34 C
Semarang
Kamis, 7 Mei 2026

Kiamat Literasi: Mengapa Skor Bahasa Tak Lagi Bisa Memanusiakan Siswa?




JATENGPOS.CO.ID-Dalam ruang-ruang kelas kita, bahasa sering kali dipenjara dalam kotak-kotak pilihan ganda. Subjek, predikat, dan objek diukur dengan penggaris kaku bernama angka. Siswa yang mampu menghafal jenis-jenis majas dianggap cerdas, sementara mereka yang mampu menulis puisi dengan tetesan air mata namun sedikit luput dalam penempatan tanda baca, sering kali dianggap gagal.

Inilah wajah “kiamat” literasi yang sebenarnya: ketika penilaian tradisional menjerat bahasa hanya sebagai urusan teknis-mekanis, bukan sebagai alat untuk memanusiakan manusia. Padahal, ruh dari Pendidikan Bahasa Indonesia adalah mengasah rasa dan nalar, bukan sekadar memindahkan isi buku ke lembar jawaban ujian.

Kutukan Skor dan Matinya Rasa

Penilaian tradisional dalam pelajaran bahasa cenderung bersifat judgmental. Ia bagaikan potret buram yang hanya menangkap hasil akhir tanpa peduli pada proses. Dampaknya fatal; siswa belajar bahasa bukan untuk berkomunikasi atau berekspresi, melainkan untuk menaklukkan soal. Kurikulum Merdeka yang kini gencar diimplementasikan mencoba mendobrak kutukan skor ini. Melalui semangat Merdeka Belajar, arah asesmen digeser: dari yang sekadar menghakimi (sumatif) menuju yang membimbing (formatif).

Kami di Kelompok 10 MPBI melihat bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) hadir sebagai oase dalam kegersangan evaluasi pendidikan. PBK tidak lagi bertanya “Berapa nilaimu?”, tetapi “Bagaimana prosesmu?”. Dalam kajian evaluasi bahasa, kita disadarkan bahwa setiap anak memiliki gaya pemerolehan bahasa yang unik. Memukul rata kemampuan mereka dengan satu standar ujian adalah bentuk “ketidakadilan” yang nyata bagi tumbuh kembang potensi siswa.

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar Biologi Melalui Media Pembelajaran Book Creator

Merayakan “Warna” Bahasa Siswa

Melalui PBK, Pendidikan Bahasa Indonesia kembali ke khitahnya. Guru tidak lagi berperan sebagai “polisi bahasa” yang hanya mencari-cari kesalahan ejaan. Sebaliknya, guru menjadi kurator bakat yang merayakan setiap kemajuan kecil siswa.

Dalam praktik PBK, penilaian menjadi lebih autentik. Saat siswa diminta berpidato, yang dinilai bukan sekadar kelancaran bicara, melainkan keberanian mereka menyuarakan pendapat. Saat mereka menyusun portofolio tulisan, yang dihargai adalah evolusi ide mereka dari draf pertama hingga akhir. Kami meyakini bahwa pendidikan tidak lagi memaksa setiap anak menjadi ahli bahasa; kita sedang membantu mereka menemukan “suara” mereka sendiri. Inilah esensi memanusiakan siswa: menghargai bahwa di balik setiap kalimat yang mereka susun, ada jiwa yang sedang bertumbuh.

Menuju Paradigma Baru

Transisi dari penilaian tradisional ke PBK memang menuntut kreativitas lebih dari para pendidik. Guru Bahasa Indonesia harus mampu menyusun rubrik penilaian yang mampu menangkap aspek afektif dan psikomotorik secara seimbang. Namun, ini adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi dari sekadar menjadi “robot penghafal tata bahasa”.

Baca juga:  Pendekatan Konseling Behavioral dalam Konseling Kelompok Atasi Kesulitan Belajar Siswa

Kita harus berani mengakui bahwa rapor yang penuh angka 90 tidak menjamin seorang siswa memiliki karakter yang santun atau nalar kritis yang tajam. Sudah saatnya kita beralih dari memuja angka menuju menghargai proses.

Revolusi di meja belajar melalui PBK bukan sekadar tren kebijakan, melainkan panggilan moral untuk mengembalikan martabat siswa. Mari kita jadikan kelas bahasa sebagai ruang merdeka, di mana penilaian bukan lagi menjadi hantu yang menakutkan, melainkan cermin bagi siswa untuk melihat sejauh mana mereka telah berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bahasa bukan diukur dari seberapa banyak soal yang terjawab benar, tapi dari seberapa mampu siswa menggunakan bahasanya untuk menebar manfaat dan memanusiakan sesama.

PENULIS : Agata Margareti, Prih Haryati, Hanis Nurwidati, Tubandi, Anom Wija Pratama

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Univet Bantara Sukoharjo




TERKINI




Rekomendasi

...