Icon Burung Hantu di PKKMB UNW Ungaran, Simbol Visi Mahasiswa yang Tajam Melihat Masa Depan


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Icon sosok dua burung hantu mencuri perhatian saat Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran, Kabupaten Semarang, menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) bertajuk GET-U MABA (Gerbang Edukasi dan Transformasi untuk Mahasiswa Baru) di GOR Mandala Arogya Sanskriti, Kampus Farmasi UNW, Senin (7/9/2026).

Icon dua burung hantu itu bukan sekadar ornamen untuk memeriahkan penyambutan ribuan mahasiswa baru. Di balik sosok burung nokturnal tersebut, UNW menyelipkan pesan tentang ilmu pengetahuan, ketajaman melihat peluang, kewaspadaan, serta keberanian mahasiswa untuk menatap masa depan.

Dua burung hantu yang ditampilkan sebagai representasi mahasiswa dan mahasiswi UNW pun menjadi simbol bahwa perjalanan pendidikan tinggi bukan hanya tentang duduk di ruang kuliah dan mengejar gelar. Ada tantangan yang harus dibaca, peluang yang harus ditangkap, serta karya dan prestasi yang harus terus dilahirkan.

Dalam mitologi Yunani Kuno, burung hantu dikenal sebagai simbol kebijaksanaan dan kecerdasan. Karakter burung yang aktif pada malam hari itu juga kerap dikaitkan dengan ketajaman penglihatan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Makna tersebut terasa relevan dengan pesan yang hendak ditanamkan UNW kepada mahasiswa barunya, yakni memiliki visi yang tajam, mampu membaca situasi, berpikir kritis, serta tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi tantangan.

Rektor UNW Ungaran, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., yang akrab disapa Prof Bi, menjelaskan sosok burung hantu dipilih sebagai icon GET-U MABA UNW, karena salah satu makna utamanya merupakan lambang ilmu pengetahuan.

“Burung hantu itu lambang ilmu pengetahuan salah satunya. Selain itu juga dengan lambang simbol burung hantu itu diharapkan anak-anak bisa berkarya sepanjang waktu. Intinya di situ,” ujar Prof Bi kepada Jateng Pos saat ditemui di sela-sela kegiatan PKKMB.

Baca juga:  Memiliki Sawah dan Blower Padi Siti Asmanah Mundur dari PKH

Bagi Prof Bi, simbol burung hantu juga berkaitan erat dengan semangat mahasiswa UNW untuk terus berkembang. Ia ingin mahasiswa baru tidak merasa lebih rendah ketika harus berhadapan dengan mahasiswa dari perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi lainnya.

Pesan itu penting, sebab memasuki dunia perguruan tinggi berarti mahasiswa memasuki ruang yang jauh lebih luas. Persaingan tidak lagi hanya terjadi di lingkungan kampus, tetapi juga di tingkat nasional hingga internasional.

“Kami ingin mahasiswa UNW memiliki semangat yang tinggi, tidak merasa rendah hati dibandingkan dengan teman-temannya di PTN yang lain,” tegasnya.

Menurut Prof Bi, status sebagai universitas menjadi modal kepercayaan diri bagi seluruh mahasiswa UNW.

“Kalau sudah menjadi universitas itu ya universe. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi lain,” jelasnya.

Keyakinan tersebut, lanjut Prof Bi, bukan tanpa alasan. UNW telah memiliki mahasiswa dan alumni yang menorehkan prestasi hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa UNW memiliki ruang yang sama untuk berprestasi, sepanjang berani mengembangkan kemampuan dan tidak minder ketika berhadapan dengan mahasiswa dari kampus lain.

Prof Bi juga menyinggung pengalaman UNW saat pandemi COVID-19 pernah menjadi perguruan tinggi dengan jumlah relawan terbanyak yang dikirim di seluruh Indonesia. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kampus memiliki banyak talenta yang dapat dikembangkan menjadi generasi berprestasi berdaya tinggi untuk masyarakat.

Baca juga:  Petugas Respon Cepat Laka Lantas KM 445 - 500 Ruas Jalan Tol Semarang - Solo

GET-U MABA dan Budaya Sehat

Semangat tersebut kemudian dibingkai dalam konsep GET-U MABA. Bagi UNW, pengenalan kehidupan kampus bukan semata-mata agenda seremonial untuk menyambut mahasiswa baru. Ada karakter yang hendak dibangun sejak hari pertama mahasiswa menginjakkan kaki di lingkungan perguruan tinggi.

Prof Bi menyampaikan mahasiswa baru UNW diharapkan tumbuh dalam naungan budaya sehat. Namun, sehat yang dimaksud tidak berhenti pada kondisi fisik. Kesehatan juga mencakup kehidupan sosial dan spiritual mahasiswa.

“Melalui GET-U MABA ini kami berharap mahasiswa baru di bawah naungan budaya sehat, bukan sekadar sehat secara fisik, sehat secara sosial, sehat secara spiritual,” katanya.

Di saat yang sama, mahasiswa juga didorong memiliki prestasi unggul sesuai dengan visi UNW yang berorientasi pada reputasi internasional. Harapan itu sejalan dengan jejak sejumlah mahasiswa maupun alumni UNW yang telah memiliki prestasi di tingkat internasional.

Dengan demikian, icon burung hantu yang hadir di tengah kegiatan PKKMB tersebut menjadi lebih dari sekedar icon. Ia menjadi pengingat bagi mahasiswa baru bahwa ilmu pengetahuan harus melahirkan ketajaman berpikir, ketangguhan menghadapi perubahan, dan keberanian untuk berkarya.

Dari GOR Mandala Arogya Sanskriti, ribuan mahasiswa baru UNW memulai perjalanan akademiknya. Dua burung hantu seolah menjadi simbol pembuka, melihat lebih tajam, berpikir lebih dalam, dan terus berkarya tanpa mengenal waktu.

Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana menyiapkan diri untuk melihat masa depan lebih jauh daripada hari ini. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...