JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Rabu (10/6/2026) pagi, gerbang SMPN 1 Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang seperti berubah fungsi. Bukan lagi pintu masuk belajar murid, tapi gerbang pelepasan. Dari sana, 267 murid kelas IX melangkah pelan, satu per satu menuju aula halaman sekolah duduk di kursi yang tersedia, diiringi orang tua masing-masing.
Murid laki-laki berjas hitam, perempuan berkebaya warna-warni. Mereka terlihat tampan dengan setelah jas celana hitam, dan cantik dengan kebaya bermanik-manik hingga terlihat ‘manglingi’.
Tiga tahun mereka habiskan di sekolah yang jauh dari kota ini. Hari itu, mereka datang untuk menggelar pelepasan dan pulang sebagai lulusan. Acara Wasana Warsa Angkatan ke-43 SMPN 1 Bringin ini digelar meriah namun khidmat. Hadir dalam acara Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang Joko Sriyono, Sekretaris Kecamatan Bringin, Ketua Komite Sekolah, seluruh wali murid, dan tamu undangan.
Prosesi Wasana Warsa SMP Negeri 1 Bringin kian meriah dengan pertunjukan Rebana Nurul Ilmi dan Brinsa Band dari murid SMPN 1 Bringin, drama kolosal ‘Anoman Obong’ dengan pemain para murid kelas IX. Acara puncak penyematan samir kelulusan, dan penyerahan penghargaan kepada 10 besar lulusan terbaik.
Kepala Sekolah SMPN 1 Bringin, Sugito menyampaikan apresiasi atas prestasi yang dicapai para lulusan. Ia menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat kepada para lulusan yang telah berprestasi dan lulusan yang meraih nilai akademik terbaik.
“Prestasi dicatatkan anak-anak banyak sekali. Sekolah kita juara lomba atletik, tilawah, juara adza, dan juara rebana. Grup rebana Nurul Ilmi kita di tingkat lomba Kabupaten Semarang meraih juara 1 selama 7 kali berturut-turut, tingkat Jawa Tengah masuk 10 besar,” ujarnya ditemui seusai acara.
Menjaga prestasi kesenian rebana ini, lanjut Sugito, pihak sekolah akan terus mencari bibit-bibit baru siswa yang punya bakat bermain musik. Grup rebana terdiri dari vokal, gitar, bass, drum, kendang, rebana, keybord, gamelan dan biola. Di antara pemain yang bergabung tahun ini sudah lulus, yakni pemain keyboard, drum, dan pemain biola (violinis).
Menurutnya, seleksi mencari bibit-bibit baru murid melalui kegiatan perlombaan internal sekolah (class meeting). Begitu juga proses perekrutan pemain rebana diambil dari murid yang akan terlihat bakatnya saat mengikuti perlombaan.
“Proses penjaringan siswa berbakat dari class meeting sudah berjalan lama. Tiap ada anggota grup yang lulus, kita carikan talenta baru untuk menggantikan dari seleksi tersebut,” jelasnya.

Dari pantauan Jateng Pos saat acara Wasana Warsa terlihat kualitas grup rebana begitu memukai dengan penampilan pemain biola, Halena Nahdla An-Ni’ama. Gesekan senar dan dinamika irama terdengar hidup. Sayangnya, Halena tahun ini sudah lulus. Penampilannya merupakan yang terakhir, sekaligus awal SMPN 1 Bringin kehilangan pemain biola terbaik sekaligus yang pertama kali dipunya.
“Halena merupakan murid yang pertama kali sebagai pemain biola di grup rebana. Dulunya tidak ada irama biola, karena kita punya Halena, kita tambahkan irama biola menjadikan rebana lebih hidup. Halena lulus tahun ini, tentu kita akan kesulitan mencari penggantinya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemain biola memang langka, jarang siswa yang menguasai. Sedangkan siswa punya kemahiran bermain musik dari belajar sendiri, sekolah tidak mengajarkan dasar bermain musik. Ditambahkan, prestasi siswa lulusan tahun ini juga bagus-bagus, kuncinya pada pengoptimalan kualitas pembelajaran.
“Ya, kita mengoptimalkan di kualitas pembelajaran. Setiap hari Senin kita selalu mengadakan kegiatan komper (komparasi) guru dan siswa untuk mengetahui pemahaman siswa,” jelasnya.
Sosok Halena ternyata sangat menarik, bukan sekedar piawai bermain biola. Violinis ini adalah lulusan terbaik di SMPN 1 Bringin, mencatatkan nilai SKL 94,43, dan hasil TKA (Tes Kemampuan Anak) nilai 90,1. Atas prestasinya ia naik panggung berulang kali untuk menerima penghargaan dari sekolah.
Ketua Panitia Wasana Warsa, Abdul Aziz mengatakan konsep yang diusung dalam kegiatan ini fokus pada pelepasan dan pentas seni, tanpa mengurangi kesakralannya. Bagaimana acara pelepasan ini menjadi panggung kenangan sehingga bisa dikenang oleh anak-anak yang lulus, menjadi kenangan tersendiri yang tidak terlupakan.
“Prinsip ini kita telah mewarnai hidupnya di awal tinggal nanti melanjutkan untuk mengasah menjadi pribadi yang lebih baik dan berkarakter,” ujar ayah Halena ini.
Menurut Aziz, dipersiapkan tidak menguras biaya dengan memanfaatkan fasilitas yang dipunyai sekolah. Tidak mahal tidak perlu nyewa tempat, di sekolah sendiri sudah cukup. Kegiatan berjalan lancar dan sukses tidak lepas dari peran seluruh wali murid kelas IX yang mengusung bersama-sama kegiatan hingga terselenggara.
“Kita mengawali dari unsur paguyuban wali siswa di kelas IX A sampai IX H, masing-masing menunjuk 2 orang perwakilan untuk membentuk panitia. Kita polling membentuk kepanitiaan, kemudian menentukan anggaran dibutuhkan bersama-sama. Alhamdulillah dengan mengusung bersama-sama bisa terlaksana dengan baik,” pungkasnya. (muz)






