APBN dan APBD Jateng Tetap Resilien, KEK Batang Jadi Motor Baru Ekonomi


JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG- Kinerja ekonomi dan fiskal Jawa Tengah hingga April 2026 menunjukkan tren positif di tengah tantangan global. Sinergi APBN dan APBD dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan strategis seperti KEK Batang.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,89 persen secara tahunan atau tertinggi di Pulau Jawa untuk pertumbuhan triwulanan. Kontribusi ekonomi Jateng terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen dengan PDRB ADHB sebesar Rp511,99 triliun.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 14,14 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh signifikan hingga 19,36 persen secara tahunan.

Inflasi Jawa Tengah pada April 2026 juga relatif terkendali di angka 2,11 persen secara tahunan atau lebih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 2,42 persen. Bahkan secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,03 persen.

Baca juga:  PLN Dukung Kelancaran Muktamar Sufi Internasional Lewat Pasokan Listrik Andal

“Hal ini menunjukkan daya tahan ekonomi Jawa Tengah masih cukup kuat di tengah meningkatnya risiko ketidakpastian global,” katanya, dalam laporan kinerja fiskal regional Jawa Tengah, Selasa (2/6/2026).

Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Tengah per Februari 2026 berhasil ditekan menjadi 4,24 persen atau lebih rendah dibanding nasional sebesar 4,74 persen. Tingkat kemiskinan juga turun menjadi 9,39 persen dengan rasio gini berada di level 0,350.

Dari sisi fiskal, pengelolaan APBN di Jawa Tengah hingga 30 April 2026 mencatat surplus sebesar Rp5,67 triliun. Pendapatan negara terealisasi Rp39,08 triliun atau tumbuh 9,36 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama dengan realisasi Rp36,28 triliun. PPN tumbuh signifikan sebesar 44,17 persen dan PPh meningkat 25,72 persen secara tahunan.

Belanja negara terealisasi Rp33,41 triliun atau 34,74 persen dari pagu. Belanja modal tumbuh sangat tinggi mencapai 163,85 persen akibat percepatan kontrak dini proyek pemerintah.

Sementara itu, kinerja APBD konsolidasi 36 pemerintah daerah di Jawa Tengah juga mencatat surplus Rp10,95 triliun. Pendapatan daerah mencapai Rp32,74 triliun sedangkan belanja terealisasi Rp21,80 triliun.

Baca juga:  SIG Raih Penghargaan BUMN Berprestasi

Kawasan Ekonomi Khusus Batang disebut menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Kawasan Industri Terpadu Batang yang memiliki total rencana lahan 4.300 hektare telah menarik 34 investor global dengan komitmen investasi mencapai Rp22 triliun.

Sampai akhir 2025, kawasan tersebut telah mempekerjakan 9.768 tenaga kerja dan ditargetkan mampu menyerap hingga 250 ribu pekerja saat beroperasi penuh. KEK Batang juga didukung pembangunan dry port seluas 30 hektare yang akan terkoneksi langsung dengan Pelabuhan Batang.

“KEK Batang diproyeksikan menjadi transformator struktural ekonomi dan tenaga kerja di Jawa Tengah,” jelasnya.

Di sektor pembiayaan UMKM, penyaluran Kredit Usaha Rakyat dan Ultra Mikro terus diperluas. Kabupaten Pati menjadi daerah dengan penyaluran KUR terbesar mencapai Rp1,08 triliun kepada 18.182 debitur, sedangkan penyaluran UMi tertinggi tercatat di Kabupaten Brebes sebesar Rp53,7 miliar untuk 9.085 debitur mikro.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...