28 C
Semarang
Sabtu, 31 Januari 2026

Rupiah Borobudur Playon 2025: Dari Langkah Kaki, Menebar Literasi dan Harapan

JATENGPOS.CO.ID,  – “Dari jejak langkah yang menapak tanah Borobudur, lahirlah semangat baru untuk ekonomi lokal, generasi melek digital, dan bangsa yang lebih peduli”

MENTARI belum juga sempurna menembus kabut tipis Borobudur, saat ribuan orang berkumpul di pelataran Taman Lumbini, Minggu pagi (27/7/2025). Udara terasa hangat, tapi semangat peserta ‘Rupiah Borobudur Playon 2025’ jauh lebih menggelegak. Tak sekadar ajang lari, acara ini telah menjelma menjadi panggung kolosal pertemuan antara edukasi, budaya, teknologi, dan kepedulian sosial.

Ada 4.000 pelari dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka bukan hanya berlari mengejar garis finis. Mereka juga membawa pesan besar: mencintai rupiah, memperkuat literasi keuangan digital, mengangkat UMKM lokal, dan menyokong pembangunan desa di sekitar Borobudur.

Di balik balutan jersey warna-warni dan langkah kaki yang berderap, tersimpan tujuan yang dalam. Tahun ini, ‘Rupiah Borobudur Playon’ mengusung tema Lari untuk Berbagi. Seluruh hasil pendaftaran peserta yang mencapai total Rp612 juta, disalurkan untuk pembangunan fasilitas umum dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Magelang.

“Setiap langkah pelari punya arti. Bukan cuma olahraga, ini adalah wujud solidaritas dan edukasi,” kata Rahmat Dwisaputra, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, saat ditemui wartawan usai ikut lari kategori 10K bersama Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Sudjarwanto Dwiatmoko.

Berbagai inovasi diperkenalkan. Seluruh transaksi selama acara menggunakan sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Mulai dari beli air minum, suvenir UMKM, hingga transportasi, semua dilakukan non-tunai.

“Yang penting saldonya cukup dan sinyalnya kuat,” kelakar Rahmat, yang disambut awak media.

Baca juga:  The B Andara City, Padukan Wisata Sejarah dan Perumahan Bergaya Jepang di Kawasan Bandara Internasional Yogyakarta

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyambut hangat gelaran ini sebagai bagian dari pengembangan sport tourism. Menurut Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Sudjarwanto Dwiatmoko, sport tourism menjadi simpul pertumbuhan baru yang berdampak langsung ke UMKM, kuliner, penginapan, hingga pasar rakyat.

“Event ini bukan hanya ramai di lokasi, tapi juga menghidupkan ekonomi di sekitar. Ini bukan ekonomi elitis, tapi ekonomi rakyat,” ujarnya.

Fakta berbicara. Tahun ini jumlah peserta meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Kolaborasi lintas sektor antara Bank Indonesia, Pemprov Jateng, pelaku industri, komunitas lokal, dan pelajar, memperlihatkan potensi luar biasa bila pembangunan digerakkan bersama.

Jasirah Race 2025

Salah satu bintang di panggung Borobudur tahun ini adalah program Jasirah Race 2025, semacam “amazing race” berbasis sejarah, ekonomi, dan teknologi. Selama tiga hari, 60 peserta dari 20 tim menyusuri lima kota, Semarang, Tegal, Purwokerto, Solo, dan Yogyakarta, menggunakan kereta api, menjelajah situs bersejarah, mengenal QRIS, serta berbelanja produk lokal.

Tidak hanya membangun memori, Jasirah Race juga membukukan rekor. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahi predikat “Kunjungan Wisata Sejarah Menggunakan Kereta Api Menempuh Jarak Terpanjang”, lebih dari 600 kilometer. Penghargaan ini diterima langsung oleh Rahmat Dwisaputra.

“Kami gabungkan pengalaman sejarah, transaksi digital, dan wisata dalam satu konsep ‘gamifikasi’. Semua serba digital, tapi tetap membumi,” jelas Rahmat.

Tim Eksodus keluar sebagai Juara 1 dan membawa pulang hadiah Rp21 juta. Lebih dari uang, kenangan dan nilai-nilai edukatif yang mereka bawa pulang akan jauh lebih abadi.

Baca juga:  FKPPI Sinergi TNI - Pemerintah, Buka Lapangan Kerja dan Entaskan Kemiskinan

Dari Sekolah Dasar, Literasi Keuangan Dimulai

Di sela acara, Bank Indonesia juga meluncurkan perluasan Nota Kesepakatan dengan delapan kabupaten/kota, untuk memasukkan edukasi rupiah dan sistem pembayaran digital ke dalam kurikulum SD dan SMP. Program ini menjangkau Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Magelang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus, Kota Surakarta, Kota Tegal, dan Kabupaten Banyumas. Sebelumnya, program ini telah menyasar SMA/SMK/SLB dan SD/SMP di Kota Semarang sejak 2024.

“Semakin dini anak-anak paham soal keuangan, semakin siap mereka menghadapi era digital,” terang Rahmat.

Inovasi QRIS Tap & Crossborder

Tak berhenti pada QRIS biasa, Bank Indonesia juga mengenalkan QRIS Tap dan QRIS Crossborder di kawasan Borobudur. QRIS Tap memudahkan pembayaran hanya dengan menempelkan ponsel ke mesin NFC, sementara QRIS Crossborder memungkinkan turis mancanegara dari Thailand, Malaysia, dan Singapura untuk bertransaksi langsung dengan aplikasi asal negara mereka.

Dengan teknologi ini, pelaku wisata lokal dapat menjangkau pasar global tanpa harus keluar dari desa. Dari Borobudur untuk dunia.

Ajang ini pun ditutup dengan kemeriahan para juara. Nama-nama seperti Rikki Marthin, Isania Tarigan, Hendrik Nainggolan, hingga Tjie Mei Lie berhasil menaklukkan kategori 10K dan 5K dalam kelas open dan master.

Tapi lebih dari sekadar pemenang, semua pelari hari itu membawa pulang kemenangan masing-masing, tentang semangat, kebersamaan, dan harapan yang berlari bersama mereka.(Aning Karindra)



TERKINI

Rekomendasi

...