JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Kamis (30/7) sekitar pukul 11.11 WIB, sirine kereta berhenti sejenak. Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk ke Stasiun Semarang Tawang. Bukan untuk naik kereta, tapi untuk meresmikan wajah baru salah satu stasiun tertua di Indonesia tersebut. Sembari menyapa warga dan penumpang, Prabowo tak lama kemudian menekan tombol peresmian.
Pemugaran tahap pertama bangunan cagar budaya Stasiun Tawang pun resmi dimulai.
“Jadi saya, alhamdulillah, lestarikan semua stasiun. Ini juga bagian dari wisata sejarah, tapi yang paling penting, ini bagian kita sebagai sebuah bangsa untuk semua bidang kita lakukan transformasi. Indonesia harus indah, Indonesia harus asri,” kata Prabowo di hadapan para menteri dan ratusan warga yang memadati peron.
Prabowo kemudian mengenang nilai sejarah stasiun dulu biasa digunakan Presiden RI ke-1 Sukarno untuk berpergian saat menjadi pemimpin tertinggi negeri.
“Saudara-saudara, sejarah mencatat bahwa Presiden Republik Indonesia yang pertama menggunakan stasiun ini untuk berangkat ke daerah-daerah lain untuk menjalankan tugas negara di awal kemerdekaan,” tandasnya.
Pemugaran ini bukan renovasi biasa. Ini adalah upaya PT KAI mengembalikan fasad Stasiun Tawang ke bentuk aslinya, seperti saat pertama kali dirancang arsitek Belanda Sloth-Blauwboer. Bangunan bergaya kolonial itu dibangun oleh Nederlandsch-Indische Maatschappij (NISM) sejak 1911 dan diresmikan 1914.
Kini, setelah lebih dari 100 tahun, KAI Daop 4 Semarang mengambil alih tugas mengembalikan ingatan bangunan tersebut. Tahap pertama dikerjakan selama 240 hari, terhitung 5 Mei hingga 30 Desember 2025. Prosesnya tidak sembarangan.
Sebagai cagar budaya yang dilindungi PM.57/PW007/MKP/2010 dan UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, renovasi ini menggandeng ahli cagar budaya agar setiap ukiran, jendela, dan atap tetap sesuai aslinya.
“Kita ucapkan terima kasih kepada Dirut KAI yang mengambil langkah-langkah cepat tanggap,” apresiasi Prabowo kepada Dirut PT KAI Bobby Rasyidin.
Bagi Prabowo, Stasiun Tawang bukan sekadar bangunan tua. Ada memori bangsa yang tertanam di rel-relnya.
“Sejarah mencatat bahwa Presiden Republik Indonesia yang pertama menggunakan stasiun ini untuk berangkat ke daerah-daerah lain untuk menjalankan tugas negara di awal kemerdekaan,” kenangnya.
Karena itu ia meminta semua pihak menjaga stasiun ini. Pesannya, menjaga Stasiun Tawang tidak hanya menjaga satu bangunan, tapi juga menjaga identitas dan menjaga memori dan perjalanan sejarahnya.
Peresmian ini dihadiri jajaran kabinet: Mensesneg Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, Menhub Dudy Purwagandhi, Menbud Fadli Zon, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Seskab Teddy Indra Wijaya, Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono, hingga Kepala Stasiun Semarang Tawang Ismanto.
Mensesneg Prasetyo Hadi menekankan, peresmian ini wujud komitmen pemerintah ingin pelestarian dan modernisasi berjalan beriringan.
“Pemerintah terus mendorong sinergi antara pelestarian warisan sejarah dan pengembangan infrastruktur modern, agar bangunan-bangunan bersejarah seperti Stasiun Semarang Tawang dapat terus dimanfaatkan secara produktif tanpa menghilangkan nilai budaya dan sejarahnya bagi generasi mendatang,” katanya.
Bayangkan, ke depan penumpang KAI bisa selfie dengan latar fasad 1914, lalu naik kereta cepat. Tua dan baru, bertemu di satu titik. Dengan rampungnya pemugaran tahap pertama ini, KAI menargetkan seluruh kawasan Stasiun Tawang akan kembali memancarkan auranya seperti seabad lalu.
Dari Semarang, pesan Prabowo sederhana saja, membangun tidak harus melupakan. “Indonesia harus indah.” Dan keindahan itu, dimulai dari menjaga jejak-jejak yang pernah mengantar bangsa ini merdeka. (dbs/muz)





