Ekonomi Jateng Tumbuh 5,84 Persen, Investasi Jadi Motor Utama


JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Perekonomian Jawa Tengah pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,84 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 4,87 persen dan menunjukkan daya tahan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengatakan, hampir seluruh komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi menunjukkan kinerja positif. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi Jawa Tengah terus bergerak dengan fondasi yang semakin kuat.

“Setelah kondisi ekonomi kembali normal, pertumbuhan ini menjadi salah satu yang tertinggi. Yang menggembirakan, hampir semua komponen pengeluaran mengalami peningkatan,” ujarnya.

Noor menjelaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap struktur ekonomi Jawa Tengah. Pada Triwulan I 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen.


Peningkatan konsumsi didorong tingginya aktivitas masyarakat saat libur Tahun Baru, Imlek, dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri. Momentum tersebut mengerek belanja masyarakat serta menggerakkan sektor perdagangan dan jasa.

Baca juga:  Hendi Harap Masyarakat Tak Salah Artikan Isu Ekonomi Gelap 2023

Investasi menjadi faktor paling dominan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 9,61 persen, jauh di atas laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Realisasi investasi sudah bergerak tinggi sejak awal tahun dan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Jawa Tengah masih sangat baik,” katanya.

Kinerja investasi turut mendorong sektor konstruksi tumbuh 11,91 persen, tertinggi di antara seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan itu ditopang pembangunan kawasan industri, proyek infrastruktur, dan berlanjutnya sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN).

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,14 persen. Tingginya mobilitas masyarakat selama musim liburan dan hari raya menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor tersebut.

Di sisi lain, industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar ekonomi Jawa Tengah dengan pangsa 32,69 persen tetap tumbuh positif sebesar 4,04 persen. Kinerja manufaktur yang terjaga dinilai menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi daerah.

Baca juga:  Sisternet Gelar 'Festival Webinar Pintar 2022'

Ekspor Jawa Tengah juga mencatat perkembangan positif di tengah perlambatan ekonomi global. Permintaan terhadap produk asal Jawa Tengah tetap meningkat sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data di Pulau Jawa, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berada di atas rata-rata nasional. Capaian 5,84 persen hanya sedikit di bawah Jawa Timur yang tumbuh 5,96 persen dan sejajar dengan DI Yogyakarta.

Bank Indonesia menilai kondisi ekonomi Jawa Tengah masih solid dengan optimisme konsumen yang terjaga, intermediasi perbankan yang baik, serta inflasi yang terkendali. Pada Mei 2026, inflasi Jawa Tengah tercatat 2,86 persen atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional.

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi dalam mendorong investasi, memperluas pasar ekspor, mengembangkan UMKM, mempercepat digitalisasi ekonomi, serta menjaga stabilitas harga. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga Jawa Tengah sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...

Jelang Tutup Tahun, SBI Sabet 4 PROPER...

Libur Nataru Usai, Daop 4 Semarang Sukses...

Desound Garap Pasar Semarang

Ratusan Relawan Pajak Siap Layani Wajib Pajak