Bangkit dari Rob: Kisah Mangunharjo Menjadi Sentra Ekonomi Baru Berkat Kolaborasi Pertamina


JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Air rob pernah merenggut produktivitas tambak dan mempersempit ruang gerak ekonomi warga pesisir Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Di tengah ancaman genangan dan abrasi, sebagian lahan tak lagi optimal digarap, sementara petani harus berhadapan dengan biaya produksi dan keterbatasan modal. Potensi bandeng dan pertanian yang semestinya menjadi sumber penghidupan belum sepenuhnya mampu mengangkat kesejahteraan keluarga.

Kini, perubahan mulai terlihat. Tambak kembali menghasilkan, hasil panen bandeng meningkat, dan para ibu rumah tangga mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah. Di Pondok Mami SERA, warga juga mengembangkan usaha bersama melalui koperasi dan memanfaatkan energi surya untuk mendukung kegiatan produktif. Transformasi tersebut tumbuh melalui program Mangunharjo Mandiri Sejahtera (Mami SERA), hasil kolaborasi masyarakat dengan PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Ahmad Yani Semarang.

Perubahan di Mangunharjo bukan semata tentang menghidupkan kembali lahan yang terdampak rob. Lebih dari itu, program ini memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dirangkai menjadi ekosistem ekonomi yang saling menguatkan, mulai dari produksi pangan, pengolahan hasil, pemasaran, hingga pemanfaatan energi bersih.

Tambak Kembali Menghidupkan Harapan

Bagi M. Bahrun, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, bertahan sebagai petambak di kawasan pesisir membutuhkan lebih dari sekadar kemauan. Kondisi lingkungan, ancaman rob, dan keterbatasan biaya membuat pengelolaan tambak tidak selalu berjalan sesuai harapan. Lahan yang dimiliki pun belum seluruhnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sebelum mendapat pendampingan, hasil panen bandeng dari satu hektare tambak yang dikelolanya berkisar dua kuintal. Produktivitas tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani yang harus menjaga keberlangsungan usaha di tengah tingginya kebutuhan operasional.

Melalui program Mami SERA, petambak mendapatkan dukungan sarana budidaya, termasuk pengembangan sistem jaring dan pembuatan pakan secara mandiri. Pendampingan tersebut membantu warga memperbaiki pola pengelolaan tambak sekaligus mencari cara untuk menekan biaya produksi.

Perubahan itu dirasakan Bahrun. Hasil panen yang sebelumnya berkisar dua kuintal per hektare meningkat menjadi sekitar empat hingga lima kuintal lebih. Masa budidaya yang semula membutuhkan waktu sekitar enam bulan juga dapat dipangkas menjadi empat bulan.

“Dulu lahan kami tergenang rob dan dibiarkan begitu saja. Sekarang sudah bisa dipanen lagi, penghasilan kami juga meningkat,” tutur Bahrun.

Peningkatan produktivitas tersebut memberikan peluang bagi petani untuk memperbaiki perputaran usaha. Waktu budidaya yang lebih singkat memungkinkan pengelolaan tambak menjadi lebih efisien, sementara peningkatan hasil panen membuka kesempatan untuk memperkuat pendapatan keluarga.

Bagi Bahrun, dukungan yang diterima juga memberikan keyakinan bahwa usaha pertambakan masih memiliki masa depan. Ketersediaan benih, pakan, dan pendampingan membantu petani mengembangkan kemampuan, bukan sekadar mempertahankan kegiatan budidaya seperti sebelumnya.

Ketika Bandeng Menyatukan Petani dan Ibu Rumah Tangga

Kebangkitan ekonomi Mangunharjo tidak berhenti di pintu tambak. Hasil panen bandeng mulai terhubung dengan kegiatan pengolahan yang membuka peluang usaha bagi kelompok perempuan. Ikan yang sebelumnya dijual sebagai komoditas segar kini dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di balik perubahan tersebut, Koperasi Trengginas Jaya Abadi menjadi pengikat kegiatan ekonomi warga. Koperasi yang diketuai Utami Dewi ini menghimpun 40 anggota, terdiri atas 25 ibu rumah tangga dan 15 petani tambak. Melalui kelembagaan bersama, produksi perikanan dan pengolahan pangan memiliki peluang untuk saling menopang.

Produk yang dikembangkan beragam, mulai dari abon bandeng, bandeng presto, otak-otak, pepes, hingga bakso bandeng dan kerupuk telur asin. Produk-produk tersebut menjadi alternatif usaha yang memanfaatkan potensi pangan lokal sekaligus memperluas pilihan konsumen.

