JATENGPOS.CO.ID-Salah satu kompetensi yang harus dikuasai kepala sekolah sesuai regulasi terbaru (Perdirjen GTK No. 7327/B.B1/HK.03.01/2023 tentang Model Kompetensi Kepala Sekolah adalah kompetensi sosial. Indikator kompetensi sosial sesuai aturan tersebut antara lain kolaborasi untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.
Peran penting kepala sekolah bukan sekadar sebagai manajer administrasi, melainkan sebagai nakhoda, motivator, dan perekat emosional yang mampu menyatukan visi para guru serta energi para siswa untuk bergerak bersama menuju satu tujuan. Hasil penyatuan itu akan menjadi motor penggerak sekolah dalam menuju prestasi. Kesuksesan bukan hasil kerja keras satu, dua, atau beberapa orang saja, namun merupakan hasil kolaborasi dari semua warga sekolah yang berperan sesuai kompetensi dan perannya masing-masing.
SD Negeri Tritih Lor 01 Jeruklegi memiliki guru dan karyawan yang berkompetensi baik sesuai tupoksi mereka. Jumlah siswa di sekolah ini juga banyak serta memiliki kemampuan beragam bakat yang baik sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Potensi ini menjadi kekuatan hebat untuk meraih prestasi apabila dikelola dengan maksimal. Semua potensi itu sudah berkembang namun belum maksimal karena masih ada rasa kurang percaya diri pada beberapa siswa dan guru. Pendekatan kepemimpinan yang humanis, kolaboratif, dan visioner mampu mengubah keraguan menjadi sebuah gerakan gotong royong yang masif.Gaya kepemimpinan tersebut mampu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri menuju prestasi yang lebih baik dan kejuaraan dalam lomba.
Strategi yang diterapkan dalam membangun ekosistem juara di sekolah dengan meruntuhkan sekat birokrasi menggunakan komunikasi humanis. Kepala sekolah mengubah pola komunikasi, bukan memberikan instruksi kaku dari balik meja kerja, namun turun langsung. Diskusi dirancang secara informal dan santai. Pendekatan ini terbukti ampuh meruntuhkan sekat emosional, sehingga guru merasa didengar dan siswa merasa dihargai.
Kepala sekolah memahami bahwa setiap individu memiliki warna dan kelebihannya masing-masing. Kolabarasi dilakukan oleh semua warga sekolah sesuai dengan kelebihan mereka. Kepala sekolah dan para guru juga melakukan pemetaan minat dan bakat siswa sejak awal sehingga sekolah mengasah kemampuan siswa sesuai bakat minat serta tidak serta merta saat mendekati lomba.Guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar, melainkan difasilitasi menjadi mentor yang fokus membangun materi lomba dan mengasah ketahanan mental siswa. Siswa ditempatkan pada bidang lomba yang benar-benar mereka kuasai dan cintai. Orang Tua dan komite juga dilibatkan secara aktif.
Hal penting yang harus ditanamkan bahwa, Â “Proses Lebih Utama daripada Piala”. Target utama bukanlah piala, melainkan keberanian untuk mencoba dan proses untuk berkembang. Kepala sekolah menjadi fasilitator dan pelindung utama. Dukungan penuh ditunjukkan dengan memastikan seluruh kebutuhan operasional tim lomba terpenuhi. Kehadiran fisik kepala sekolah yang kerap meninjau langsung proses latihan menjadi suntikan energi tersendiri yang membuat tim merasa tidak berjuang sendirian.
Hasil nyata, lahirnya budaya kolaborasi yang membangun atmosfer festival perayaan bakat. Seluruh warga sekolah termasuk siswa dan guru yang tidak ikut berlomba turut memberikan dukungan doa dan sorak semangat. Kemenangan yang diraih menjadi kemenangan bersama. Budaya kerja sama yang terbentuk tidak berhenti saat perlombaan usai. Semangat gotong royong tersebut melekat menjadi karakter sekolah. melahirkan lingkungan belajar lebih hidup, kreatif, dan harmonis. Prestasi luar biasa selalu lahir dari kolaborasi yang hebat.
Oleh : Atin Sukeksi, S. Pd., M. Pd.
Kepala SD Negeri Tritih Lor 01 Jeruklegi
Kabupaten Cilacap







