Ekspor Jawa Tengah Tumbuh, Impor Masih Lebih Tinggi

Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit US$320,72 Juta


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Tengah pada Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor mencapai US$1.298,00 juta, sedangkan impor sebesar US$1.618,72 juta sehingga neraca perdagangan masih mengalami defisit US$320,72 juta.

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Ali Said mengatakan nilai ekspor Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai US$1.298,00 juta atau naik 33,67 persen dibandingkan Mei 2025. Sementara itu, dibandingkan April 2026, nilai ekspor tercatat turun 4,03 persen.

“Ekspor nonmigas mencapai US$1.175,22 juta atau sekitar 90,54 persen dari total ekspor,” katanya.

Dijelaskan, ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Jawa Tengah. Kelompok pakaian dan aksesorinya (rajutan), benang filamen buatan, dan alas kaki menjadi tiga komoditas dengan nilai ekspor terbesar selama Mei 2026.


Baca juga:  PLN Bekali Siswa SMA N 8 Yogyakarta di Bulan K3 Nasional

“Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas dengan nilai US$488,31 juta atau sekitar 41,55 persen dari total ekspor nonmigas,” jelasnya.

Menurutnya, Jepang dan Tiongkok masih menjadi pasar utama produk ekspor Jawa Tengah. Ketiga negara tersebut menyerap sebagian besar hasil industri pengolahan yang diproduksi di Jawa Tengah.

“Nilai impor Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai US$1.618,72 juta, naik 29,62 persen dibandingkan Mei 2025 dan meningkat 10,78 persen dibandingkan April 2026,” ujarnya.

Dikatakan, impor nonmigas tercatat sebesar US$887,77 juta, sedangkan impor migas mencapai US$730,95 juta. Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar, disusul Singapura dan Australia.

“Perdagangan nonmigas masih mencatat surplus US$287,45 juta, sedangkan perdagangan migas mengalami defisit US$608,17 juta sehingga neraca perdagangan Jawa Tengah secara keseluruhan defisit US$320,72 juta,” ungkapnya.

Baca juga:  Dirut PLN Cek Langsung Keandalan Infrastruktur Kelistrikan di IKN

Surplus nonmigas menunjukkan produk industri Jawa Tengah masih memiliki daya saing di pasar internasional. Di sisi lain, tingginya impor migas masih menjadi faktor utama yang menekan neraca perdagangan provinsi ini.

“Data ekspor dan impor menjadi salah satu indikator penting dalam memantau perkembangan aktivitas ekonomi Jawa Tengah,” pungkasnya.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...