Ojo Dumeh Fest ke-5 ‘Ambyar’, saat ‘Suminten Edan’ Mendadak Turun Panggung Hampiri Anggota DPRD Jateng


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Lapangan Dusun Kemitir, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang mendadak riuh Minggu sore (2/8/2026). Ratusan warga tertawa, sebagian kaget, sebagian tepuk tangan. Penyebabnya, ‘Suminten Edan’ yang diplot sebagai orang dengan gangguan jiwa tiba-tiba turun panggung.

Dalam gelaran Ojo Dumeh Fest putaran ke-5 itu, terlihat seorang gadis dengan rambut kusut dan baju lusuh mendadak berlari meninggalkan pentas. Ia menerobos tenda tamu undangan, langsung duduk di samping kursi anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah (Jateng), Bagus Suryokusumo.

Dengan nada manja ia memanggil, “Mas Broto…”. Suasana seketika ambyar. Tawa penonton pecah. Bagus Suryokusumo sendiri terlihat salah tingkah, kaget bercampur bingung.

Tapi tunggu dulu. Itu semua ternyata bagian dari pertunjukan, plot twist ‘Suminten Edan’. Aksi tak terduga itu adalah bagian dari garapan kelompok kesenian Bekso Krido Esti (BKE) asal Kecamatan Sumowono.

Mereka membawakan lakon ‘Suminten Edan’ kisah tragis cinta antara Raden Mas Subroto, putra bupati, dengan Roro Suminten, gadis rakyat biasa.

Baca juga:  Tol Bawen-Ambarawa Dibuka Fungsional Saat Mudik Lebaran

Dalam ceritanya, cinta mereka ditolak. Pernikahan dibatalkan. Penolakan itu membuat jiwa Suminten terguncang. Putri Warok Gunaseco itu akhirnya mengalami gangguan jiwa.

Nah, di puncak adegan, Suminten yang depresi itu kabur dari atas panggung dan mencari Mas Broto di antara penonton. Dan sialnya, yang didatangi justru Bagus Suryokusumo.

“Benar-benar di luar dugaan. Kaget, bingung, tapi lucu juga,” aku Bagus sambil tertawa mengingat momen itu.

Bagi legislator PDI Perjuangan itu, justru di situlah letak kekuatan seni. Interaksi langsung dengan penonton membuat pentas jadi hidup.

“Ini bagian dari kreativitas. Sehingga penampilan kesenian lebih hidup dengan kejutan dan interaksi bersama penonton di sekitar panggung,” ungkapnya.

Ojo Dumeh Fest sendiri merupakan bentuk dukungan nyata Pemerintah Provinsi Jateng terhadap pelestarian budaya. Menurut Bagus, seni bukan hanya identitas, tapi juga perekat kebersamaan dan penjaga nilai luhur bangsa.

Baca juga:  Polda Jateng Kembali Raih Tiga Penghargaan Nasional dari Div Humas Polri

“Festival ini menjadi wadah yang tepat bagi para pelaku seni budaya di Kabupaten Semarang untuk terus berkarya, berekspresi serta menampilkan kreativitas terbaiknya,” katanya.

Di akhir acara, Bagus berharap Ojo Dumeh Fest tidak berhenti jadi hiburan semata. Ia ingin dari festival ini lahir kelompok-kelompok seni lokal yang kreatif, berani bereksperimen, dan populer.

“Selain menghadirkan hiburan berkualitas, saya ingin dari Ojo Dumeh Fest ini lahir kelompok seni yang kreatif dan populer karena aksi pertunjukannya,” tandasnya.

Sore itu, saat panggung tidak ada lagi pemain dan warga mulai pulang, satu hal yang dibicarakan bukan siapa yang tampil mengesankan. Tapi bagaimana lakon Suminten Edan berhasil membuat satu lapangan ambyar. Karena kreasi seni yang berani keluar dari pakem, hingga menyentuh langsung ke hati penonton. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...