Solo dan Xi’an Resmi Sister City, Respati Gaungkan Budaya dan Smart City


JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo resmi menjalin kerja sama Sister City dengan Pemerintah Kota Xi’an, China. Kesepakatan strategis tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama langsung oleh Wali Kota Solo, Respati Ardi.

Kemitraan antarkota ini mencakup lima sektor utama, yakni Pariwisata, Budaya, dan Sejarah; Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Ekonomi dan Perdagangan; Pendidikan; serta Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menguraikan bahwa kolaborasi di berbagai bidang ini dirancang untuk saling menguntungkan dan mendorong pembangunan bersama. Kedua kota bersepakat untuk aktif menggelar pertukaran timbal balik, kunjungan antardaerah, hingga menjaga komunikasi berkala yang berorientasi pada kepentingan bersama.

“Ini sangat berarti bagi kami, bagi Pemerintah Indonesia, khususnya bagi Pemerintah Surakarta. Kita harus memperkuat perjanjian antara Surakarta dan Xi’an. Kami berharap ini menjadi perhubungan yang baik, mulai dari pertukaran pelajar, pertukaran budaya, hingga memperkuat sektor ekonomi,” ujar Respati, ditemui sepulang dari China, Minggu (25/10).

Baca juga:  Pendekar Cilik Ziarah ke Makam Letnan Dukut

Sebelum penandatanganan kesepakatan, Respati Ardi hadir sebagai pembicara dalam forum Sister City Dialogue yang digelar di Xingqing Park, Provinsi Shaanxi, China, Kamis (22/10/2026). Forum tersebut dihadiri perwakilan dari berbagai negara yang menjalin kemitraan dengan Xi’an.

Dalam forum internasional itu, Respati mempresentasikan gagasan mengenai pelestarian budaya dan pengembangan tata kelola kota cerdas (smart governance). Menurutnya, Solo dan Xi’an memiliki kemiripan sebagai kota bersejarah yang terus berupaya mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi.

Guna menjaga warisan tersebut, Pemkot Solo menerapkan pendekatan cultural-led urban development (pembangunan perkotaan berbasis budaya). Pendekatan ini diwujudkan melalui revitalisasi kawasan bersejarah—seperti keraton, pasar tradisional, dan kampung-kampung lama—yang diintegrasikan ke dalam ruang publik modern tanpa menghilangkan karakter arsitekturnya.

Baca juga:  Polres Sukoharjo Terapkan Keadilan Testoratif Kasus Pencurian di Bawah Umur

“Di Surakarta, warisan budaya merupakan jiwa dari identitas kami. Mempertahankan kawasan bersejarah bukan berarti menghentikan pembangunan, tetapi memastikan perkembangan kota tetap berjalan tanpa menghilangkan karakter budayanya,” tegas Respati.

Tak sekadar hubungan seremonial, Respati mendorong agar kerja sama sister city Solo-Xi’an ini berkembang menjadi kemitraan yang pragmatis dan berorientasi pada aksi nyata.

Ia mengusulkan pembentukan kelompok kerja sektoral di bidang teknologi konservasi cagar budaya, pengelolaan kota digital, dan solusi energi hijau. Selain itu, Respati juga mendorong penguatan ekonomi melalui pertukaran pelajar, promosi pariwisata, hingga kolaborasi perdagangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Melangkah ke depan, sebagai sister city, kerja sama ini harus berkembang melampaui hubungan seremonial menuju kemitraan yang berorientasi pada aksi nyata. Kami juga berharap kolaborasi ini membawa investasi medis tradisional China ke Surakarta,” pungkasnya. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...

BI: Solo Masuki Zona Ekonomi Positif

Studi Tiru Penanganan ODGJ, Japan Red Cross...

Uniba Wisuda Sarjana ke-49 & Magister ke-28,...

BOR Isolasi RS di Solo Tinggal Terisi...