27 C
Semarang
Rabu, 14 Januari 2026

Uswah Hasanah KH Chafidz Sulaiman: Menjaga Amanah Orang Tua

** Kesaksian dari Santrinya (Bagian 1)

Oleh: Muhammad Afif Affan, S.HI.

(Kepala KUA di Lingkungan Kemenag Kabupaten Tuban, Pengurus Harian Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Tuban)

إنا لله وإنا إليه راجعون..

اللهم اغفرله وارحمه

وعافه واعف عنه

KITA semua Piyantun Sedayu sangat kehilangan sosok Ulama’ Kyai dan Guru serta tokoh Panutan bagi masyarakat Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah KH. Chafidz Sulaiman yang baru saja meninggalkan kita semua. Beliau banyak meninggalkan beberapa atsar (bekas) perjuangan beliau berupa keistiqomohan perilaku dalam amal kebaikan, baik sebagai Kyai, Guru, hingga sebagai tokoh masyarakat.

Beliau mempunyai banyak peran keumatan pada masyarakat Sedayulawas, sebagai Ulama’ beliau selalu memberikan pencerahan kepada ummat dalam banyak kesempatan. Sebagai Kyai beliau memberikan pengasuhan kepada para santri dengan penuh khidmat, tulus ikhlas, sabar, dan selalu istiqomah. Sebagai guru yang diberi amanat sebagai Kepala Sekolah beliau jalankan dengan tanggung jawab sebagai aparatur negara yang berkewajiban melayani masyarakat sesuai tupoksinya di bidang pendidikan dengan baik penuh dedikasi.

Sehingga banyak uswah hasanah yang bisa kita petik dari beliau (Allahu Yarhamhu) KH. Chafidz Sulaiman dalam perjalanan beliau mengemban amanat dalam melaksanakan dakwah di tengah umat dan tarbiyah pada santri, murid, serta masyarakat desa Sedayulawas yang tidak jarang penuh tantangan dan dinamika. Dalam kurun waktu ketika beliau masih berperan aktif dan tentu sesuai sepengetahuan kami selama menjadi santri beliau.

Beberapa uswah hasanah yang bisa kita teladani, kami bagi dalam beberapa kategori. Pertama, peran beliau sebagai Ulama’ dan Da’i dalam dakwah Islamiyah. Kedua, peran beliau sebagai Kyai pengasuh sebuah langgar dalam kegiatan tabiyah Islamiyah. Ketiga, peran beliau sebagai Guru yang diberi amanat sebagai Kepala Sekolah sekaligus aparatur negara dalam bidang pendidikan.

Baca juga:  Sekolah Adiwiyata Kolaborasi dengan Komunitas Maggot Kelola Sampah Organik

Salah satu hal yang bisa kita jadikan teladan dari KH. Chafidz Sulaiman adalah ketekunan dan keistiqomohan beliau ketika menjadi pengasuh langgar Al Fithroh sampai langgar ini mencapai miladnya ke 100 tahunnya atau satu abad dari masa berdirinya langgar yang dahulu diasuh oleh ayahanda beliau, yakni Kyai Sulaiman.

Jarak dari rumah beliau dengan langgar tidaklah dekat sebagaimana umumnya para pengasuh langgar di desa Sedayulawas lainnya yang umumnya rumahnya berada di samping langgar tempat mengasuh dan mengajar para santrinya. Sedangkan rumah KH Chafidz Sulaiman berada jauh dari langgar Al Fithroh yakni wilayah Sedayu Loran, ada pun langgar Al Fithroh berada di kampung Kidulan. Jaraknya sekitar satu kilometer.

Meskipun demikian KH. Chafidz selalu menjaga amanah tersebut dengan istiqomah. Beliau selalu hadir dalam kegiatan pengasuhan di langgar yang merupakan amanat dari orang tua beliau untuk meneruskan pengasuhannya.

Dalam suatu kesempatan di tahun 1980-an beliau pernah menyampaikan bahwa bisa istiqomah karena menjaga amanat dari orang tua beliau sebagai bagian dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dari dasar inilah beliau mempunyai kekuatan besar untuk menjaga amanat dengan baik dan berkelanjutan sampai beliau sakit yang menjadi halangan untuk menjalankan amanat tersebut.

Baca juga:  Mau Puasa, Anak-anak Diajari Azan Supaya Merdu Suaranya

Dalam tiap harinya beliau harus mengajar di langgar ini dua kali dalam sehari, yakni pertama waktu jam mengaji maghrib, yang kedua pada waktu jam mengaji subuh. Padahal beliau juga mempunyai kesibukan sebagai Kepala Sekolah yang juga membutuhkan waktu dan pikiran yang tidak bisa dianggap enteng dan remeh.

Sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sedayulawas II yang sekaligus PNS tentu waktu itu tidak bergaji besar seperti sekarang ini. Apalagi belum ada tunjangan profesi yang cukup lumayan untuk kesejahteraan PNS. Sehingga beliau juga membuka usaha lain seperti berkebun dan berternak. Namun demikian beliau beliau tetap selalu istiqomah menjalankan amanat sebagai pengasuh langgar Al Fithroh dengan baik serta penuh dedikasi.

Inilah salah satu uswah hasanah yang bisa kita jadikan teladan bagi kita, yakni menjalankan amanat meski dari tempat yang relatif jauh di tengah keterbatasan berupa kesibukan dan kegiatan lainnya namun beliau bisa mengatur dengan baik dan lancar tanpa ada yang sampai tidak tertangani apalagi sampai terlantar.

Sebaliknya, langgar Al Fithroh menjadi tempat favorit bagi para orang tua untuk memasrahkan putra putri nya mengaji di langgar tertua di Kidulan. Bahkan santrinya selalu banyak sampai ratusan santri. Ini sebagai bukti keistiqomohan beliau mempunyai dampak yang luar biasa hingga saat ini yang sudah menginjak satu abad kedua perjalanan langgar ini berkhidmat untuk umat. (*/bersambung)

* KH Chafidz Sulaiman adalah Ayahanda Abdul Muiz, Pemimpin Redaksi Harian Jateng Pos.


TERKINI

John Herdman Akan Bawa Garuda Terbang Tinggi

Rekomendasi

...