JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) pada Juli 2026 sebesar 2,60 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,49. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Juni 2026 yang mencapai 2,92 persen.
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said mengataka, pada Juli 2026 juga terjadi deflasi secara bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,13 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,37 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perkembangan harga di Jawa Tengah masih terkendali.
BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi di Jawa Tengah terjadi di Kota Surakarta sebesar 2,86 persen dengan IHK 111,74. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Rembang sebesar 2,23 persen dengan IHK 114,70.
“Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Juli 2026 sebesar 2,60 persen dengan IHK 111,49. Sementara secara bulanan terjadi deflasi 0,13 persen dan inflasi tahun kalender mencapai 1,37 persen,” jelas Ali Said.
Secara tahunan, kenaikan harga masih dipengaruhi sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman dan tembakau, perawatan pribadi dan jasa lainnya, pendidikan, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran. Di sisi lain, turunnya harga beberapa komoditas hortikultura membantu menahan laju inflasi pada Juli 2026.
Deflasi bulanan terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah, bawang merah, dan beberapa komoditas hortikultura lainnya. Penurunan harga tersebut mampu mengimbangi kenaikan harga pada kelompok pengeluaran lainnya.
“BPS akan terus memantau perkembangan harga melalui Indeks Harga Konsumen sebagai dasar penyusunan kebijakan pengendalian inflasi bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ali Said menambahkan, dinamika inflasi dipengaruhi perubahan harga berbagai komoditas di daerah. Karena itu, pengendalian inflasi memerlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar stabilitas harga tetap terjaga serta daya beli masyarakat tetap kuat.(aln)






