31 C
Semarang
Senin, 16 Maret 2026

Zakat Fitrah di Tengah Krisis, Kuatkan Self-Compassion dan Kesehatan Mental


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Zakat fitrah tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ibadah menjelang Idulfitri. Di tengah kondisi krisis ekonomi, zakat justru memiliki dampak psikologis dan sosial yang penting bagi individu maupun masyarakat.

Hal itu disampaikan dr. H. Agus Ujianto, Direktur RSI Sultan Agung Semarang, yang menilai praktik zakat di masa sulit menjadi fenomena yang tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental dan kohesi sosial.

Kandidat Doktor Studi Islam IAIN Saizu Purwokerto, dr. H. Agus Ujianto mengatakan, zakat fitrah merupakan instrumen filantropi Islam yang memiliki makna lebih luas dari sekadar kewajiban ritual.

“Zakat fitrah memang dimaknai sebagai ibadah untuk menyucikan jiwa. Namun ketika dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang sulit, praktik ini juga memiliki dimensi biopsikososial yang kuat,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Baca juga:  Mengarungi Samudera, 'Menjemput' Energi Bagi Negeri

Ia menjelaskan berbagai penelitian menunjukkan bahwa tindakan berbagi atau membantu orang lain justru memberikan efek positif bagi kesehatan mental seseorang.

“Studi dalam neurobiologi menunjukkan bahwa perilaku berbagi dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak yang memicu pelepasan dopamin, serotonin, dan oksitosin. Kondisi ini menimbulkan rasa bahagia yang dikenal sebagai helper’s high,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sedekah atau zakat mampu menurunkan tingkat stres psikologis seseorang, bahkan ketika dilakukan dalam kondisi ekonomi yang terbatas.

“Memberi di saat sempit justru menjadi mekanisme adaptif yang membantu seseorang menjaga keseimbangan psikologis dan menurunkan hormon stres dalam tubuh,” katanya.

Selain berdampak pada kesehatan mental, zakat juga dinilai mampu memperkuat self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri.

Baca juga:  Bank Jateng Dukung Pembangunan dan Kesejahteraan Pemalang

“Ketika seseorang berbagi di tengah krisis, ia sedang membangun kembali harga dirinya. Nilai diri tidak lagi diukur dari materi, tetapi dari kapasitas empati kepada orang lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, praktik zakat juga memiliki peran penting dalam menjaga solidaritas sosial, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.

“Zakat fitrah menjadi jaring pengaman sosial di tingkat akar rumput yang membantu memastikan masyarakat tetap bisa merasakan kebahagiaan saat hari raya,” tandasnya.

Menurut Agus, partisipasi kolektif masyarakat dalam zakat menunjukkan bahwa solidaritas sosial dapat tetap terjaga meskipun berada dalam situasi sulit.

“Pada akhirnya zakat fitrah bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga terapi sosial yang menjaga kesehatan mental individu sekaligus memperkuat ikatan sosial di masyarakat,” pungkasnya.(aln)



TERKINI


Rekomendasi

...

Angkat UMKM Binaan, BCA Gandeng Kemendag

PLN Kolaborasi Bareng PNG Power