BI Dorong Pariwisata Jateng Beri Dampak Ekonomi Lebih Besar


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Bank Indonesia (BI) mendorong sektor pariwisata Jawa Tengah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan. Pengembangan pariwisata dinilai berpotensi memperluas lapangan kerja, menggerakkan UMKM, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, dalam Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa Tengah (Pusaka Jateng) 2026 di Hotel Padma Semarang, Jumat (11/9/2026). Forum tersebut mengangkat tema “Transformasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Sumber Pertumbuhan Baru yang Inklusif dan Berkelanjutan”.

Dijelaskan, perekonomian Jawa Tengah menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 5,71 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa sebesar 5,65 persen dan nasional 5,29 persen.

Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang kinerja industri, ekspor barang manufaktur, serta aktivitas ekonomi domestik. Salah satu sektor yang memiliki keterkaitan kuat dengan pariwisata adalah akomodasi serta makanan dan minuman yang dinilai mampu menyerap banyak tenaga kerja.

“Kalau kita lihat sektor akomodasi dan makanan minuman, ini merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja cukup besar dan pertumbuhannya juga relatif tinggi. Sektor ini sangat berkaitan dengan pariwisata,” ujar Noor.

Menurutnya, pengembangan pariwisata ke depan tidak dapat berdiri sendiri dan perlu terintegrasi dengan investasi, perdagangan, pertanian, industri, UMKM, ekonomi kreatif hingga ekonomi hijau. Keterhubungan antarsektor tersebut dinilai dapat menciptakan efek berganda yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

Baca juga:  Jos Pak Luthfi, Perbaikan Jalan Sambut Lebaran Sudah 95 Persen

Untuk memperkuat keterhubungan itu, BI bersama Pemprov Jawa Tengah telah membentuk Koridor Ekonomi Perdagangan Investasi dan Pariwisata Jawa Tengah (KERIS Jateng). Program tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan potensi perdagangan, investasi dan pariwisata di berbagai daerah.

“Yang kita butuhkan adalah gagasan-gagasan baru yang up to date, tetapi juga implementatif untuk pengembangan pariwisata Jawa Tengah ke depan,” katanya.

Ditambahkan, penguatan pariwisata juga membutuhkan dukungan investasi agar potensi daerah dapat dikembangkan menjadi destinasi yang lebih kompetitif. Digitalisasi destinasi, pengembangan wisata ramah muslim, serta penyelenggaraan event dinilai dapat meningkatkan daya tarik dan lama tinggal wisatawan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan Pemprov Jateng sejalan dengan dorongan BI untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kebijakan Jawa Tengah pada 2027 juga diarahkan pada pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai bagian dari penguatan pertumbuhan ekonomi.

“Jangan hanya berapa jumlah orang yang datang, berapa lama tinggal. Tapi bagaimana ekonominya. Mereka datang harus meninggalkan oleh-oleh secara ekonomi di Jawa Tengah,” ujarnya.

Ditegaskan, wisatawan yang datang diharapkan tidak hanya mengunjungi destinasi, tetapi juga berbelanja produk UMKM, menikmati kuliner lokal, menggunakan jasa masyarakat dan mengunjungi destinasi lain. Dengan demikian, manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di kawasan wisata utama.

Pengembangan wisata ramah muslim juga terus mendapat perhatian melalui penguatan ekosistem, termasuk sertifikasi halal dan pengembangan destinasi yang lebih ramah bagi wisatawan muslim. Potensi wisata Jateng juga dinilai tidak terbatas pada alam, tetapi mencakup wisata religi, budaya, desa wisata, kuliner hingga wisata industri.

Baca juga:  Kata Pemilik Warung Soal Fatwa Haram "Mesin Capit Boneka"

Sandiaga Salahuddin Uno menilai Jawa Tengah memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep quality tourism. Menurutnya, orientasi pariwisata perlu bergeser dari sekadar mengejar jumlah wisatawan menuju peningkatan kualitas pengalaman dan dampak ekonomi.

“Quality over quantity. Kita bukan hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengalaman yang berkualitas, tinggal lebih lama, belanja lebih banyak, dan kemudian kembali lagi,” katanya.

Menurut Sandiaga, kekuatan Jawa Tengah terletak pada perpaduan alam, budaya, sejarah, religi, desa wisata, kuliner, kerajinan dan ekonomi kreatif. Seluruh potensi tersebut perlu dihubungkan agar wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama sekaligus membelanjakan uangnya di Jawa Tengah.

Forum Pusaka Jateng 2026 menjadi bagian dari upaya merumuskan kebijakan ekonomi berbasis riset. Rangkaian kegiatan tersebut diawali Road to Forum Pusaka pada Maret, dilanjutkan Call for Paper dan menghasilkan 537 abstrak dari berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai tema yang dibahas meliputi transformasi pariwisata, ekonomi syariah berbasis pesantren, ekonomi kreatif berbasis desa, ekonomi hijau hingga digitalisasi pemerintah daerah. Hasil kajian dan karya terbaik forum tersebut diharapkan menjadi masukan bagi Pemprov Jawa Tengah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan yang inovatif serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (aln)


TERKINI

Rekomendasi

...