JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Diagnosis kanker usus stadium dua menjadi pukulan berat bagi Sofi, 32, ibu rumah tangga asal Semarang, yang awalnya mengira keluhan perutnya hanya gangguan pencernaan biasa. Namun, di tengah perjuangannya menjalani pengobatan, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang penting karena menanggung biaya pelayanan medis, mulai dari pemeriksaan hingga operasi dan kemoterapi.
Sofi menceritakan, keluhan yang dialaminya bermula dari kesulitan buang air besar selama berbulan-bulan dengan frekuensi hanya dua hingga tiga hari sekali. Ia sempat mengonsumsi obat-obatan sendiri karena menganggap kondisi tersebut sebagai masalah pencernaan biasa, sementara ukuran perutnya perlahan membesar hingga sempat dikira sedang hamil oleh tetangganya.
“Awalnya itu sudah berbulan-bulan susah buang air besar, bisa dua atau tiga hari sekali, lalu diminumi obat-obatan saja, pikir saya hanya masalah pencernaan biasa. Namun, kata tetangga perut mulai besar bahkan sampai dikira hamil,” ungkap Sofi, Kamis (8/10).
Kondisinya semakin memburuk ketika ia mengalami nyeri perut setelah tidak bisa buang air besar selama sepekan. Sofi kemudian memeriksakan diri ke puskesmas dan mendapatkan obat untuk keluhan yang diduga berkaitan dengan gangguan lambung, tetapi rasa sakitnya tidak kunjung membaik.
“Di puskesmas katanya sakit lambung, lalu diberikan obat. Beberapa hari rasanya kok masih sama, lalu diberikan rujukan ke salah satu rumah sakit. Di rumah sakit tersebut masih diobservasi dan dilakukan rawat jalan,” ucapnya.
Nyeri hebat kembali menyerang keesokan harinya hingga Sofi tidak sanggup menahannya sendiri. Bersama suaminya, ia bergegas menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Roemani Semarang untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
“Sekitar subuh saya menuju IGD, kemudian ditangani dan terdiagnosis batu empedu serta memerlukan tindakan operasi. Saat dilakukan tindakan operasi, ternyata barulah diketahui terjadi pembengkakan di bagian usus dan terdapat tumor sehingga saya divonis terkena kanker usus stadium dua dan harus dilakukan operasi saat itu juga,” terangnya.
Operasi yang berlangsung sekitar enam jam berhasil mengangkat tumor di usus Sofi dengan berat mencapai tiga kilogram. Ia mengaku baru mengetahui diagnosis kanker usus setelah tindakan operasi, sebab sebelumnya dirinya hanya mengetahui rencana penanganan untuk batu empedu.
“Baru tahu terkena kanker usus setelah operasi, karena posisi sudah tidak sadar dan tahunya rencana awal untuk tindakan operasi batu empedu. Alhamdulillah semua bisa berjalan lancar,” jelasnya.
Setelah operasi, perjuangan Sofi belum berakhir karena ia masih harus menjalani kemoterapi untuk menangani penyakitnya. Hingga saat ini, ia telah menjalani sekitar lima kali kemoterapi dan memilih melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit Telogorejo Semarang.
“Semuanya ditanggung Program JKN, tidak ada biaya yang keluar, mulai dari pelayanan di puskesmas, tindakan operasi, obat-obatan, bahkan hingga kemoterapi. Kebetulan saya terdaftar peserta JKN dari perusahaan suami, jadi sudah langsung terpotong setiap bulannya dari gaji suami,” tuturnya.
Menurut Sofi, pelayanan yang diterimanya di fasilitas kesehatan sangat membantu selama menjalani rangkaian pengobatan. Ia juga merasakan pelayanan yang setara, baik dalam urusan administrasi, fasilitas, maupun penanganan oleh tenaga kesehatan, sehingga tidak mengalami diskriminasi sebagai peserta JKN.
Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan, Sofi berharap Program JKN terus dipertahankan agar masyarakat yang membutuhkan pengobatan, terutama untuk penyakit dengan biaya tinggi, tetap memperoleh akses pelayanan kesehatan. Baginya, prinsip gotong royong dalam program tersebut memberikan perlindungan nyata ketika seseorang menghadapi kondisi kesehatan yang tidak terduga.
“Harapannya Program JKN ini tidak terhapus, harus tetap ada, apalagi sifatnya yang gotong royong. Jika yang sehat alhamdulillah, tapi jika sakit seperti saya ini bisa terbantu. Biayanya pun juga terjangkau, intinya terima kasih karena sangat membantu saya,” tutup Sofi dengan tangis haru. (aln)






