JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Penolakan masyarakat atas rencana proyek geothermal di lereng gunung Ungaran untuk pembangkit listrik, mendapat tanggapan ahli geologi Undip Semarang.
Pakar geologi Undip, Prof. Dr. Agus Setyawan, mengatakan, geothermal, merupakan energi panas bumi yang paling unggul dibanding sumber energi lain.
Kelebihan geothermal bersifat alami, energi hijau, bersih, sedikit emisi, tidak ada pertambangan, dan jangka panjang. Explorasinya membutuhkan lahan yang sedikit.
“Sangat berbeda dengan energi fosil dari batu bara. Teknologi energi fosil selalu menambang dan bersifat merusak alam,” katanya, saat dialog Stakeholder Panas Bumi Gunung Ungaran:Manfaat, Resiko, dan Suara Masyarakat, yang digelar FISIP Undip Semarang, Kamis 17 September 2026.
Karena itu, Agus mengatakan, dari sisi kajian keilmuan, geothermal lebih baik dibanding energi lain. Dia berpendapat, masyarakat sekitar gunung Ungaran tidak perlu khawatir dengan rencana ekxplorasi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tersebut. Rencananya, explorasi sekitar 2 kilometer dari tapak lokasi sumur uap di kawasan wisata Candi Gedong Songo lereng gunung Ungaran.
Agus mengaku punya pengalaman selama sekolah di Jepang. Disana, dia kebetulan bergulat dengan penelitian proyek geothermal di Hatchobaru, Jepang. Sambil menunjukkan foto lokasi geothermal, Agus menyampaikan secara dampak lingkungan tidak ada sama sekali.
“Kami hampir seminggu sekali kesana untuk penelitian, lokasinya tetap hijau, bersih, banyak pohon, cerobong asapnya tetap keluar apa adanya. Tidak ada polusi, kehidupan pertanian tetap berjalan seperti baisa,” katanya.
Agus menjelaskan, prinsip kerja geothermal sepeti orang memasak air di dalam ketel. Saat air mulai panas maka muncul desakan uap panas keluar. Uap panas yang bercampur air itulah yang akan menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik. Air yang nyemprot akan diinjeksikan kembali ke dalam tanah sehingga tidak sampai keluar.
“Akan berbeda dengan kasus lumpur Lapindo yang tanpa kendali mengeluarkan lumpur terus-menerus. Karena di gunung Ungaran lapisan tanahnya bebatuan keras. Kalau Lapindo bagian bawahnya lapisan sedimentasi lumpur, wajar ketika pengeboran gagal akan mengeluarkan dampak,”ucapnya.
Agus meminta operaror PLT untuk melihat sikap masyarakat tidak dianggap sebagai penolakan. Tetapi kepedulian. Semua harus handarbeni terhadap gunung Ungaran dan kepentingan nasional yang lebih besar.
Asal tahu, Kementerian ESDM sudah mengeluarkan surat resmi dan menunjuk PLN sebagai operator proyek geothermal Ungaran. Indoensia termasuk negara yang menyepakati Paris Agreement bahwa tahun 2060 semua sumber energi harus beralih ke energi ramah lingkungan (energi hijau).
Proyek dengan kapasitar 55 Mega Watt ini akan menggunakan lahan 29 ribuan hektar untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (AKP). Saat ini masih tahap kajian dan pengurusan ijin. Jika lancar tahun 2029 tahap explorasi dan 2031 tahap exploitasi (operasional). Namun proyek ini ditolak kalangan aliansi penyelamat gunung dan masyarakat sekitar. Mengingat wilayah candi Gedong Songo obyek wisata dan banyak candi yang harus dilindungi. Petani takut sumber air berkurang dan lingkungan terganggu. (jan)




