
JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) menerjunkan 510 mahasiswa Politeknik Statistika STIS untuk mempercepat pendataan wilayah terdampak bencana di Sumatera. Pendataan ini menjadi bagian dari upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Pelepasan keberangkatan dilakukan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Erwin Sugiandi serta Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi.
Sebanyak 510 mahasiswa STIS diberangkatkan menuju Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 240 mahasiswa diterbangkan menggunakan pesawat C130 Hercules TNI AU dalam dua kloter, sementara sisanya diberangkatkan menggunakan pesawat komersial.
Para mahasiswa diterjunkan dalam rangka Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam yang terintegrasi dengan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Polstat STIS Tahun 2026. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat ketersediaan data pascabencana sebagai dasar perencanaan pemulihan wilayah.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan peran data menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana. Menurutnya, pendataan yang akurat akan menentukan efektivitas kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Kegiatan bantuan kemanusiaan ini sesuai dengan keahlian mahasiswa Polstat STIS, yaitu melakukan pendataan. Hasilnya akan memperkaya statistik kebencanaan,” ujar Amalia.
Amalia menambahkan, keterlibatan mahasiswa STIS merupakan bentuk dukungan BPS terhadap arahan Presiden terkait penanganan pascabencana. BPS ditunjuk sebagai koordinator pengelolaan data dalam Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam.
“Pendataan ini merupakan wujud komitmen BPS dan Polstat STIS agar mahasiswa kedinasan dapat turun langsung dan memberi kontribusi nyata di wilayah terdampak bencana,” katanya.
Selain mahasiswa, BPS juga mengerahkan 50 pegawai BPS Pusat serta pegawai BPS kabupaten dan kota terdampak. Seluruh petugas akan bertugas sebagai enumerator lapangan bersama mahasiswa STIS.
Pendataan dilakukan melalui kunjungan rumah tangga, lokasi pengungsian, serta pencatatan kondisi rumah dan infrastruktur berbasis foto dan titik koordinat. Data tersebut akan dipadankan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, data pemerintah daerah, dan BNPB.
Hasil pendataan akan menjadi dasar satuan tugas penanganan bencana dalam menyusun langkah rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan data tersebut, penyaluran bantuan dan program pemulihan diharapkan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat.(aln)



