JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Senyum lebar mengembang di wajah Sarman (57). Beberapa giginya sudah tanggal, menyisakan ruang kosong yang justru membuat senyumnya tampak semakin lepas. Tak ada raut malu. Sebaliknya, ia seperti ingin menunjukkan bahwa waktu memang terus berjalan dan tubuhnya pun tak lagi muda.
Di usianya yang kini menginjak 57 tahun, Sarman bahkan sudah menjadi seorang kakek. Namun hari itu, wajahnya justru terlihat seperti orang yang baru mendapatkan kabar gembira.
Ia bersama 48 pegawai dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Semarang menerima surat keputusan (SK) purna tugas. Mereka akan memasuki masa pensiun pada periode Maret-April 2027.
Penyerahan SK dilakukan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kabupaten Semarang Wenny Maya Kartika di aula kantor setempat, Selasa (6/10/2026).
Bagi Sarman, SK tersebut bukan sekadar selembar dokumen yang menandai berakhirnya masa pengabdian sebagai aparatur sipil negara. Di balik kertas itu tersimpan perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade.
Ia memang baru akan benar-benar memasuki masa pensiun pada Maret 2027 mendatang. Namun sesuai proses administrasi kepegawaian, SK purna tugas diserahkan lebih awal. Dan, ketika lembaran itu akhirnya berada di tangannya, ingatan Sarman seperti ditarik kembali ke masa lalu.
Ke sekitar tahun 2003, saat itu, seorang lelaki muda datang melamar pekerjaan sebagai teknisi di Radio Suara Serasi, radio yang ketika itu masih dikelola Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Semarang.
Sarman tidak datang dengan bekal pendidikan khusus tentang teknik radio. Kemampuannya justru banyak ditempa secara otodidak dan dari pengalaman bekerja sebelumnya di Radio Mercy Kota Semarang.
Dunia radio perlahan menjadi tempatnya bertumbuh. Ia tidak hanya berkutat dengan kabel, perangkat pemancar, mixer, mikrofon maupun berbagai peralatan teknis lainnya. Dari balik ruang studio, Sarman mulai mengenal lebih jauh bagaimana sebuah siaran radio bisa hadir di tengah masyarakat.
Kemampuannya pun beberapa kali benar-benar diuji. Salah satu pengalaman yang masih melekat dalam ingatannya adalah ketika tower antena Radio Suara Serasi di Bukit Cemanggal, Bergas, roboh akibat kesalahan teknis. Sarman ikut turun tangan memperbaikinya.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya persoalan perangkat yang rusak. Tetapi bagi Sarman, memastikan radio kembali mengudara adalah bagian dari tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Tekad dan ketekunannya akhirnya membuahkan hasil. Sekitar 2010, Sarman bersama sejumlah pegawai kontrak lainnya diangkat menjadi PNS. Statusnya berubah, tetapi kecintaannya terhadap radio tidak pernah berubah.
Dari seorang teknisi, ia mulai belajar menjadi operator lagu. Perlahan ia mengenal pekerjaan di balik meja siaran. Kini, selain tetap memahami urusan teknis, Sarman juga merangkap sebagai penyiar.
Suara yang selama bertahun-tahun hanya ia dengarkan dari balik perangkat, akhirnya menjadi suara yang ia bawa langsung kepada para pendengar.
Tiga Kali Pindah Radio
Selama 23 tahun mengabdi di Radio Suara Serasi, Sarman menjadi saksi perubahan perjalanan radio milik pemerintah daerah tersebut. Ia mengalami tiga kali perpindahan studio.
Studio pertama berada di kompleks DPRD Kabupaten Semarang, Jalan Kartini, Ungaran. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Gedung Korpri di Jalan Gatot Subroto, Ungaran.
Hingga akhirnya, studio Radio Suara Serasi menempati kompleks Kantor Bupati Semarang di Jalan Diponegoro, Ungaran. Tiga lokasi berbeda itu menjadi bagian dari kenangan panjang Sarman.
Banyak hal berubah selama 23 tahun. Peralatan radio berkembang. Cara orang menikmati siaran berubah. Teknologi semakin canggih. Bahkan pola komunikasi masyarakat pun ikut bergeser.
Namun satu hal yang tidak berubah dalam diri Sarman, adalah kecintaannya kepada radio. Bagi dia, radio bukan sekadar tempat mencari nafkah atau ruang kerja yang harus didatangi setiap pagi. Radio sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Radio adalah nyawa separo saya,” ujarnya.
Kalimat itu meluncur ringan, tetapi terasa seperti kesimpulan dari perjalanan panjang seorang pegawai yang menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di balik suara-suara yang mengudara.
Kini masa pensiun mulai berada di depan mata. Maret 2027 nanti, status Sarman sebagai PNS resmi berakhir. Ia akan meninggalkan rutinitas sebagai aparatur sipil negara yang selama puluhan tahun dijalaninya.
Tetapi bukan berarti ia siap benar-benar meninggalkan radio. Justru sebaliknya, Sarman sudah memiliki rencana sederhana. Setelah pensiun nanti, ia ingin tetap bekerja di dunia radio jika masih diberi kesempatan.
“Saya mungkin akan tetap bekerja di radio setelah pensiun nanti,” katanya mantap.
Senyumnya kembali mengembang. Gigi yang ompong itu kembali terlihat. Tidak ada kesedihan yang berlebihan dalam wajah Sarman. Barangkali ia sadar bahwa pensiun hanyalah akhir dari satu status pekerjaan, bukan akhir dari kecintaannya pada dunia yang telah menemaninya selama 23 tahun.
Sebab selama suara masih bisa keluar dari mikrofon, perangkat masih bisa diperbaiki, dan siaran masih bisa menjangkau pendengar, Sarman merasa masih memiliki tempat di sana. Di dunia radio yang sudah menjadi separuh nyawanya. (muz)