Utami Dewi mengatakan, sebelum bergabung dalam kegiatan pemberdayaan, pelaku UMKM banyak menjalankan produksi dan pemasaran secara sendiri-sendiri. Kehadiran koperasi membantu mereka membangun kerja sama, memperkuat pengelolaan usaha, dan menyediakan tempat untuk memproduksi serta memasarkan hasil olahan.

Baca juga:  'Strangers With Memories', Gambaran Perubahan Layanan KA

“Dulu kami berjuang sendiri-sendiri, dari produksi sampai pemasaran. Sekarang alhamdulillah, kami punya rumah produksi, punya koperasi pemasaran, dan omzet ibu-ibu makin meningkat,” ujar Utami.

Pondok Mami SERA kini difungsikan sebagai rumah produksi sekaligus outlet pemasaran terpadu. Fasilitas tersebut membantu pelaku usaha mengembangkan produk dalam satu ekosistem yang lebih terorganisasi. Pesanan yang mulai berdatangan dari luar kota juga membuka peluang bagi produk olahan Mangunharjo untuk menjangkau pasar lebih luas.

Bagi petani tambak, hubungan ini memberi arti penting. Hasil panen tidak hanya bergantung pada penjualan ikan mentah, tetapi juga dapat menjadi bahan baku bagi usaha pengolahan. Sementara bagi para ibu rumah tangga, keterlibatan dalam produksi dan pemasaran membuka kesempatan untuk memperoleh penghasilan melalui keterampilan yang dikembangkan bersama.

Koperasi juga mulai memperkuat tata kelola kelembagaan. Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) menjadi bagian dari perkembangan organisasi. Dengan pengelolaan yang konsisten, koperasi diharapkan dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan usaha warga, bukan sekadar tempat berkumpulnya pelaku UMKM.

Energi Matahari untuk Menggerakkan Ekonomi

Hal menarik dari Mami SERA adalah upaya menghubungkan pemberdayaan ekonomi dengan pemanfaatan energi terbarukan. Di tengah kegiatan produksi dan pengolahan pangan, Pondok Mami SERA dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6 kilowatt-peak (kWp) dengan baterai penyimpanan berkapasitas 20 kilowatt-hour (kWh).

Energi surya tersebut digunakan untuk mendukung operasional pondok, termasuk penerangan. Pemanfaatannya juga menjangkau Lumbung Mami SERA, antara lain untuk menggerakkan mesin penggilingan padi.

Kehadiran fasilitas ini menunjukkan bahwa energi bersih dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat. Teknologi tidak hanya diperkenalkan sebagai simbol kepedulian lingkungan, tetapi juga ditempatkan untuk mendukung aktivitas produktif warga.

Selain pemanfaatan PLTS, pengembangan alat pembuat pakan ikan secara mandiri melalui kerja sama dengan Universitas IVET Semarang turut membantu petambak mengelola kebutuhan produksi. Kemampuan menyediakan pakan sendiri membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar dan meningkatkan efisiensi usaha.

Pengembangan tersebut menjadi penting karena kemandirian ekonomi masyarakat pesisir berkaitan erat dengan kemampuan mengelola biaya. Produktivitas yang meningkat akan lebih bermakna ketika petani juga memiliki ruang untuk mengendalikan pengeluaran dan mempertahankan hasil usahanya.

Dari Sawah hingga Produk Bernilai Tambah

Potensi Mangunharjo tidak hanya berasal dari perikanan. Lahan pertanian juga menjadi bagian dari pengembangan ketahanan pangan melalui upaya menyesuaikan budidaya dengan karakteristik wilayah pesisir.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah varietas padi Biosalin yang memiliki ketahanan terhadap kadar garam tinggi. Pengembangannya dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain Biosalin, petani juga mengembangkan varietas Inpari 32.

Pengembangan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan menjadi salah satu upaya menghadapi tantangan salinitas di kawasan pesisir. Dengan pendekatan tersebut, potensi pertanian tetap dapat dikembangkan meski kondisi lingkungan menuntut penyesuaian dalam pola budidaya.

Hasil pertanian dan perikanan kemudian berpeluang terhubung dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan koperasi. Beras dan bandeng tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memberikan nilai tambah.

Pola ini memperlihatkan pentingnya keterhubungan sektor hulu dan hilir. Petani dan petambak menghasilkan bahan baku, pelaku UMKM mengembangkan produk, sedangkan koperasi membantu memperkuat pemasaran. Ketika setiap bagian berjalan beriringan, manfaat ekonomi berpeluang menjangkau lebih banyak keluarga.

