Limbah Sapi Jadi Berkah, Karang Taruna Desa Manggihan Getasan Tembus 5 Besar Nasional


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Dari limbah yang selama ini dianggap masalah, pemuda Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, justru menemukan jalan untuk menciptakan manfaat. Kotoran ternak dan sisa hasil pertanian diolah menjadi biogas serta berbagai pupuk organik.

Inovasi itulah yang mengantarkan Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan,  mewakili Jawa Tengah (Jateng) dalam seleksi Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat nasional. Bahkan, kelompok yang sejak 2018 mengembangkan pemberdayaan pemuda berbasis lingkungan tersebut kini masuk lima besar kandidat nasional.

Ketua Karang Taruna Dharma Remaja, Juari, mengatakan ide pengolahan limbah berawal dari kondisi Desa Manggihan yang berada di kawasan hulu sungai menuju Danau Rawa Pening. Di sisi lain, mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan peternakan.

Produksi kotoran sapi yang cukup besar menjadi persoalan tersendiri. Jika tidak dikelola, limbah peternakan maupun sisa sayuran berpotensi mencemari lingkungan.

“Kami menginisiasi berbagai kegiatan untuk mengubah masalah tersebut menjadi berkah,” kata Juari kepada Jateng Pos saat menerima tim visitasi lapangan dari Kementerian Sosial, akhir pekan lalu.

Dengan menggandeng Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wira Tani Produktif, limbah tersebut kemudian diolah menjadi biogas, pupuk organik, bokasi, kascing, hingga instalasi pemanen air hujan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah biogas berbahan limbah sayuran. Prosesnya sederhana. Sampah sayuran dicampur air dengan perbandingan tertentu, kemudian dimasukkan ke dalam drum berkapasitas 200 liter. Gas yang terbentuk ditampung menggunakan ban dalam truk sebelum dialirkan ke kompor.

Baca juga:  Kelola Dana Amanat, BPJS Kesehatan Gelontorkan Klaim 113,47 Triliun

“Campurannya satu kilogram sampah sayuran dicampur satu liter air. Untuk tahap awal dibutuhkan waktu satu bulan agar menghasilkan gas metan, tapi selanjutnya bisa secara alamiah berproses,” jelasnya.

Sisa dari proses produksi biogas pun tidak dibuang. Bahan tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk tanaman.

Bagi warga, inovasi itu bukan sekadar upaya mengurangi limbah. Produk yang dihasilkan mulai memberikan nilai ekonomi sekaligus membuka sumber pendapatan bagi anggota Karang Taruna.

“Saat ini usaha yang dirintis telah bisa memberikan income untuk anggota,” ungkap Juari.

Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kementerian Sosial RI, Andrianus Alla didampingi Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang Istichomah memberikan keterangan di sela visitasi di kelompok usaha Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Dari Masalah Lingkungan Jadi Sumber Penghasilan

Dampak inovasi tersebut menjadi salah satu perhatian tim penilai Karang Taruna Berprestasi 2026. Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kementerian Sosial RI, Andrianus Alla, mengatakan penilaian tidak hanya melihat kreativitas program, tetapi juga seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.

Menurutnya, Karang Taruna Dharma Remaja memiliki potensi karena mampu mengembangkan inovasi yang melibatkan pemuda sekaligus memberi dampak langsung bagi lingkungan dan perekonomian warga.

“Salah satu dampaknya adalah meningkatnya produktivitas, kotoran sapi dari peternak dapat dihargai sekitar Rp 250.000 untuk satu mobil pikap,” ujar Andrianus.

Baca juga:  Halal Bihalal Hotel Ciputra Semarang, jadi Momen Semangat Baru Karyawan

Pengolahan limbah tersebut juga dinilai membantu meredam potensi konflik sosial yang sebelumnya muncul akibat persoalan kotoran ternak.

“Pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik mampu mengurangi potensi konflik sosial yang sebelumnya muncul akibat limbah peternakan,” katanya.

Kini, limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru bisa menjadi sumber penghasilan. Kotoran sapi dikumpulkan dari peternak, kemudian diolah menjadi pupuk yang memiliki nilai jual.

Andrianus mengatakan Kemensos akan mendorong keberlanjutan inovasi tersebut, termasuk membantu pengurusan izin edar produk pupuk organik agar dapat dipasarkan lebih luas.

“Tantangan kami bagaimana supaya ini bisa dijual lebih luas. Kami membutuhkan izin edar. Ini yang akan kami coba lakukan pendampingan kepada Karang Taruna Manggihan,” ujarnya.

Dari Desa Manggihan, gagasan sederhana itu kini dibawa ke panggung nasional. Bukan sekadar mengejar predikat Karang Taruna berprestasi, tetapi menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ketika dikelola bersama oleh anak-anak muda desa.

“Kami sangat mendorong dan sangat mengapresiasi terkait dengan hal ini dan kami akan terus melakukan pendampingan untuk memastikan bahwa inovasi ini tetap berlanjut dan bisa direplikasi ke daerah lain,” pungkasnya. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...