenal aktif dalam berbagai program kemanusiaan dan dakwah.
Markaz Aisyah hadir sebagai kawasan terpadu yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan menyeluruh anak-anak yatim binaan, meliputi Rumah Yatim sebagai tempat tinggal utama, Masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan spiritual, Rumah Imam, ruang makan bersama, ruang kesehatan untuk layanan medis dasar, toko sebagai unit usaha penunjang, serta ruang belajar guna mendukung proses pendidikan dan pengembangan diri anak-anak asuh.
Kehadirannya menjadi penanda kepedulian dan gotong royong lintas lembaga untuk menghadirkan tempat pembinaan yang lebih layak dan menyeluruh bagi anak-anak yatim.
Setiap fasilitas dibangun dengan fungsi yang saling melengkapi. Anak-anak tidak hanya memiliki tempat untuk pulang, tetapi juga ruang untuk belajar, mendapatkan pendampingan, menjaga kesehatan, beribadah, sekaligus mengembangkan potensi diri.
Peresmian berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah tokoh. Markaz Aisyah secara resmi diresmikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Semarang, Prof. Dr. Muh Saerozi, M.Ag., bersama Direktur WAMY Indonesia, Ustadz Aang Suwandi, Lc., M.A.
Ketua Panitia Pembangunan, Dr. Ida Zahara Adibah, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut mengawal pembangunan tersebut.
Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada WAMY dan para donatur yang memberikan dukungan, baik dalam bentuk bantuan maupun kontribusi lainnya, sehingga kompleks yang selama ini diharapkan akhirnya dapat diwujudkan.
Bagi Muhammadiyah, berdirinya Markaz Aisyah bukan sekadar bertambahnya fasilitas fisik. Lebih dari itu, kompleks tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi anak-anak yatim.
Prof. Saerozi menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada WAMY atas dukungan yang diberikan dalam pembangunan Markaz Aisyah.
Menurutnya, peresmian tersebut menjadi awal dari babak baru bagi LKSA PA ‘Aisyiyah Putri Tuntang dalam memberikan pengasuhan dan pelayanan yang lebih layak serta komprehensif.
Markaz Aisyah diharapkan mampu menjadi tempat yang membuat anak-anak binaan dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kebutuhan mereka, baik secara fisik, spiritual maupun intelektual.

Sementara itu, Ustadz Aang Suwandi menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kerja sama yang terjalin dengan Muhammadiyah.
Namun, menurutnya, pembangunan fisik hanyalah langkah awal. Fasilitas yang telah berdiri harus benar-benar dihidupkan dengan berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi anak-anak yatim dan masyarakat sekitar.
Ia berpesan agar seluruh fasilitas Markaz Aisyah dapat dimakmurkan dan dimanfaatkan secara optimal.
Pesan tersebut menjadi penting karena sebuah kompleks pembinaan tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, tetapi juga dari seberapa jauh ruang-ruang tersebut mampu melahirkan kegiatan yang memberi manfaat dan membentuk karakter penghuninya.
Di luar agenda peresmian, kunjungan WAMY juga berlanjut ke lokasi lain. Ustadz Aang Suwandi menyempatkan diri melakukan survei untuk rencana pembangunan Pesantren Lansia di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ungaran.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kesinambungan kerja sama. Sebelumnya, PCM Ungaran juga pernah menerima bantuan dari WAMY untuk pembangunan masjid.
Dengan demikian, hubungan yang terjalin tidak berhenti pada satu proyek pembangunan. Kerja sama tersebut berkembang menjadi rangkaian ikhtiar untuk menghadirkan fasilitas yang diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat dalam berbagai kelompok usia.
Kini, Markaz Aisyah memiliki tugas yang lebih besar setelah seremoni peresmian berakhir. Ruang-ruang yang telah dibangun harus diisi dengan pendidikan, pengasuhan, ibadah, kesehatan, dan aktivitas pemberdayaan.
Sebab pada akhirnya, nilai sebuah bangunan bukan hanya terletak pada dinding dan fasilitas yang berdiri di dalamnya, tetapi pada manusia yang tumbuh dan menemukan masa depannya di sana.
Bagi anak-anak yatim binaan LKSA PA ‘Aisyiyah Putri Tuntang, Markaz Aisyah diharapkan menjadi lebih dari sekadar rumah. Juga menjadi tempat untuk bertumbuh, belajar, dan menyiapkan langkah menuju masa depan mereka. (muz)





