JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Pilihan pakaian dalam kehidupan masyarakat perkotaan semakin beragam seiring perubahan aktivitas dan gaya hidup. Busana tidak lagi sekadar menunjang penampilan, tetapi juga dituntut memberikan kenyamanan, praktis digunakan dan sesuai dengan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tren tersebut menjadi salah satu pendekatan industri fashion melalui konsep LifeWear yang dikembangkan UNIQLO. Perusahaan ritel pakaian asal Jepang ini memperluas keberadaannya di Kota Semarang dengan membuka toko ketiga di 23 Semarang Shopping Centre, Jumat (30/10).
Toko yang menempati area seluas 1.317 meter persegi itu berada di kawasan Semarang Barat. Kehadirannya melengkapi dua toko sebelumnya di Semarang bagian tengah dan tercatat sebagai gerai ke-85 UNIQLO di Indonesia.
Co-COO PT Fast Retailing Indonesia, Shu Nagae mengatakan, Semarang menjadi salah satu kota yang terus dikembangkan perusahaan untuk menjangkau kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kedekatan dengan pelanggan menjadi bagian penting dalam menghadirkan pakaian yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin terus mendengarkan kebutuhan pelanggan dan tumbuh bersama masyarakat Semarang dengan menghadirkan pakaian yang relevan untuk kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya.
Konsep LifeWear diterapkan melalui koleksi busana yang mengutamakan kesederhanaan desain, kualitas dan fungsi. Pilihan produknya mencakup pakaian pria, wanita, anak-anak hingga bayi, dengan kategori busana kasual, pakaian kerja, olahraga, pakaian santai, pakaian dalam dan aksesori.
Kebutuhan berpakaian yang semakin fleksibel juga tercermin dari beragam pilihan koleksi seperti flannel, denim, jeans, celana pendek hingga kaus anak. Berbagai kategori tersebut menggambarkan bagaimana satu jenis pakaian dapat digunakan untuk menunjang aktivitas yang berbeda.
Di luar aspek desain dan fungsi, perhatian terhadap aksesibilitas turut diterapkan pada fasilitas toko. Tersedia ruang ganti khusus penyandang disabilitas dengan area lebih luas, bangku dan pegangan. Fasilitas self checkout juga disediakan sebagai alternatif proses pembayaran mandiri.
Persoalan lingkungan menjadi aspek lain yang mulai mendapat perhatian dalam industri pakaian. Melalui program RE.UNIQLO Box, pelanggan dapat mendonasikan pakaian yang sudah tidak digunakan untuk dimanfaatkan kembali. Bahkan, material hasil pemanfaatan pakaian tersebut digunakan sebagai pelapis sofa dan tirai di area ruang ganti.
Inisiatif sosial juga hadir melalui koleksi PEACE FOR ALL. Program global tersebut menggunakan kaus sebagai media penyampaian pesan perdamaian, dengan keuntungan penjualan di Indonesia disalurkan melalui Save the Children Indonesia.
Dukungan tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman bagi anak melalui edukasi pencegahan kekerasan dan perundungan serta peningkatan fasilitas air, sanitasi dan kebersihan di 16 sekolah di Bandung dan Yogyakarta.
Sementara itu, perkembangan industri fashion juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan kreativitasnya. Melalui program UNIQLO Neighborhood Collaboration bertajuk #SEMARANGNEIGHBORHOOD, enam UKM lokal dilibatkan untuk menampilkan produk unggulan mereka.
Karya yang diperkenalkan meliputi kerajinan kayu, boneka berbahan wastra Indonesia, dompet dan pouch denim dengan sulaman, produk teknik quilting, batik kontemporer serta tas dan aksesori dari perca denim. Keberagaman produk tersebut memperlihatkan potensi kreativitas lokal yang dapat berkembang berdampingan dengan industri ritel modern.
Kolaborasi ini juga menjadi ruang pertemuan antara produk lokal dan konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, perkembangan industri fashion tidak hanya berkaitan dengan pilihan busana, tetapi juga menyangkut kreativitas, keberlanjutan serta keterlibatan pelaku ekonomi lokal. (aln)