Baca juga:  JNE Sabet Dua Penghargaan di Indonesia Original Brands Award 2025 

Berawal dari Pemetaan Kebutuhan Masyarakat

Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga AFT Ahmad Yani Semarang, Tria Baeti Setiadini menjelaskan, Mami SERA berawal dari pemetaan sosial yang dilakukan setelah kegiatan penanaman mangrove pada 2022. Dari proses tersebut, penguatan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dikembangkan.

Program kemudian dirancang melalui pendekatan yang menghubungkan dukungan sarana prasarana, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, serta pemanfaatan energi terbarukan. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan fisik, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemampuan warga dalam mengelola potensi wilayahnya.

“Mami SERA didesain sebagai program fokus ketahanan pangan pesisir. Kami memfasilitasi sarana prasarana, peningkatan kapasitas, hingga integrasi pemanfaatan energi terbarukan,” jelas Tria.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat memerlukan proses yang berkelanjutan. Fasilitas produksi perlu disertai kemampuan pengelolaan, sementara peningkatan hasil panen perlu diikuti penguatan pasar agar manfaatnya tidak berhenti pada tahap produksi.

Ke depan, pengembangan program diarahkan untuk memperluas kolaborasi dan memperkuat kemandirian masyarakat. Koperasi diharapkan semakin mampu mengelola kegiatan usaha, petani dan petambak memperkuat produktivitas, serta pelaku UMKM meningkatkan kualitas dan jangkauan pemasaran produk.

Pondok yang Menjadi Ruang Tumbuh Bersama

Pondok Mami SERA tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi. Kawasan ini juga dikembangkan menjadi ruang belajar dan interaksi masyarakat, termasuk bagi anak-anak yang ingin mengenal pertanian dan perikanan secara langsung.

Melalui kegiatan Free Activity Zone yang digelar setiap Minggu, warga memiliki kesempatan untuk berkumpul, belajar, bermain, dan berjualan. Anak-anak dapat mencoba menanam padi atau memberi makan ikan, sementara masyarakat mengenalkan potensi lokal melalui aktivitas bersama.

Pondok ini juga dilengkapi mesin pirolisis yang dirancang untuk mengolah sampah plastik menjadi energi. Inisiatif tersebut menambah dimensi lingkungan dalam program pemberdayaan, dengan tetap menempatkan pengoperasian teknologi dan pengendalian dampak lingkungan sebagai bagian penting dari pengelolaan yang bertanggung jawab.

Kegiatan edukasi tersebut membuka ruang agar generasi muda lebih mengenal sumber pangan dan kehidupan masyarakat pesisir. Pada saat yang sama, interaksi warga di kawasan ini berpotensi memperkuat hubungan sosial yang menjadi modal penting dalam menjalankan usaha bersama.

Menjaga Perubahan agar Tetap Berkelanjutan

Hingga 2026, investasi sosial yang dialokasikan untuk program Mami SERA tercatat sudah ratusan juta. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertambakan, memperkuat usaha olahan pangan, mengembangkan kelembagaan koperasi, serta menyediakan fasilitas edukasi dan pemanfaatan energi terbarukan.

Meski demikian, tantangan Mangunharjo belum sepenuhnya berakhir. Rob dan salinitas masih menjadi risiko bagi kegiatan ekonomi pesisir. Koperasi juga perlu terus menjaga kualitas produk, memastikan ketersediaan bahan baku, memperluas pasar, dan memperkuat tata kelola agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, keberhasilan Mami SERA tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fasilitas atau besarnya dukungan yang telah diberikan. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat mengelola usaha secara mandiri, menjaga produktivitas, dan memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Dari tambak yang kembali menghasilkan, produk bandeng yang menjangkau pasar, hingga energi surya yang mendukung kegiatan produktif, Mangunharjo sedang membangun cara baru untuk menghadapi tantangan pesisir. Kolaborasi menjadi pintu masuk, sedangkan kemampuan warga mengelola potensi lokal menjadi penentu keberlanjutannya.

Rob mungkin masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Semarang. Namun, Mangunharjo kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membangun masa depan. Bukan hanya bertahan dari genangan, melainkan mengubah potensi menjadi penghidupan, memperkuat usaha bersama, dan menumbuhkan kemandirian dari lingkungan tempat mereka tinggal.(Aning Karindra)



TERKINI

Rekomendasi

...